Dalam kesendirian, nun jauh dari hangatnya sentuhan kasih sayang, tentunya ada kesedihan yang manusiawi. Kesedihan yang tak akan lama bertahan, seiring kesadaran bahwa hidup adalah perjuangan. Dan penggalan perjalanan, semestinya dihiasi dengan beragam peran, tak sekedar pengaktualisasian.
Jauh dari tanah kelahiran, hati tetap tertautkan. Bukan karena satu alasan, tapi beragam alasan yang mempu menawan hati dalam kerinduan. Kerinduan yang membangun kepribadian, bahwa sesukses apa pun pada diri, tanah kelahiran tak boleh dilupakan.
Ehm, hari ini tak kan kau jumpai aku di kota hujan. Karena aku sedang dalam perjalanan, menuju kampung halaman, tanah dimana aku dibesarkan dalam harapan.
Tanah merah yang sumringah saat basah, di kala rintik hujan berjatuhan menabuh irama yang harmoni. Hijau tumbuhan meneduhkan, rerumputan menyegarkan. Terlebih saat warna-warni bunga menggairahkan pandangan, dan buah-buahan menanti sentuhan tangan. Semuanya telah menanti, hentakkan pijakan kaki yang pasti mereka mengerti.
Duhai sahabat, kutitipkan penggalan-penggalan tulisan pada kalian. Bacalah jikalau kau rindukan sosok sederhana ini. Dan aku kan tetap tersenyum untuk kalian, di sana di kampung halaman.
Sahabat, maaf jika tak ada sapa dariku untuk beberapa hari ke depan. Semoga segera kita mampu kembali memadu senyuman. Namun, tetap kan kalian jumpai tulisan baru setiap hari. Semoga.





