Ketika Tak Mampu Berpikir Jernih


Kamar tidur itu terasa sumpek baginya. Namun masih dia pilih sebagai tempat paling strategis untu menyendiri. Kamar ini adalah ruang privasi, dimana dinding-dinding pun telah patuh untuk tidak membocorkan segala rahasia yang tertumpah dari gumamnya.

Dihempaskannya tubuh lusuh itu pada tempat tidur yang terbujur kaku. Ditatapnya langit-langit, namun pikirannya jauh melayang menembus langit-langit nyaris menyentuh langit. Uang SPP yang hilang itu benar-benar membuatnya gelisah berkepanjangan. Apa yang harus dia lakukan untuk membuat uang itu kembali. Meminta bantuan paranormal sudah dilakukannya, namun sang paranormal hanya menyuruh dia untuk tenang dan memastikan uang pasti kembali. Kini telah tiga hari, dan uang itu tak kunjung datang kembali menghampirinya. Dibayangkannya wajah galak ibunya yang cerewet tiada duanya. Dibayangkannya wajah seram ayahnya yang seringkali melakukan tindakan fisik padanya jika dia salah. Anak lelaki harus dididik keras, ungkap ayahnya. Ehm, inilah nasib Oon.

Dering ponsel memecah kesunyian, mengagetkan dirinya yang tengah terlelap dalam lamunan. Diangkatnya segera, lalu kemudian terdengarlah suara perempuan yang sedang menangis terisak-isak.

“Yank, aku ….” Isak tangisnya membuat gadis itu terbata-bata.

“Aku apa? Tanya Oon penuh kepenasaranan. Gadis di ujung telepon malah meningkatkan volume tangisannya. Menjatuhkan berkubik-kubik air mata membasahi wajah dan sekujur tubuhnya.

“Kamu kenapa kok nangis sederas ini?” Oon kembali bertanya.

“Aku, aku hamil.” Jawab si gadis dengan terbata.

Oon kaget dan benar-benar shock. Ponsel pun terjatuh dari genggamannya. Memantul menimpa kasur untungnya. Bebannya kini bertambah. Menangis pun tak cukup untuk mewakili kegoncangan jiwanya. Dia pun ambruk. Oon merasa dia sudah tak kuat lagi. Di benaknya hanya ada satu jalan keluar yang paling memungkinkan. Bunuh diri, ya membunuh dirinya sendiri. Ditatapnya satu persatu benda yang memungkinkannya untuk melancarkan niat itu. Sampai tatapannya berhenti pada dua buah batu baterai besar yang terbujur kaku karena telah tak terpakai lagi.

Glek, dengan susah payah dua buah batu baterai itu dia telan dengan bantuan dorongan tangan. Matanya melotot hampir copot kesakitan. Dering suara SMS masuk masih bisa dia dengar. Ada dua pesan masuk dan tampak di layar ponselnya.

SMS pertama dari Haris, teman satu kelasnya.

“On, gw baru ngeh jaket lu ketinggalan di rumah gw. Pas gw raba-raba ada uangnya banyak. Uang buat SPP ya?”

SMS kedua dari gadis tanpa nama.

“Maaf tadi salah sambung. Maaf ya.”

Berlinang air mata Oon. Saat dia tersadar yang telah dia lakukan adalah salah. Selalu panik dan tidak berpikir jernih. Hingga masalah kecil menjadi besar, memunculkan masalah lainnya. Teringat tiga hari yang lalu dia memang main di rumah Haris, dan salahnya dia tidak langsung bayarkan uang SPP yang dia terima dari ibunya. Malah dibawa kemana-mana, jadinya lupa deh kalau uang itu memang disimpannya di saku jaketnya.

Dan tentang gadis salah sambung itu, dia pun kecewa. Kenapa dia tidak berpikir jernih kalau selama ini dia tidak pernah berhubungan badan dengan perempuan, tak pernah sedikit pun. Tapi nasi sudah menjadi bubur, batu baterai telah menahan laju suaranya. Dia tak bisa lagi berkata, bahkan nafas pun mulai tiada. Yang ada hanyalah penyesalan.

Tentang achoey el haris

Seorang lelaki sahaja yang gemar menulis. Dan blog baginya adalah media untuk menyalurkan kegemarannya itu. Salah satu pendiri Komunitas Blogger Kota dan Kabupaten Bogor (BLOGOR). Pengasuh Pojok Puisi. Anggota Komunitas Menulis Bogor (KMB) dan Kopi Sastra.
Pos ini dipublikasikan di Hikmah dan Motivasi, Kreasi Fiksi dan tag , , . Tandai permalink.

46 Balasan ke Ketika Tak Mampu Berpikir Jernih

  1. zee berkata:

    Hahahhaaaa….
    Duh, tadinya mau sedih, tapi begitu tahu endingnya malah jadi ngakak.
    Duh Oon, Oon… tak percuma namamu Oon ya. Yang paling parah sih soal cewek hamil itu…. masa iya dia gak mengenali suara pacarnya sendiri sampai gak sadar klo itu salsam. Ah namanya saja Oon… =))

  2. ysalma berkata:

    sama kayak koment diatas,, awalnya serius,, tahu endingnya, ngakak juga..😀
    begitulah kita, kadang kalut/marah dulu baru mikir belakangan,, hasilnya nyesel…😛

  3. TuSuda berkata:

    iya Kang kalau panik pasti kelabakan , makanya perlu berpikir jernih dalam setiap seituasi, apalagi ada cerita unik disini..
    SALAM dari KEndari… 8)

  4. Charles berkata:

    Nice story and message… Semoga kita ga nyesel seperti gadis itu yah. Salam kenal mas…😀

  5. Vulkanis berkata:

    Rada rudet nih penafsirannya buat Akng,,btw sip deh

  6. farus berkata:

    sedih banget tp ujungnya kecewa dan lupa,, maklum namanya manusia…
    tetep semngat sobat….salam KBM

  7. Bali Property berkata:

    tuh cerita beneran apa kagak?
    terus gmn nasip si onn yangnelen batu batere tuh? jadi penasaran.
    mempunyai masalah seperti itu memang sangatlah berat di kepala kita, tapi seharusnya tidak boleh berpikir pendek, tetep berfikir positif, kalo semua masalah pasti akan terselesaikan!
    Bali Villas Bali Villa Villas in Bali

  8. advertiyha berkata:

    hahahhahaha…..
    kebanyakan nonton sinetron nih si Oon..🙂
    tapi kang, kalo nelen batu batre bukannya malah energinya nambah? hahhaha….
    keren nih cerpen.. *jempol duwa*

  9. omiyan berkata:

    hahahahaha persis sapertos abdi kang, kadang masalah can jelas tapi sok reuwas tiheula….

    sae pisan ieu carita teh…

  10. Pendar Bintang berkata:

    Huaaa…iya kak…
    Aku sih belajar dari pengalaman saat lagi emosi aku memilih diam dan tak bicara, daripada ntar salah ngomong trus nyesel dan nyakitin orang dan yg lebih aparh nggak mau bikin keputusan yang salah…

    Inspiring, Kak…

    Kapan dikirim mi jandanya😀

    *ngarep*

  11. alamendah berkata:

    Wakakakakakakak…
    Tolol banget si OOn itu….

  12. bundadontworry berkata:

    panik, memang selalu berbuah keburukan.
    panik juga bisa membuat kalap.
    Semoga kita bisa mengambil hikmah dr kejadian diatas,
    segala sesuatu memang hrs dipikirkan dgn jernih, sebelum bertindak
    salam

  13. aldy berkata:

    Dasar si Oon, bikin saya tersenyum saja.
    Yang lain tolong jangan meniru si oon, serba grusa-grusu, akibatnya rugi sendiri.

  14. muhamaze berkata:

    hahaha fenomena yang kadang kita alami, grasa grusu tak berpikir jernih akibatnya rugi sendiri…

    mantab postingannya kang…

    sory baru nongol lagi nih..

  15. joe berkata:

    mestinya berpikir dulu baru bertindak …

  16. orange float berkata:

    waduh…. si oon memang beneran oon😛

  17. dedekusn berkata:

    Kisah penuh hikmah A, bahan perenungan.
    Tidak mampu berfikir jernih bisa menimpa siapapun, … dan pastinya berakhir dgn penyesalan. Dalam keadaan ini kadang perlu seorag pendamping yg mampu menenangkan, mampu membat suasana lebih tenang, agar tidak berbuat berlebihan spt yg dilakukan si Oon.

  18. indobrad berkata:

    akan sangat mudah kita terpuruk dalam pemikiran jelek kalau kita tidak mampu memandang segala sesuatu dengan jernih.

    Oon harus belajar lebih peka lagi. Sama seperti saya. Thanks sharingnya😀

  19. joO berkata:

    yaaaa apun kasiannya si oong… mati di ujung penyesalan. btw itu batu batrainya yang ukuran berapa… sadizz ameerr…

  20. Lucky dc berkata:

    Nice posting, I like it🙂
    Jangan mengambil keputusan ketika kita sedang emosi dan stress,
    Dapat membuat keadaan semakin buruk, gak ada salahnya kan melakukan analisis dn berpikir dua kali sebelum mengambil keputusan😉

  21. pagibening berkata:

    Kreatif banget sih yank ceritanya. lanjutkan, aku suka dech🙂

  22. Ferry Prima berkata:

    jadi keinget cerita pramobors radio dhe. cerita nya mirip2 tuh🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s