Mantan Play Boy


“Mana bisa loe bertahan dalam kesetiaan Li.” Arman berbicara setelah meneguk jus kacau balau yang dia racik sendiri.

Ali tersenyum pada sahabat yang duduk di depannya itu. Ya, hanya tersenyum tanpa menguak satu kata pun.

“Li, tolong pertimbangkan soal ancaman Alib yang akan memecat loe dari Komunitas Buhaya Bermuka Badak (BBB). Padahal kan tidak mudah untuk masuk ke komunitas itu. Tengok aja si Oji yang sampai nekat macarin tujuh waria hanya demi mendapat predikat Buhaya dan bisa bergabung dengan komunitas BBB yang bergengsi itu.” Arman berapi-api unggun, semangatnya sungguh luar biasa dalam mempropaganda Ali agar kembali ke jalan buhaya.

“Sudahlah Man, meski bergalon-galon air liurmu muncrat ke wajahku karena kau tak kunjung bosan untuk mengembalikanku pada jalan buhaya itu, aku tetap tak akan kembali. Ini sudah keputusanku. Titik koma jendol pokoknya.”

“Tapi Li, leo belum pernah bersua dengan gadis itu. Bagaimana kalau ternyata dia juga seorang nenek tua seperti kasus yang menimpa Dony. Atau gimana kalau ternyata lubang hidungnya cuma ada satu, giginya tinggal satu dan ….” Arman tak meneruskannya karena Ali memotongnya.

“Man, ingatkah kau tentang sahabat kita yang bernama Dadang Donk?”

“Si Dadang yang kini sudah jadi Ustadz itu, yang dulunya tukang palak anak TK.”

“Iya. Betapa gilanya dulu Si Dadang itu, bahkan dia nyaris kita jadikan ketua Komunitas BBB seumur lajang. Tapi akhirnya dia memutuskan berubah dan keluar dari dunia persilatan, dan mulai belajar iqro dengan anak-anak TK yang biasa dipalaknya.”

Arman terdiam, diingatnya kembali sahabatnya yang bernama Dadang Donk itu. Sebenarnya namanya Dadang Sigarantang, cuma karena kalo lagi pada nongkrong trus ada cewek cantik yang lewat dan muncul pertanyaan tentang siapa yang bisa naklukin cewek itu, maka si Dadang langsung berdiri dan menepuk dadanya sambil berkata, “Dadang Donk”, ya selalu begitu. Jadilah Dadang Donk dia biasa disapa.

Dadang pernah membuat gempar Komunitas BBB karena pengunduran dirinya dari komunitas itu yang mendadak. Padahal saat itu dia sedang menjabat sebagai Ketua. Ketika ditanya alasan pengunduran dirinya, dia hanya bilang bosan, lelah, dan pengen berubah. Berubah seperti Satria Bajaj Hitam kali. Yang bikin kegemparan itu memuncak ketika si Dadang curhat di depan prisedium Komunitas BBB bahwa dia ingin menikah, dan ingin menikahi berempuan bercadar. Banyak orang menyangka kala itu bahwa si Dadang terpengaruh sosok Aisyah di film “Ayat-Ayat Cinta” yang box office itu. Karena waktu si Dadang usai nonton film “Mayat-Mayat Cinta” juga dia terobsesi menjadi tokoh utama, yakni menjadi Pocong Play Boy.

Tapi Dadang benar-benar serius, dia datang ke Pesantren di bilangan Ciamis, meminta pada pimpinan Ponpes itu untuk bisa dinikahkan pada salah satu santriwati yang mondok di sana dan memakai cadar. Pak Kyai menangkap kesungguhan Dadang dan Pak Kyai pun merekomendasikan salah satu santriwatinya untuk menikah dengan Dadang. Mungkin karena hormatnya pada Kyai, si santriwati bercadar itu pun menyatakan bersedia. Padahal kalau melihat wajah Dadang sebenarnya si santriwati itu bisa saja menolak, bayangkan saja, wajah Dadang itu penuh dengan tato benang kusut dan telur kebo.

Saat hendak nikah, si Dadang sempat panik. Bagaimana ya kalau ternyata pas santriwati itu telah menjadi istrinya, trus cadarnya di buka, eng ing eng ternyata gak ada hidungnya, ampuuuuuuun. Tapi si Dadang diyakinkan oleh saudarinya bahwa calon istrinya itu cantik dan suku cadangnya masih orsinil. Gak ada satu sidik jari lelaki bukan mahram pun di tubuhnya. Ah bahagianya si Dadang yang kini telah dikaruniai lima anak itu.

Arman tersadar dari lamunannya mengingat Dadang. Tersadar oleh temparan Ali yang mencoba membunuh nyamuk di hidung Arman.

Jelas aja si Arman marah karena kesakitan. “Sialan loe Li.”

<b>”Man, jika si Dadang saja bisa nekat menikahi perempuan bercadar dan rumah tangganya bisa harmonis bahkan telah dikaruniai lima anak, apalagi aku. Aku telah melihat fotonya dan sudah berkomunikasi dengannya tentang banyak hal. Dari mulai visi misi hidup, definisi rumah tangga dan bahkan hal-hal terkecil semisal apakah dengkuran bisa mengganggu tidur, apakah kalau tidur lampu suka dimatikan atau tidak, dan sebagainya. Jadi aku sudah lahaula. Insyaallah aku yakin tuk mempersuntingnya. Nuraniku bilang, dia jodohku dan itu sudah diperkuat dengan istikharahku dan istikharahnya. Yang pasti kami tidak ingin terjebak pacaran sebelum nikah, jadi kami inysaallah kan segera menghalalkannya.”</b>

Arman mulai mencoba memahami sahabatnya itu. Dia pun menarik nafas panjang sampai nyaris lupa tuk menghembuskannya kembali.

Iklan

Tentang achoey el haris

Seorang lelaki sahaja yang gemar menulis. Dan blog baginya adalah media untuk menyalurkan kegemarannya itu. Salah satu pendiri Komunitas Blogger Kota dan Kabupaten Bogor (BLOGOR). Pengasuh Pojok Puisi. Anggota Komunitas Menulis Bogor (KMB) dan Kopi Sastra.
Pos ini dipublikasikan di Kreasi Fiksi dan tag , , . Tandai permalink.

11 Balasan ke Mantan Play Boy

  1. orange float berkata:

    itu sih namanya playboy insaf, semoga semua playboy di muka bumi ini kembali ke jalan yang benar. seperti kata KD “cobalah untuk setia” 😀

  2. adams berkata:

    yak yak.. mantan petualang…

  3. Resi Bismo berkata:

    assalamualaikum saudaraku, apa kabar…. wah makin yuhud aja nich kang cucu.. sukses selalu kang.

  4. Miftahgeek berkata:

    Hmm, agak tersinggung 😀

  5. Zico Alviandri berkata:

    Jadi mulia ya, mantan playboy. Coba mantan ustadz.. 😀

  6. echa berkata:

    jangan sampe si ali masuk BBB…

  7. racheedus berkata:

    Biasanya, playboy yang pacarnya segudang dan cantik-cantik, justru akhirnya dapat istri jelek. Hi…hi…

  8. Jadi kapan nih lamarannya?

  9. deeedeee berkata:

    terinspirasi dari kisah nyatakah? hehehehe

  10. wi3nd berkata:

    **nun99u undan9an ali 🙂 **

  11. Ping balik: Kopi Darat Mendarat « Tulisan Sang Sahaja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s