Jodoh Bukan di Tangan Facebook (Fiksi)


Ehm, semenjak menahan diri tuk gak lagi berpetualang dalam kesemuan cinta, berhenti dari menebarkan sidik jari pada kulit mulus gadis yang dengan mudah terlena. Aku berharap, memulai kehidupan yang lebih baik. Sempat berpikir untuk pergi ke puncak gunung guna mengasingkan diri dan bertapa, lalu turun gunung dengan tabiat yang telah berbeda 180 derajat, meski rambut dan jenggot telah menutupi seluruh wajah kumalku. Atau jika perlu menyelam ke dasar samudera untuk membersihkan diri dan baru muncul kembali setelah berubah dengan pasti, itu pun jika gak dimakan paus-paus yang kadang nakal. “Ah, aku ingin berubah”, begitulah tekadku.

Tapi aku tak mungkin melakukan pendakian dan penyelaman, mengingat popularitasku di dunia riuh ramai sedang bagus-bagusnya. Sinetron yang kubintangi dalam posisi rating tertinggi, begitu pun acara kuis “Menghitung Kumis” yang kupandu sedang seru-serunya. Ah sayang jika semuanya harus kutinggalkan. Jadi, kupikir berubah itu ada di sini, di hati. Jika kita telah bertekad, maka tak akan ada lagi yang mampu menggoyang keinginanku untuk berubah. Mau goyang ngebor, goyang ngecor, goyang gergaji bahkan goyang tsunami, tak akan mampu meruntuhkan tekadku ini.

“Jika tidak pacaran, lalu kapan kau kan menemukan seseorang yang bisa kau nikahi?” Sebuah ungkapan mosi tidak peraya keluar dari bibir ibunda. Yang diamini ayahanda dan juga keluarga.

“Main ke mall kek, ke tempat-tempat hiburan kek. Biasanya di sana banyak gadis, kali aja ada yang kepake.” Ayahanda mencoba memberikan solusi.

“Waduh, jika saya cari calon istri di mall, maka yang kan saya temukan kemungkinan besar para pecandu belanja. Jika saya cari calon istri di tempat hiburan, maka yang kan saya dapatkan adalah para pecandu hiburan, atau lebih parahnya yang saya dapatkan adalah wanita penghibur, ampuuuun deh.” Ini adalah jawabanku pada ayah, meski penyimpulanku belum tentu benar adanya. Dan jelas ayah tak akan kalah.

“Ya sudah, cari saja di pengajian!”

“Jika saya cari di pengajian, maka ini berarti niat saya sudah salah. Mengaji bukan niat menimba ilmu, apa kata Pak Ustadz.” Jawabku dengan nada penuh percaya diri. Lalu kulanjutkan argumenku.

“Ayah, Hafidz tahu kan, dia menemukan calon istri saat hendak pulang kampung. Dia sebangku dengan seorang gadis, merasa cocok lanjut perkenalan dan gak lama kemudian menikah deh mereka. Atau si Andi, yang dapat calon istri gara-gara salah sambung waktu nelepon, terus mereka kenalan dan gak lama kemudian menikah deh. Ini artinya bahwa jodoh itu di tangan Allah, jadi gak usah deh ikut Take Me Out atau biro jodoh.”

Nah, jika teringat masa-masa aku harus berjuang meyakinkan ayah dan ibu tentang konsep menemukan jodoh, dan harus meyakinkan mereka pula bahwa aku adalah lelaki normal. Maka kadang aku tertawa jika inget kata-kata ayah yang saking jengkelnya sampai berkata seperti ini, “ya sudah, sering-sering pulang kampung, siapa tahu berjodoh ama sopir atau kondektur bis-nya.”

Sekarang aku sudah gak perlu pusing-pusing dengar ocehan ayah dan ibu yang terus menerus menyuruhku mencari calon istri, kawin kawin kawin. Soalnya mereka kini sudah bertemu dengan seorang gadis cantik, cerdas dan baik hati yang mengenalkan diri sebagai calon istriku. Meski sempat ibuku menangis dan berkata pada sang gadis, “Neng, apa kau benar-benar dah siap menikah dengan seorang lelaki yang jarang mandi?”

Dag dig dug jantungku saat menanti jawaban sang gadis.

“Nggak apa-apa bu, saya juga jarang mandi kok.” Jawab si gadis yang benar-benar membuatku loncat kegirangan hingga kepala benjol menyundul langit-langit.

Jadi sobat, apakah kalian ingin tahu, di mana aku temukan gadis yang kini menjadi calon istriku itu? Yang pasti bukan dari kantong ajaib doraemon, bukan pula jelmaan putri duyung yang kutolong di pantai Ancol. Bukan hadiah dari lotree, bukan pula bantuan dari IMF. Dia aku temukan dari facebook, ya dan kami didekatkan oleh puisi, deparsatukan dengan kesamaan visi, misi dan tujuan hidup. Yang pasti, kami memang jodoh yang telah ditentukan Allah. Jadi meski kami ketemu di facebook, jodoh tetap di tangan Allah.

Iklan

Tentang achoey el haris

Seorang lelaki sahaja yang gemar menulis. Dan blog baginya adalah media untuk menyalurkan kegemarannya itu. Salah satu pendiri Komunitas Blogger Kota dan Kabupaten Bogor (BLOGOR). Pengasuh Pojok Puisi. Anggota Komunitas Menulis Bogor (KMB) dan Kopi Sastra.
Pos ini dipublikasikan di Hikmah dan Motivasi, Kreasi Fiksi dan tag , , . Tandai permalink.

16 Balasan ke Jodoh Bukan di Tangan Facebook (Fiksi)

  1. Wempi berkata:

    benar-benar fiksi banget nih choey πŸ˜†

    =======================================
    Hehe, setengah mateng sih πŸ™‚

  2. maryam berkata:

    hehe … oooh, jadi ‘korban-korban’ fesbuk yang ada di tipi2 itu kyanya tujuannya mau kya cerita diatas

    =======================================
    Mungkin iya hehehe.

  3. nakjaDimande berkata:

    Allah SWT ngasih jalan dari segala penjuru. bisa saja kenal dari facebook yang penting kan itikad baiknya ya A.

    =======================================
    Betul Bunda. Dan tetap jaga niat dan hati kita πŸ™‚

  4. bukan detikcom berkata:

    berawal dari facebook baru ku…(berasa kayak lagu gigi yah πŸ˜€ )

    =======================================
    Hehehe, aku suka GIGI πŸ˜€

  5. darahbiroe berkata:

    wakwakwka judulnya mantap pisan ueyyy

    geli ngebacanya sukses yaw salam kenall

    berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya makasih πŸ˜€

    =======================================
    Hehehe. Makasih sobat. Salam kenal juga
    Siap, nantika ku meluncur ke TKP πŸ™‚

  6. kampret berkata:

    hah?? goyang tsunami mas? ga kebayang gimana gaya goyangnya wkwkwkkwk *keplakkepala*

    =======================================
    Pokoknya sampai tumpah deh hehehe πŸ™‚

  7. komuter berkata:

    sampaikan ke calon istri : omedetou gozaimasu…..
    *sambil nunduk-nunduk

    =======================================
    Apa artinya itu Kang? πŸ™‚

  8. komuter berkata:

    sekalian tanya ke calon : ogenki desuka ??

    =======================================
    Kagak ngarti kang. 😦

  9. oww. ternyata facebook too mak coblangnya.. hehe.. :mrgreen:

    =======================================
    Hehehe, tapi banyak disalah gunakan ma anak2 remaja sekarang mah πŸ™‚

  10. Pencerah berkata:

    mangtafff kang. pantes tulisannya bau, belum mandi to?

    =======================================
    Hehehe, dikau bisa aja. Makasih ya πŸ™‚

  11. sunarnosahlan berkata:

    wah benar-benar mantap bro, aku berpuisi bertahun-tahun istriku ternyata sama sekali tak mengerti puisi, memang jodoh itu urusannya Tuhan

    ========================================
    Hehehe, justru si gadis kepengen pernikahannya ditaburi lantunan puisi dari para penyair terkenal di daerahnya. Kebetulan si gadis pun salah satu dari mereka.

  12. kucingkeren berkata:

    wehh..sama-sama jarang mandi??? duhhh…

    ========================================
    Tapi sama2 gak bau badan hehehe

  13. Rindu berkata:

    Allah maha membolak balikan hati Aa … hati hati yah πŸ™‚

    ========================================
    Ade, A senang karena kelihatannya kamu jauh lebih bersemangat. πŸ™‚

  14. harumhutan berkata:

    fb kan cuma Lantaran,kembalikan la9i pada san9 Penentu se9ala rencana.. πŸ™‚

    =========================================
    Betul betul betul πŸ™‚

  15. hanif berkata:

    Kalau aku nemunya dimana ya?
    Tetapi lelaki yang baik akan dapat wanita yang baik.

    =========================================
    Hehehe, tanya hatimu sobat! πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s