Biarkan Kedai Sederhana Penuh Cinta


Di kedai sederhana itu, pembeli berjejal. Saking penuhnya, beberapa calon pembeli yang bersabar, menanti di luar, atau ada yang akhirnya belinya di bungkus saja. Ada beberapa diantaranya yang berpikir cerdas dengan mempergunakan kenyamanan jok mobilnya sebagai tempat untuk menyantap hidangan dari kedai sederhana itu yang nikmat. Tapi bagi jiwa-jiwa yang tak sabar, setelah memastikan kursi terisi penuh di dalam, maka keluar dengan sedikit gusar. Lalu, mencari kedai lain yang sebenarnya bukan pilihan hatinya.

Beberapa lelaki tampan berseragam pink dan ungu sedang sibuk-sibuknya melayani pembeli. Ada yang bertugas menyeduh mie atau sejenisnya, menyiduk kuah lalu menuangkannya pada wadah yang telah dia siapkan dengan aneka bumbu yang tepat sebelumnya, ada juga yang bertugas menaburi berporsi-porsi mie dengan ayam, jamur, bawang goreng, pangsit dan yang lainnya. Di sudut yang lain ada yang bertugas meracik segala macam minuman, Es Duda salah satunya. Selain itu, beberapa orang terlihat hilir mudik membersihkan meja, mengambil mangkok dan gelas bekas, serta menghidangkan makanan dan minuman yang telah di pesan. Dan sosok yang berperang paling belakang adalah lelaki tangguh pencuci segala macam alat saji. Wah, sibuk sekali lelaki-lelaki berseragam pink dan ungu itu.

Aku senantiasa berpesan pada mereka, layani pelanggan sebaik mungkin. Karena mereka butuh perlakuan terbaik dari kita. Meraka butuh keramahan kita, mereka butuh kinerja cepat kita untuk segera menyajikan produk terbaik guna memuaskan selera mereka. Kita harus ikhlas dalam menjalankan peran ini. Jalani dengan senyuman, jalani dengan bening hati. Jangan semata-mata karena tugas pekerjaan. Tapi jadikan ini ladang amal kebajikan, bukankah membahagiakan orang lain itu ibadah. Maka bahagiakan pelanggan dengan pelayanan terbaik kita, dengan kulaitas terbaik produk kita.

Sedang ramai-ramainya kedai, jam dinding menunjukkan waktu shalat fardhu tiba. Maka sudah bisa dipastikan, lelaki-lelaki berseragam pink ungu bergiliran pergi menuju mushola. Diusahakan berangkat tak sendirian, karena shalat fardhu berjamaah itu lebih indah, meskipun hanya dua orang. Dalam hati lelaki-lelaki berseragam pink ungu itu telah tertanam, bahwa sesibuk apa pun kita, shalat fardhu jangan sampai ditinggalkan. Mereka sama sekali tidak takut ditegur oleh sang pemilik kedai, karena perginya mereka ke mushola dan meninggalkan kedai. Justru mereka malu jikalau ketahuan oleh sang pemilik kedai bahwa mereka tidak menyempatkan shalat.

Sang pemilik kedai lebih takut murka Tuhannya ketimbang takut terjadi kekurangoptimalan pelayanan kedai. Sang pemilik takut dia dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan gara-gara dia tak memberikan waktu kepada karyawannya untuk menunaikan ibadah fardhunya. Sang pemilik kedai akan merasa malu jika gara-gara usahanya dalam menjemput rijki, dia malah menjadikan karyawannya jauh dari Sang Pemberi Rijki.

Sang pemilik kedai berujar pada lelaki-lelaki yang berseragam pink ungu itu.

“Jangan kalian berpikir, bahwa di sini kalian hanya menukarkan tenaga dan waktu kalian dengan beberapa lembar rupiah saja. Tapi berpikirlah untuk memantaskan diri dengan meningkatkan kemampuan kalian, agar kelak kalian akan mendapati posisi dan rejeki yang jauh lebih baik lagi. Kedai sederhana ini dibangun tak hanya untuk menjadi seperti yang sekarang, tapi kan terus diperjuangkan agar terus tumbuh dan berkembang. Dan kalian adalah bagian tak terpisahkan dari tumbuh dan berkembangnya usaha ini. Karena kedai sederhana ini, dibangun bukan sekedar untuk kesejahteraan pemiliknya, tapi juga dibangun untuk kesejahteraan kalian duhai sahabat-sahabatku. Juga kedai ini dibangun, agar aku, kau dan kita semua mampu berbagi. Ingatlah, 2,5% dari total omzet harian kedai kita adalah untuk membantu anak yatim dan dhuafa juga untuk dana sosial lainnya. Maka berahagialah, karena kalian menjadi bagian dari kedai sederhana ini. Berbahagialah, karena kalian telah turut berbagi untuk mereka.”

“Jangan juga kalian berpikir bahwa kami akan senang melihat kalian bekerja dengan giat sampai-sampai tak sempat shalat. Jika ini terjadi, kami justru sangat sedih dan kecewa. Terlalu jumawa jika kedai sederhana ini sampai bisa menghalangi gerak langkah kalian menuju mushola. Terlalu hina jikalau kami sampai tega menahan kalian tuk menghadap Sang Maha Esa. Bukankah kita hidup di dunia tiada lama, terlalu hina jika kita terjajah dunia. Jadi, biarkan kedai sederhana ini tetap penuh cinta.”

Iklan

Tentang achoey el haris

Seorang lelaki sahaja yang gemar menulis. Dan blog baginya adalah media untuk menyalurkan kegemarannya itu. Salah satu pendiri Komunitas Blogger Kota dan Kabupaten Bogor (BLOGOR). Pengasuh Pojok Puisi. Anggota Komunitas Menulis Bogor (KMB) dan Kopi Sastra.
Pos ini dipublikasikan di Celoteh Hati, Hikmah dan Motivasi dan tag , , , , . Tandai permalink.

22 Balasan ke Biarkan Kedai Sederhana Penuh Cinta

  1. jack berkata:

    malam bang,
    jarang ada pengusaha macam begitu, mengingatkan karyawannya untuk solat. Sampai2 ada karyawan yang takut menguap (ngantuk)

    betapapun sibuknya, kita harus menganggap bahwa pekerjaan kita di dunia ini hanya lah selingan sambil menunggu waktu sholat

    salam

  2. Pencerah berkata:

    salut + angkat jempol buat pemiliknya.
    semoga barokah

  3. nakjaDimande berkata:

    Subhanallah, teruslah begitu A.. perhatikan kebutuhan karyawan untk menunaikan shalat. hal yang sering dilupakan oleh seorang pemimpin.

  4. alamendah berkata:

    Bloghicking di hari jumat.
    Mengunjungi para sahabat,
    siapa tahu ada suguhan hangat.
    Meski datangnya telat,
    jangan didamprat.
    Yang penting semangat!
    Ok, sobat?

    jangan lupa; PEMIMPIM AKAN DIMINTAI PERTANGGUNGJAWABAN KELAK

  5. Huang berkata:

    semoga usaha kedai mas achoey laris manis seperti ceritanya ๐Ÿ™‚

    btw, dari mana ide seragam warna pink dan ungu itu mas? jarang cowo mau pakai kedua warna itu.

  6. komuter berkata:

    .

    hidup pemilik kedai…….

    .

  7. akhdian berkata:

    Siapa sih pemiliknya ๐Ÿ˜€

  8. wi3nd berkata:

    pemilik kedainya baik hati dan san9ad memperhatikan karyawannya yah ๐Ÿ™‚

    dahsyaattttt.. ๐Ÿ˜‰

  9. hellgalicious berkata:

    waaah ceritanya menarik
    pengalaman pribadi kan?

  10. sangpelembuthati berkata:

    salam
    hidup itu harus seimbang, jadi ingat kata2;
    bekerjalah seakan2 engkau akan hidup selama2nya, dan beribadahlah seakan2 engkau akan mati esok.

  11. hanif berkata:

    Bos yang baik hati dan lebih takut kepada Sang Pemberi Rizki ๐Ÿ™‚ Salut
    Pasti karena itu kedai mas selalu ramai

  12. sunflo berkata:

    semoga usaha yang berkah dan diridhai olehNya…aamiiin…^^

  13. yangputri berkata:

    AA nice posting…

  14. vaepink berkata:

    “Jika dilakukan dengan hati maka akan sampai kehati pula…”

    tetap semangat a’…. ๐Ÿ™‚

  15. asepsaiba berkata:

    Ah… malam2 gini dapat pencerahan yang sungguh bagus.. Nuhun kang…
    *Tadi siang kok ngga ikuitan IPB blogging day?

  16. Hariez berkata:

    hebat Kang malu aku hingga kini belum sempat singgah lagi di MJ ๐Ÿ˜ณ

    selamat malam & selamat beristirahat ๐Ÿ˜€

    -salam- ^_^

  17. Budi Hermanto berkata:

    hmm..
    bos yg patut dicontoh.. ๐Ÿ˜‰
    ..
    btw, 10 teman yg mendapatkan..
    novel Debu Cintayana..
    bisa dilihat di artasastra.com ๐Ÿ˜€

  18. racheedus berkata:

    Dunia adalah kedai-Nya tempat kita, para pelayan, memberikan pelayanan terbaik untuk-Nya dan para pelanggan-Nya.

  19. iip albanjary berkata:

    what a nice story…

    terus bercerita, dengan cerita yang hikmah dan inspiratif bro

  20. rayyahidayat berkata:

    Seperti ilmu seorang guru, mengehntikan kegiatan usahanya 15 menit sebelum Adzan.
    ah..indahnya.

  21. noun berkata:

    patuh agama ๐Ÿ™‚

  22. RaRa Wulan berkata:

    jarang bgt ada yang seperti itu, pemilik kedai sudah menananmkan pegawainya untuk melaksanakan sholat dengan tepat waktu, sungguh sangat luar biasa, jarang bgt ada yang kayak gini…
    Semoga kedainya semakin maju iah maz..
    thankyu dan sukses slalu ๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s