Oleh: achoey | 11 November 2009

Buku Gratis (Hadiah yang Indah)

Buku Cukuplah AllahKini, saat kumerangkai kata yang akhirnya sahabat semua baca, di samping notebook-ku tergeletak indah dua buah buku baru yang baru saja kumiliki. Dan yang lebih indah lagi, buku ini adalah pemberian dua sahabat terbaikku. Maka tidak heran jika di balik sampulnya ada tulisan mereka, tulisan yang menambah bahagia diriku ketika menerimanya.

Pada hari senin (9 Nov 09) aku mendapatkan buku dari seorang sahabat yang biasa kusapa “adik”. Dia memberikanku sebuah buku berjudul “Meminang dalam Islam”. karya Abu uraidah M. Fauzi yang diterbitkan Pustaka Al-Kautsar. Dia memberikan buku ini dengan maksud agar aku segera meminang seseorang dalam waktu dekat ini. Ehm, benar-benar adik yang pemaksa. Terlebih judul kecil buku ini adalah “Agar Pinangan Tak Ditolak Calon Mertua”, sepertinya adikku itu punya alasan yang jelas dengan judul kecil ini. Baca Lanjutannya…

Oleh: achoey | 10 November 2009

Sebulan Mie Janda Cilodong

Mie JandaDetik menggelitik merayu menit menggenit, lantas jam pun berjalan memacu lajunya waktu. Tak terasa sebulan sudah Mie Janda Cabang Cilodong, Depok telah sebulan beroperasi. Kedai sederhana itu telah membuat mudah para pelanggan Mie Janda sekitarnya, yang terkadang jauh-jauh ke Cibinong, Bogor ternyata kedainya berjejal penuh pelanggan. Akhirnya mereka terpaksa harus beli dengan dibungkus atau bahkan rela makan di dalam mobil masing-masing.

10 Oktober 2009 Mie Janda Cilodong resmi beroperasi, selisih 19 bulan lima hari semenjak Mie Janda Cibinong muncul dibelantika dunia kuliner mie Indonesia. Mengikuti jejak kesuksesan Mie Janda Cibinong, Mie Janda Cilodong pun dengan cepat diserbu para penikmat mie, sungguh ini karunia dari Illahi Rabbi. Di hari pertama saja ternyata di luar prediksi, porsi yang telah kami persiapkan habis sebelum batas waktu biasa Mie Janda beroperasi. Hari kedua apalagi, benar-benar para pembeli berjejal, ya maklum masih masa promosi. Kapan lagi nikmatin Mie Janda dengan harga spesial ditambah mendapat merchandise yang spesial pula. Baca Lanjutannya…

Oleh: achoey | 9 November 2009

Cerdas Memanaj Pikiran

2Dua puluh insan terpilih sudah mempersiapkan dirinya. Datang sebagai gelas kosong yang siap dituang ilmu yang indah. Mereka telah mengikhlaskan waktu liburannya untuk digunakan kegiatan yang berlangsung seharian ini. Sejak jam 09.00 sampai dengan 16.00 WIB, mereka berusaha senantiasa mendapat hasil bagi perbaikan dirinya. Dan dimulai dengan membuka dan mengarahkan pikiran menjadi lebih baik, lebih positif, untuk keadaan hidup dan kehidupan yang jauh lebih baik.

Kegiatan ini berangsung kemarin. Kegiatan yang memang idealnya per sesi hanya diikuti dua puluh orang ini berjalan dengan baik. Awalnya yang berkeinginan membludak, lalu seleksi awal pun dimulai hingga yang tersisa tinggal 32 orang. Dan mungkin salah satunya berkat doa sang panitia, benar saja, yang hadir pas hari H hanya 20 orang. Ini benar-benar sesuai dengan kapasitas ideal. Baca Lanjutannya…

Oleh: achoey | 8 November 2009

Cerdas dalam Menghargai Karyawan

mie jandaDalam perjalanan kehidupan mencari (menjemput) penghidupan, kita akan dihadapkan pada beragam peran. Bisa jadi kita seorang karyawan swasta, karyawan negara (PNS), pengusaha, atau bekerja mandiri tanpa memiliki bos dan tanpa memiliki bawahan. Ini semua adalah peran mulia ketika kita bekerja di bidang yang baik (halal) dengan cara yang baik. Ukurannya terletak pada sebagus apa kinerja kita dan sepandai apa kita mensyukuri hasil yang kita peroleh. Memposisikan diri dengan cerdas dan ikhlas sehingga kiprah kita di jalan penjemputan rejeki ini menjadi  benar-benar pantas. Lalu, harmoni pun terbangun indah.

Ketika kita mendapati posisi sebagai seseorang yang di amanahi Allah untuk memiliki sebuah unit usaha dan kita memiliki karyawan, maka kita harus memainkan peran ini dengan sempurna. Peran sebagai bos atau atasan adalah peran yang kan menjadi berkah ketka kita mampu menghargai karyawan. Ketahulilah, bahwa karyawan adalah sahabat kita, mereka yang membantu kita untuk mampu membuat perusahaan senantiasa maju dan lebih baik. Baca Lanjutannya…

Oleh: achoey | 7 November 2009

Mereka Kira Surat Cinta

Dara Mie JandaSahabat-sahabatku di kedai riuh ramai saat ku datang lewat  jam delapan tadi malam. Dan itu semakin menjadi saat kutanyakan apakah ada titipan untukku. Beberapa diantara mereka semakin senang menggoda, dan aku tahu apa maksudnya, kenapa mereka berprilaku seperti itu padaku. Lalu aku pun tersenyum melihat tingkah mereka. Hehehe, mereka telah salah kira.

Selembar amplop kini telah berpindah ke tanganku. Amplop inilah yang menjadi pengundang canda dan kata goda. Ehm, sebenarnya kalau hanya amplop mungkin tidak masalah, tapi yang membuat sahabat-sahabatku curiga tatkala yang menyerahkan amplop tersebut adalah seorang dara jelita. Mereka lantas mengira amplop tersebut berisi surat cinta. Waduh, hari gini masih ada surat cinta. Sambil melirik ke ponsel yang terjaga siap sedia. SMS aja kali, hehehe. Baca Lanjutannya…

Oleh: achoey | 6 November 2009

Menjadi Wirausahawan

Adalah hal yang patut disyukuri ketika kita telah memiliki karyawan dalam menjalankan usaha kita. Bukan karena kini kita telah menjadi bos, melainkan karena kini kita telah mampu menciptakan lapangan pekerjaan, tak hanya untuk kita tapi juga untuk orang lain. Dan semoga usaha yang kita bangun adalah jalan keberkahan tak hanya untuk diri kita.

Jalan wirausaha bukanlah jalan yang mudah bagi jiwa-jiwa yang gampang berkeluh kesah. Jalan wirausaha adalah jalan istimewa bagi jiwa-jiwa yang gigih dan pantang menyerah. Maka tak harus semua manusia di bumi ini menjadi wirausahawan, toh jalan hidup masing-masing sudah sewajarnya berbeda. Biarlah jiwa yang memilih, dan kesungguhan menjadi pengukurnya. Apakah akan berlanjut dan meraih kesuksesan, atau berhenti dan terpental di tengah jalan. Baca Lanjutannya…

Oleh: achoey | 5 November 2009

Air Terjun Harapan

Gemericik air terjun tak henti menabuh irama memecah sunyi. Seolah tak bosan tuk mengingatkan bahwa kehidupan kan lebih terasa mudah jika dibiarkan mengalir seperti air. Tapi bukanlah Ali jika dia dengan mudah menerima kesepahaman khalayak. Dia punya tataran tersendiri. Baginya hidup janganlah seperti air mengalir. Terlalu pasrah pada kondisi yang ada. Lihatlah, ketika air sudah terjebak ke daratan terendah, dia tidak bisa lagi mampu ke tujuannya semula, samudera. Yang ada, lama-lama air itu terserap tanah dan sebagian lagi musnah menguap karena sinar mentari. Ali tidak ingin seperti itu, baginya hidup adalah sesuatu yang menuntut kesungguhan dalam setiap episodenya.

Di sini Ali menyendiri. Ponselnya di non aktifkan. Sengaja dia memposisikan dirinya jauh dari air terjun di mana banyak orang yang dengan riangnya bermain air. Ali tak butuh sentuhan sejuk air pegunungan itu, yang Ali butuhkan adalah kesegaran hutan yang dengan mudah dia jumpai di kampung halaman. Ini bukan hanya soal kerinduan, tapi ini soal betapa kuatnya hijau alam dalam menyegarkan pikirannya. Dan Ali butuh itu sekarang. Baca Lanjutannya…

Oleh: achoey | 4 November 2009

Puisi Cinta yang Mempesona

SMS itu telah dibacanya. Dia tersenyum, lalu dia pun menelepon pengirim SMS tadi. Berawal dari ucapan permohonan tuk saling memaafkan hingga akhirnya terkuak sebuah kenangan.

“Dik, buat A, kakakmu itu adalah salah satu sosok terbaik dalam hidup A. Dia wanita yang sabar dan rendah hati. Kecantikannya tak lantas membuatnya melenakan diri dalam keangkuhan. Tak pernah pula kekayaan orang tua kalian menjadikannya manja, bahkan dia tumbuh menjadi sosok yang mandiri. Menjadi sosok yang bersinar terang. Dia adalah intan permata, dia istimewa.”

“A, dia bisa menjadi lebih baik dari semula juga karena A.”

“Tidak dik, A hanya menjadi bagian biasa saja dari penggalan perjalanan hidupnya. Justru A yang mendapatkan banyak pelajaran dari kakakmu itu. Pelajaran tentang kecantikan fisik dan hati adalah kombinasi yang terindah. Kombinasi istimewa, harapan dari setiap lelaki yang berharap kesempurnaan, dan ini langka. Hanya lelaki bodoh saja yang rela melepaskannya.” Baca Lanjutannya…

Oleh: achoey | 3 November 2009

Menjadikan Rumah Tangga Tanpa Pertengkaran

Aku dan beliau kini duduk bersila. Telah kukosongkan gelasku tuk menerima kucuran ilmu darinya. Dan mulailah kisah hidup penuh hikmah itu terangkai indah, aku menyimak. Aku tak mau rugi, aku harus dapat pelajaran darinya, dari lelaki yang tampak muda dan ternyata telah cukup usia. Lelaki yang kuperhatikan selama ini senantiasa terkesan tanpa beban.

Ternyata lelaki ini usianya tak muda lagi. Bahkan satu dari dua anak beliau kini tercatat sebagai seorang mahasiswa di sebuah Perguruan Tinggi di Jakarta, buah pernikahannya yang telah berusia sekitar sembilan belas tahun itu. Jelas ini membuatku kaget, karena dari wajahnya, tak bisa kuungkap telah sedewasa itu usianya. Baca Lanjutannya…

Oleh: achoey | 2 November 2009

Setelah Menahan Candu

Masih tergambar keceriaan beberapa sahabat yang menghadiri pesta blogger beberapa hari yang lalu. Kegembiraan mereka karena bisa bersua dengan banyak sahabat lainnya. Sahabat yang memang tak asing di dunia maya, terlebih mengenal kata-kata yang menghiasi blognya. Di sana mereka bisa bertatap muka, saling menyapa lewat kata yang bersuara. Lalu bagaimana dengan aku, di mana aku saat itu.

Beberapa sahabat bertanya, apakah ku kan datang ke pesta itu. Lalu aku menjawabnya, tidak. Padahal tiket gratis menghampiri. Tentunya ketidak hadiranku bukan tanpa alasan. Disamping ada pekerjaan, juga aku merasa di bulan yang lalu aku hanyalah sosok blogger abangan. Bagaimana tidak, di bulan Oktober tak ada satu artikel pun yang kuterbitkan di blog sederhana ini. Jangankan menerbitkan postingan, membalas sapa sahabat pun tak disempatkan. Tertunduk malu diri ini, ketika masih saja ada yang berkunjung dan menyapa blog sederhana ini. Baca Lanjutannya…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori