Kini, saat kumerangkai kata yang akhirnya sahabat semua baca, di samping notebook-ku tergeletak indah dua buah buku baru yang baru saja kumiliki. Dan yang lebih indah lagi, buku ini adalah pemberian dua sahabat terbaikku. Maka tidak heran jika di balik sampulnya ada tulisan mereka, tulisan yang menambah bahagia diriku ketika menerimanya.
Pada hari senin (9 Nov 09) aku mendapatkan buku dari seorang sahabat yang biasa kusapa “adik”. Dia memberikanku sebuah buku berjudul “Meminang dalam Islam”. karya Abu uraidah M. Fauzi yang diterbitkan Pustaka Al-Kautsar. Dia memberikan buku ini dengan maksud agar aku segera meminang seseorang dalam waktu dekat ini. Ehm, benar-benar adik yang pemaksa. Terlebih judul kecil buku ini adalah “Agar Pinangan Tak Ditolak Calon Mertua”, sepertinya adikku itu punya alasan yang jelas dengan judul kecil ini. Baca Lanjutannya…
Detik menggelitik merayu menit menggenit, lantas jam pun berjalan memacu lajunya waktu. Tak terasa sebulan sudah
Dua puluh insan terpilih sudah mempersiapkan dirinya. Datang sebagai gelas kosong yang siap dituang ilmu yang indah. Mereka telah mengikhlaskan waktu liburannya untuk digunakan kegiatan yang berlangsung seharian ini. Sejak jam 09.00 sampai dengan 16.00 WIB, mereka berusaha senantiasa mendapat hasil bagi perbaikan dirinya. Dan dimulai dengan membuka dan mengarahkan pikiran menjadi lebih baik, lebih positif, untuk keadaan hidup dan kehidupan yang jauh lebih baik.
Dalam perjalanan kehidupan mencari (menjemput) penghidupan, kita akan dihadapkan pada beragam peran. Bisa jadi kita seorang karyawan swasta, karyawan negara (PNS), pengusaha, atau bekerja mandiri tanpa memiliki bos dan tanpa memiliki bawahan. Ini semua adalah peran mulia ketika kita bekerja di bidang yang baik (halal) dengan cara yang baik. Ukurannya terletak pada sebagus apa kinerja kita dan sepandai apa kita mensyukuri hasil yang kita peroleh. Memposisikan diri dengan cerdas dan ikhlas sehingga kiprah kita di jalan penjemputan rejeki ini menjadi benar-benar pantas. Lalu, harmoni pun terbangun indah.
Sahabat-sahabatku di kedai riuh ramai saat ku datang lewat jam delapan tadi malam. Dan itu semakin menjadi saat kutanyakan apakah ada titipan untukku. Beberapa diantara mereka semakin senang menggoda, dan aku tahu apa maksudnya, kenapa mereka berprilaku seperti itu padaku. Lalu aku pun tersenyum melihat tingkah mereka. Hehehe, mereka telah salah kira.



