Perjalanan Memandang Alam, Melihat Langit Kawali


Cibinong – Ciamis bukanlah jarak yang dekat. Selepas keluar pintu tol Cipularang, bis tak lagi melesat cepat, terkadang agak tersendat. Semisal karena sedikit menyentuh keramaian Bandung yang padat, juga karena jalan yang berhiaskan tanjakkan, turunan dan belokkan yang elok berlenggak-lenggok.

Jika di tol mata terlelap, maka sayang kupejamkan mata saat melewati indah alam. Kutatap hamparan sawah membentang, juga pegunungan di kejauhan. Hijau hutan tampak membiru. Hijau hutan semoga tak hilang di makan jaman. Hingga bisa dilihat anak cucu yang juga selayaknya memanfaatkannya dengan bijak. Ya, karena kehidupan butuh keseimbangan, kehidupan butuh persahabatan dengan alam.

Penggalan perjalanan pun usai sudah ketika sesampainya aku di rumah. Kuhembuskan nafas, kubiarkan udara sejuk membasuh penuh paru-paruku. Tak usah ditanya tentang keindahan gubukku. Keindahan karena ada cinta tulus di dalamnya. Keindahan karena kehijauan menyelimuti sekelilingnya. Aku betah dengan suasana pedesaan yang masih menyisakan potret alam indah bak tak terjamah. Ada lagi rumah yang kelak kan kurangkai kisah indah jua di sana. Maka, biarkan ku kembali berjalan menuju rumah yang juga kan membuatku terbiasa menaruh torehan manisnya rasa. Rumah penuh cinta tulus yang tertautkan sebuah mahligai indah. Lalu, biarkan perjalanan dari rumah yang satu ke rumah yang ini kusisakan satu pemandangan yang juga tak kalah indah. Gunung Syawal menatapku sumringah.

Sampai jua di rumah tempat kelaurga yang telah membuatku terpesona. Lalu kubiarkan kaki ini menaikki lantai atasnya. Untuk sebuah upaya menatap langit di sebelah sini. Apakah masih indah. Dan ternyata aku menemukannya, birunya itu masih nampak ramah. Meski nyatanya mentari kini lebih terasa terik menyengat membakar kulit.

Aku tahu, kesejukkan letaknya di mana. Ya salah satunya di masjid. Maka kubiarkan kaki ini melangkah tuk merengkuh hati menghadap Illahi. Setelah kubasuh dengan air yang menyejukkan juga menyucikan sebelumnya.

Kawali, konon kabarnya dahulu kau adalah kerajaan indah yang dipimpin seorang raja bijaksana bernama Prabu Raja Wastu (Niskala Wastu Kancana), putera Prabu Maharaja Lingga Buana yang gugur di medan Bubat dalam tahun 1357. Masih bisa kubaca tentang sejarahmu pada beberapa prasasti di Astana Gede yang tak jauh dari rumah calisku. Maka kali ini, biarkan aku memandang indah alam dan melihat langit Kawali.

Iklan

Tentang achoey el haris

Seorang lelaki sahaja yang gemar menulis. Dan blog baginya adalah media untuk menyalurkan kegemarannya itu. Salah satu pendiri Komunitas Blogger Kota dan Kabupaten Bogor (BLOGOR). Pengasuh Pojok Puisi. Anggota Komunitas Menulis Bogor (KMB) dan Kopi Sastra.
Pos ini dipublikasikan di Ciamis Manis dan tag , , , . Tandai permalink.

29 Balasan ke Perjalanan Memandang Alam, Melihat Langit Kawali

  1. alamendah berkata:

    (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!

    Subhanallah sebuah daerah yang sangat indah. Foto2 yang diperlihatkan bikin ngiler…

    ______________
    Jangan lupa untuk ikut ambil bagian dalam “Earth Hour” malam ini. Cukup mematikan lampu dan peralatan listrik (termasuk BERHENTI NGEBLOG) selama 1 jam mulai pukul 20.30. Mari; ubah dunia dalam satu jam

  2. peri01 berkata:

    keduaxxxxx
    subhanallah keren bgt A foto2nya

  3. munir ardi berkata:

    indah sekali foto-fotonya, btw blog nya yang satu dimana kang penasaran pingin lihat

  4. Ferry Prima berkata:

    anugrah Tuhan . Luar biasa, mengalahkan ekspresi metropilitan kota Jakarta. Sedap !

    Salam kenal yah

  5. marsudiyanto berkata:

    Meski tak ikut perjalanannya, tapi saya ikut menikmati pemandangannya

  6. Bang Aswi berkata:

    Waduh?! Ternyata dari Ciamis, toh?
    Salam kenal dari saya yang memang belum lama kenal ^_^ Senang ya balik kampung….

  7. diazhandsome berkata:

    wah bagus banget pemandangannya. belum pernah ke ciamis nih 😀

  8. syaiful berkata:

    salam kenal orang Kawali. saya lupa apa saya pernah lewat di Kawali di daerah yang ada di photo ini, dulu kalau saya dari Cirebon ke Ciamis selalu melewati Kawali. kunjung balik oge ya. salam

  9. sunflo berkata:

    calisku seorang gadis sunda asli yaa… dibesarkan di alam nan indah ini… semoga kan semakin indah bersama sang sahaja kelak pada saat yg berbahagia nanti…^^ biru langitnya menyejukkan pandanganku choey…. secara aq suka banget ma gunung n pegunungan..

  10. asepsaiba berkata:

    Suatu saat kau HARUS mengajak aku dan teman2mu yang lain untuk ikut menikmati keindahan tanah kelahiranmu itu, sobat….

  11. indah bgt ya pemandangannya.. menyejukan..

  12. orange float berkata:

    ada bakat nia Aa’ jadi tukang foto keliling 😀

    langitnya cantik

  13. setitikharapan berkata:

    Wah asyik ya mas, jalan2 sambil mengabadikan momen-momen indah. Keren..kerenn

  14. delia4ever berkata:

    Keren banget ya.. Langsung damai melihat awan dan semua pemandangan itu.. Sungguh indah Ciptaan Tuhan…

  15. sawali tuhusetya berkata:

    kawali, benar2 sebuah kawasan yang indah dan eksotis!

  16. Rully berkata:

    berkunjung lagi..
    wah bagus fotonya y..

    -salam

  17. keren.
    salam kenal aja.

  18. ilyasafsoh.com berkata:

    blog walking aja a

  19. Fitri berkata:

    Berkunjung buat menyimak. . .

    Selamat berakhir pekan. 😀

  20. Irfan berkata:

    jadi inget perjalanan Jogja – Bandung naek kereta, pasti melihat pemandangan-pemandangan kaya gini. hijau, asri, indah!!

  21. sunarnosahlan berkata:

    saya sering dengar nama Kawali dan mungkin pernah pula melewatinya

  22. pagibening berkata:

    Photonya hebat.he..
    Kalo malam2 dari atas situ lebih indah lagi dihiasi gemintang apalagi kalo berani naek genteng. sayang belum nyoba.hahaha…

  23. FiyaFiya berkata:

    Subhanallah..
    keren banget langitna..
    ihihihi,,,

    mari tukeran link na~

    ^_^

    ===============================================
    Sudah saya tautkan dik 🙂

  24. Hariez berkata:

    akhirnya bisa jua melepas kerinduan ya Kang 😀

  25. bundadontworry berkata:

    bunda ikut menikmati pemandangan indahnya ya A 🙂
    salam

  26. mikha_v berkata:

    Bandung gitu lho, kota kelahiran saya 😀

    Untuk masalah macet…well..memang sejak ada tol cipularang, bandung bukan lagi lautan api, melainkan lautan macet 😆

  27. wi3nd berkata:

    emmm..subhanalloh..

    ba9uuusss ban99eeddd!

    yan9 ke 3..!

  28. Asop berkata:

    Waaaaah… langitnya cerah banget,.. 🙂
    Bagus lah, Mas Achoey sempet mengabadikannya. ^_^

  29. herdi hendoyo berkata:

    slm ti urang bunter sukadana ciamis keneh sami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s