Bis Padiman


Saat hendak naik Bus Padiman, Ali dan Elvina sedang gelisah di hatinya. Apa yang harus mereka lakukan, mungkinkah mereka duduk bersanding tanpa pembatas. Lalu keromantisan pun di rajut tanpa bias. Ah, ini sebaiknya tak dilakukan. Bagi Elvina, tak biasa dia duduk berdua sedekat itu bersama lelaki bukan mahram dengan sengaja. Lain lagi dengan Ali yang sudah terbiasa bahkan jauh lebih dekat dari itu. Tapi Ali yang sekarang bukan Ali yang dulu. Ali yang sekarang adalah Ali yang sudah berubah menjadi lebih baik, dan Ali tahu siapa Elvina. Elvina itu adalah sosok perempuan baik-baik yang tak ada satu bekas sidik jari lelaki jail pun nampak di tubuhnya.

Elvina duduk lebih dulu. Sengaja Vina pilih kursi set tiga. Ditaruhnya tas laptop di kursi tengah. Ali mengerti, ditaruhnya pula tas laptopnya di samping tas laptop Vina, lalu dia pun duduk di kursi satunya lagi. Ehm, dan kini hijab diantara mereka adalah dua tas laptop yang seolah sedang berpelukan mirip teletabis. Ali sadar, sejak tadi wajah Vina mengarah ke jendela bis. Dan Ali mengerti atas apa yan Vina lakukan, lalu Ali pun memandang ke arah berlawanan. Keduanya sedang memikirkan kata paling tepat untuk memulai perbincangan. Namun sepertinya loadingnya begitu lama, tak biasanya koneksi otak mereka begitu lemot, lebih lemot dibanding modem yang ngaku-ngakunya smart.

“Tring”. Terdengar bunyi solusi di otak mereka, laksana Thomas Alva Edison yang menemukan obat nyamuk, eh maaf lampu maksudnya. Keduanya sedikit mengarahkan mukanya ke arah tengah antara mereka, dan terdengarlah suara bersamaan dari balik bibir mereka, “eeeeeeeeee”.

Uhuk-uhuk terdengar suara batuk, dilihatnya kakek tua sedang berdiri mencari tempat duduk. Ali dan Vina secepat kilat merespon dengan mengambil tas masing-masing. Si kakek ngeh, lalu dia pun duduk di kursi itu. Berubahlah kini hijab Elvina dan Ali. Dan sesuatu yang tak terduga pun terjadi. Baru duduk lima menit si kakek dah tak sadarkan diri. Dia tidur dengan lelapnya, dengkurannya sekeras mesin gergaji. Ali dan Elvina merengut, lalu tertawa kecil seperti kicauan kuda.

Satu jam perjalanan sudah ditempuh. Ali dan Elvina masih larut dalam lamunan masing-masing. “Allah, tak mimpikah aku, di sampingku ini adalah sosok yang kan menemaniku menghabiskan waktu.”

Lamunan itu terusik dengan suara SMS masuk ke ponsel Ali dan Elvina secara bersamaan. Di layar ponsel mereka tertulis isi SMS yang sama. “Sudah sampai bab berapa perkenalan kalian?” Ternyata SMS itu dari mama Elviana yang juga sudah mengantongi nomor ponsel Ali. Keduanya menarik nafas panjang. Lalu SMS pun mereka balas dan lagi-lagi isinya sama. “Masih dalam tahap mecari judul”. Hehe, seperti skripsi aja.

Dengkuran si kakek semakin keras. Deru mesin mobil saja kalah kerasnya. Ali SMS Vina. “Vin, bisakah kau kecilkan volume hijab kita, atau di silent kan donk!”.

Elvina panik, dia jadi bego. Dicarilah tombol volume di tubuh sang kakek. Vina balas SMS Ali, “A, saya lupa letak tombolnya.”

Ali garuk-garuk kepala, lalu tak lama kemudia tertawa terpingkal-pingkal karena menyadari betapa gokilnya Vina. Sang kakek pun terbangun dari tidurnya. “Maaf nak, kakek lagi tidur, tolong jangan berisik!” Sang kakek memberikan perintah.

Ali kembali garuk-garuk. “Bukankah sedari tadi kakek yang berisik.” Gumamnya.

Bis terus melaju. Vina bangkit dari tempat duduknya. Ali tersadar, wah berarti sudah sampai. Apa yang harus kulakukan. Vina berkata, “A, yuk kita turun. Mama dan papa dah menunggu A di rumah.”

“Mati aku”, gumam Ali. Padahal Ali meminta naik bis bareng ma Elvina supaya dia mendapat bocoran seberapa galakkah papa Vina. Hingga Ali bisa menentukkan strategi yang paling tepat untuk menjinakannya. Ah dasar Ali.

Iklan

Tentang achoey el haris

Seorang lelaki sahaja yang gemar menulis. Dan blog baginya adalah media untuk menyalurkan kegemarannya itu. Salah satu pendiri Komunitas Blogger Kota dan Kabupaten Bogor (BLOGOR). Pengasuh Pojok Puisi. Anggota Komunitas Menulis Bogor (KMB) dan Kopi Sastra.
Pos ini dipublikasikan di Kreasi Fiksi dan tag , , . Tandai permalink.

25 Balasan ke Bis Padiman

  1. munir ardi berkata:

    selamat sore mas maaf baru bisa berkunjung lagi untuk membaca sebuah cerpen kreatif

  2. Wempi berkata:

    Mantap cerita ne, kisah pribadi kah ini 😆

  3. SAUT BOANGMANALU berkata:

    TERIMAKASIH ATAS INFORMASI DAN TULISANNYA, CUKUP BERMANFAAT BUAT BACAAN/REFRENSI UNTUK REGENERASI. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA DARI KABUPATEN PAKPAK BHARAT DI GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com

  4. okta sihotang berkata:

    selamat siang kang, jarang nyapa disini neh..

  5. harumhutan berkata:

    *masih ada lanjutannya kan ali ? *

    teutep nun99uin undan9an ali dan elvina 🙂

    [ oot,dijitakins A,kabuurrrr.. ]

  6. yangputri berkata:

    yang ku tau bis budiman deh aa 😀

  7. 1nd1r4 berkata:

    sejak kapan kuda berkicau kang? heheh 🙂

  8. sangpelembuthati berkata:

    salam
    sudah lama sekali tidak mampir ke blog sahabat, bagaimana kabarnya nih?

  9. Aribicara berkata:

    Jadi Ngebayangin Posisi tas Laptopnya 😀 ckckckck …

  10. adams berkata:

    what’s up bro..

  11. darahbiroe berkata:

    berkunjung n mohon kunjungan baliknya makasihhh

    salam blogger

  12. freesmsc berkata:

    berkunjung n mohon kunjungan baliknya makasihhh

    salam blogger

  13. komuter berkata:

    elvina siapa yah ??

  14. nDa berkata:

    fiksi yg menarik

  15. laptop bekas berkata:

    numpang lewat ya boss, salam kenal;

  16. sauskecap berkata:

    ah si kakek ga tau orang lagi pdkt

  17. Joddie berkata:

    mantaap.. he..he.. strategi si ALi kurang sip.. he.he..

    btw, ada award dan souvenir buat kang achoey di blogku : http://www.ceritainspirasi.net/sebuah-kesimpulan-1st-anniversary/
    mohon di ambil yah.. makasiih.. ^^

  18. alrisblog berkata:

    Kuda berkicau, apa kata kerbau…wekekeke
    Ini kayak story pribadi, ya. Salam

  19. arif berkata:

    saya numpang bw aja deh

  20. kucingkeren berkata:

    antara fiksi dan fakta kayknya juga gak ada batas ya?? apakah mereka ‘berdua’ mahram? hehehe..pa kbr kang? udh lama gak berkunjung nih

  21. racheedus berkata:

    Ceritanya kok menggantung sih, Kang? Diterima ataukah ditolak si Ali oncom itu?

    (Lag mikir, gimana kicauan kuda. Ada juga ringkikan kuda. he..he…)

  22. afwan auliyar berkata:

    menyapa kembali sobat 🙂

  23. itempoeti berkata:

    mahram…
    hijab…
    betapa kental nuansa tanah Arab…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s