Kisah Sang Ibu yang Memilih Menyendiri


Sebuah perkampungan di Kabupaten Pemalang ini masih tampak gelap, waktu baru menunjukkan saatnya subuh tiba. Tak perlu melihat jam, karena adzan masih terdengar berkumandang di masjid dan mushola. Di depanku tampak berdiri tegak sebuah rumah sederhana yang menyiratkan banyak cerita. Paling tidak itulah yang bisa aku pastikan dari wajah sahabatku yang masih mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Tapi ada sesuatu hal yang membuat kami heran, yakni rumah ini tak berhiasaskan lampu penerang. Dan setelah kami bersua sang empunya rumah, didapatlah jawaban bahwa rumah ini telah gelap gulita selama tiga hari. Aliran listrik di rumah ini mati, dan pihak PLN belum memperbaikinya.

Perempuan yang mengaku telah berusia 55 tahun itu adalah Ibu sahabatku. Ini bukan kali pertama aku dan sang Ibu bertemu. Sudah berulang kali, tapi bukan di sini melainkan di Bogor sana. Setiap kali aku berbincang dengannya, senantiasa terpancar keramahannya. Beliau adalah sosok yang berwajah ceria, meski menyimpan beribu luka di dada. Tak kan kutemukan gurat luka jikalau dia tidak terbuka dan bercerita tentang masa-masa lalunya. Perempuan ini adalah perempuan biasa, namun keadaan telah membuatnya menjadi luar biasa.

Tak kan kuceritakan detail di sini mengenai luka hatinya. Cukup kukatakan bahwa saat anak-anaknya masih kecil, dia ditinggalkan suaminya yang terpikat oleh perempuan lain. Lelaki yang selama ini mencintainya pun beralih hati. Dan dia tak mau dibagi hingga akhirnya malah bagian untuknya pun hilang sudah. Dari sinilah kisah harmonis yang terangkai indah pun musnah. Jakarta sudah memang selayaknya ditinggalkan dan kembali ke kampung halaman di Pemalang. Merangkai perjuangan untuk membesarkan dan menghidupi anak-anaknya.

Kini, anak-anaknya telah dewasa. Semuanya telah menikah dan merantau ke kota. Tak ada satu pun yang menetap di kampung halamannya. Bagi mereka kota lebih baik dilihat dari sudut pandang memungkinkannya lebih mudah menjemput nafkah. Sang ibu kini sendiri menempati rumah sederhana itu. Bukanlah soal baginya, karena di usianya saat ini pun beliau tetap produktif sebagai juru masak, dan karena kamampuannya itulah beliau mampu mandiri.

Keadaan rumah yang gelap gulita bahkan kabarnya telah berlangsung tiga hari ini, membuatku gerimis di hati. Meski pun sanak saudaranya banyak bahkan ada yang rumahnya bersebelahan, tapi terkesan tak ada yang peduli. Ketidakpedulian mereka memang sudah dibenarkan oleh sang anak, persaudaraan yang menyedihkan. Tapi ada nilai positifnya, sang ibu benar-benar menjadi sosok yan mandiri, tidak bergantung pada sosok-sosok yang lain.

Pagi itu kembali kurayu sang ibu agar bersedia tinggal di rumah sang anak. Dan apa yang kudapat. Sang ibu menolak. Beliau bercerita tentang begitu banyak waktu yang telah ia habiskan di kota. Dan di masa tuanya dia ingin menetap di kampung halaman. Ia ingin meninggal dan dikuburkan di sini. Soal ia di kampung hidup sendirian bukanlah masalah. Baginya meski tinggal bersama anak-anaknya di kota pun toh tak akan ada diantara mereka yang mampu menahan agar malaikat tak mengambil nyawanya jika waktunya tiba. Apa bedanya dengan ketika ia tinggal dan hidup menyendiri. Baginya, cukup Allah pelindungnya. Menjalani hidup seperti ini toh tidak membuatnya kehilangan kebahagiaan. Ah, aku menyerah. Pantas jikalau sang anak pun sudah menyerah untuk membawa sang ibu bersamanya.

Aku, selalu menaruh hati pada sosok-sosok ibu. Tentu saja bukan pada sosok-sosok ibu yang tanpa hati, bermandi glamaour dan tak mampu menjadi istri berbakti dan ibu yang mengajarkan budi pekerti. Aku menaruh hati pada sosok-sosok ibu yang dari sorot matanya terpancar ketulusan cinta, dari wajahnya tergambar keteduhan hati, dari tutur katanya terungkap kebijakan indah nyaris tak bertepi, dan dari perilakunya terpancar keluhuran budi pekerti.

Aku sangat menghargai para ibu, karena aku merasa, aku tak kan jadi apa-apa tanpa kasih sayang sosok seorang ibu. Duhai para ibu, salam ta’jim dariku.

 

Tentang achoey el haris

Seorang lelaki sahaja yang gemar menulis. Dan blog baginya adalah media untuk menyalurkan kegemarannya itu. Salah satu pendiri Komunitas Blogger Kota dan Kabupaten Bogor (BLOGOR). Pengasuh Pojok Puisi. Anggota Komunitas Menulis Bogor (KMB) dan Kopi Sastra.
Pos ini dipublikasikan di Sepenggal Kisah dan tag , . Tandai permalink.

45 Balasan ke Kisah Sang Ibu yang Memilih Menyendiri

  1. Prima berkata:

    Orang semakin tua memang semakin arif dan bijaksana memandang kehidupan… tidak mau merepotkan orang lain, ingin menikmati saat terakhir dengan rasa damai dan perenungan…🙂 salam kang

  2. Ann berkata:

    Salah satu ibu tauladan, yang tidak mau membebani orang meski anak sendiri. Semoga kita tidak pernah lupa menyebut nama mereka dalam doa kita.

  3. TuSuda berkata:

    sosok ibu yg sabar, tegar, tabah, patut jadi panutan..

  4. hudaesce berkata:

    itulah sebagai salah satu bukti bahwa cinta kasih seorang ibu tu tulus ikhlas tanpa noda, yang tak mau merepotkan siapapun termasuk sang anaknya sendiri.

  5. Fir'aun NgebLoG berkata:

    ini adalah sosok wanita yang patut diteladani kemandiriannya!

    artikel yg mantab sob😀

  6. bundadontworry berkata:

    bisakah aku nanti seperti si ibu ini?
    yang begitu bijak menjalani kehidupan ……
    salam

  7. melly berkata:

    Seperti ibuku, beliau gak mau aku ajak hidup di Bogor😦

  8. fachri berkata:

    Ibu, aku kangen…

  9. elmoudy berkata:

    menyentuh sekali sob kisahnya… jadi berpikir, tentang betapa beratnya hidup yang harus dijalani oleh si ibu…karena harus ditinggal suami..

    jangan sampai itu terjadi…dan biarkan semua berbahagia… dan tersenyum sampai akhir hayat 🙂

  10. baguštejo berkata:

    cinta ibu sungguh menyentuh…😥

  11. Asepsaiba berkata:

    Sungguh, sosk seorang Ibu yang sangat kuat dan tegar.. Semoga rahmat Allah selalu tercurah padanya dan pada ibu-ibu yang lain yang tulus ikhlas mengadbi sebagai seorang ‘ibu’..

  12. NURA berkata:

    salam sobat
    kisah menarik dan patut diteadani
    saya jadi teringat Ibu di Yogya.

  13. syamsul rijal berkata:

    surga di bawah telapak kaki ibu , berbaktilah kepada orang tua …..

  14. multibrand berkata:

    Kisah yang mengingatkan pada ibu dan ayah saya yang selalu memilih untuk tinggal dirumah sendiri, tidak pernah mau menginap lebih dari satu hari dirumah anak-anaknya.

  15. Andina berkata:

    sosok ibu yang tegar menghadapi cobaan, semoga selalu dalam lindungan Tuhan.

  16. Pendar Bintang berkata:

    Sore AA….

    Adik baru bisa bertandang karena kesibukan, adik harap kakak selalu baik dan dalam lindungan-Nya.

    Adik sangat menyayangi Bunda A, kalaupun adik bekerja keras demi mimpi2 adik sebenarnya semata-mata demi Bunda, karena beliau adalah kekuatan di dunia adik selamai ini….

    Sering kali menangis jika merindukannya…

    Salam buat teteh di rumah, semoga cepat sembuh…

  17. dhedhi berkata:

    love u mom🙂
    luar biasa,,, jasa seorang ibu emang ga akan bisa dibales… luar biasa!

  18. ibnu berkata:

    iya terkadang anak tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan orang tua, dulu waktu SD kita dilarang begini begitu, setelah beranjak dewasa kita tahu bahwa ada kasih sayang dibalik larangan itu

  19. indobrad berkata:

    senang sekaligus trenyuh membaca kisah ibu ini.

  20. advertiyha berkata:

    Ibu, selalu menjadi teladan bagi anak-anaknya…
    alangkah bahagianya memiliki ibu yang kuat, tegar dan sabar seperti ibu ini, semoga diberkahi oleh Allah SWT… amin,,

  21. putihtua berkata:

    “Always Love you mom…”

  22. dira berkata:

    Nice posting, cerita tentang ibu memang akan sangat merenyuh siapa pun, karena setiap kita yang hidup di dunia ini, pasti pernah mengenyam sentuhan lembut cinta kasihnya yg tak terkira.. karena itu Nabi mengatakan, ibu, ibu, ibu lalu bapak…

  23. Nisa berkata:

    ibu, sang arsitek peradaban..

  24. Ping balik: Kisah Sang Ibu yang Memilih Menyendiri « Catatan Cinta Sahaja - Website Kumpulan Dongeng

  25. ummurizka berkata:

    Seorang ibu memang menakjubkan..dan biasanya mereka tidak mau merepotkan anak2nya dan lebih senang tinggal dirumahnya sendiri..namun demikian sebagai anak2 tetap harus memperhatikan dan berbirul walidain kepadanya…

  26. Invincible Tetik berkata:

    Sosok Ibu yang sangat kuat,membesarkan anak yang sukses >_<
    Tetik juga pengen jadi Ibu🙂

  27. Assalaamu’alaikum nanda Achoey…

    Subhanallah…. tulisan di atas telah membuat hati saya terharu dan mengundang airmata yang tak tertahan alirnya. Sungguh menyentuh hati dan dapat merasai pahit getir yang dilalui. Sungguh, sang ibu adalah insan yang berhati waja serta sanggup mengorban diri demi anak-anak walau suaminya berpaling arah. tiada cinta yang luhur di muka bumi ini melainkan cinta sang Ibu.

    Dia betah menahan luka lara di dada. Dia membiarkan hatinya dihiris sembilu tatkala anak2nya menjauh mencari kehidupan diri. Dulu hidupnya penuh ceria dikelilingi tawa ria anak2, tapi apabila menjelang senja, kehidupannya sungguh sunyi merindui masa lalu.

    Semoga kita selalu menghargai dan berbakti kepada ibu kita.
    Ah… saya jadi rindu sama bunda saya.

    Salam mesra dari saya di sarikei, Sarawak.😀

  28. Bacelzone berkata:

    Ibu adalah malaikat pendamping di dunia ini…🙂 Jagalah ibumu seperti dia menjagamu dikala lemah. :’)

  29. Darin berkata:

    Mother, how are you today?
    Sungguh besar pengorbanan para ibu. Sesuatu yang jadi penyemangat di kala kita terpuruk..

    Salam ta’jim juga untuk para ibu di seluruh dunia🙂

  30. alief berkata:

    kakek buyutku dulu, semasa hidupnya juga gak mau meninggalkan rumahnya, walau beliau hanya tinggal dengan istrinya yang juga sudah renta.pernah beberapa kali beliau diajak untuk tinggal dirumah anaknya, tapi saat sang anak sedang sibuk dan tak mungkin mengawasi, beliau memilih untuk jalan kaki sampai 5km berjalan kaki pulang ke rumahnya lagi.

  31. M A Vip berkata:

    oh ibu, maafkan anakmu ini yang tak sesuai keinginanmu

  32. mamah Aline berkata:

    betul betul tersentuh membaca kisah ini, ada juga ibu yang tidak ingin merepotkan andak-anak sementara hidupnya sederhana dan waktu mudanya dihabsikan untuk membesarkan dan mendidik anak sebagai single parent. Apalagi soal aliran listrik yang putus tiga hari itu… apakah anak-anak tak pernah mengecek tiap bulannya ya

  33. kezedot berkata:

    selalu suka apapun yg akang buat
    salam dari blue,kang
    salam persahabatan

  34. tonykoes berkata:

    Ribuan Kilo Jalan yang kau tempuh, Lewati rintang untuk aku anakmu.. Mungkin lagu dari Bang Iwan Falz cocok kupersembahkan buat ibu yang ini… Salam Kenal

  35. Kedai Obat berkata:

    makasih sebelumnya sdh mau berteman dgn saya, btw link CUCU HARIS, sdh saya tautkan di footer blog posisinya mas, trims banyak nya ya mas..

    regards,

  36. mylitleusagi berkata:

    Malem AA
    Yup bener banget bunda adalah malaikat yang dikirim ALLAH ke bumi
    Nenek saya juga memilih untuk sendiri di hari tuanya
    Tinggal dan bersahabat dengan alam
    Waktu kita tanya kenapa gak mau pindah ke kota,, jawabnya cuma satu
    “Dia ingin menghabiskan masa tuanya,, dirumah yang dibangun oleh kakek,, dia ingin menjaga rumah itu,, bersahabat dengan alam”

  37. Kakaakin berkata:

    Mengapa bukan anaknya saja yang balik ke kampung untuk menemani sang ibu ya?🙄

  38. Goda-Gado berkata:

    semoga tempat ibu di Surga-Nya
    bersama dengan para bidadara
    amiiin

    luar biasa
    Ibu Luar Biasa

  39. ysalma berkata:

    masih belajar menjadi seorang ibu,,
    dan berharap bisa sebijak ibu ini dalam menyikapi kehidupan..

  40. septarius berkata:

    ..
    cerita yang inspiratif kang..
    begitu banyak pengorbanan seorang Ibu demi kebahagiaan anaknya..
    jangan sampek deh jadi anak durhaka..
    bisa kualat ntar..🙂
    ..

  41. dedekusn berkata:

    Ibu yang luar biasa…,
    walau turut prihatin dengan ketidakpeduian sanak saudaranya.

  42. Devis berkata:

    Semoga ibu itu tetap diberi ketabahan & anak2nya bisa lebih peduli pada ibu tsb.
    Salam hangat

  43. Arashi Kensho berkata:

    wah kasian klo sendirian.. Temenin dunk bro.!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s