Belajar Ceria dari Anak-Anak


Ingat saat kecilku dulu, dimana keceriaan senantiasa menyelimutiku dan teman-temanku. Sepulang sekolah kita bergegas main. Bermain dengan memanfaatkan alam sebagai fasilitasnya. Bermain bola di sawah, berenang di sungai, bermain kelereng di halaman rumah, bermain perang-perangan di hutan. Permainan-permainan yang nyaris tidak membutuhkan biaya.

Jika saat bermain kami ceria, maka saat kami pergi ke hutan guna mencari kayu bakar juga ceria. Kami memanjat pohon tuk mematahkan batang yang kering sambil bernyanyi, bersahutan dengan kicauan burung yang bahagia karena masih rindangnya tempat berlindung mereka. Disela-sela kami memanjat pohon guna mencari kayu bakar, kami pun sembari mencari angrek hutan yang indah.

Di sore hari kami pergi ke surau untuk mengaji, belajar agama. Karena menurut orang tua kami, sejak dini kami harus dikenalkan dengan agama, agar kelak saat dewasa kami sudah punya benteng hidup, sehingga tidak mudah terayu oleh beragam sajian dosa. Kami mengaji pun dengan ceria. Hafalan kami lahap dengan mudahnya, padahal kadang kegiatan belajar kami tak lepas dari bercanda yang seringkali membuat jengkel ustadznya.

Tuhan memang telah mengkondisikan anak-anak kecil seusia kami ini memiliki otak yang mudah menangkap pelajaran, sebenarnya ya mudah juga untuk terlupa akan pelajaran tersebut. Agar tidak lupa, repetisi menjadi penting. Kami harus terbiasa mengaplikasikannya dalam kesehariaan.

Belajar tentang pelajaran sekolah pun kami lakukan dengan ceria. Dengan harapan bahwa saat kami dewasa kami bisa sehebat orang-orang di kampung kami yang merantau dan telah berjaya di kota. Cita-cita anak-anak kecil di kampung kami memang tinggi. Ada yang bercita-cita ingin jadi dokter, insinyur, pilot, polisi dan tentara. Meski pada perjalanan waktu cita-cita mereka pun berubah. Karena makin bertambah usia, maka semakin banyak perhitungan tuk mengantungkan harapan. Takut ketinggian, takut tidak tercapai, tidak mungkin kesampaian dan sebagainya. Terlebih kebanyakan orang tua memang tidak bisa mendukung cita-cita anaknya itu, baik disadari atau pun tidak disadari.

Anak-anak kecil yang senantiasa ceria, menyiratkan pesan pada kita yang kini telah dewasa. Bahwa keceriaan anak kecil karena mereka masih bersih hatinya. Tidak terbiasa mendendam, tidak terbiasa berkeluh kesah berkepanjangan, tidak terbiasa memupuk iri mengukir dengki. Bahwa kecerian anak kecil karena mereka tidak berpikir takut akan resiko. Berbeda dengan kita orang dewasa yang terkadang ragu melangkah karena takut salah, takut rugi dan sebagainya. Anak kecil ceria karena mereka membentuk hal-hal ceria dipikirannya, sehingga keceriaan pun hadir menjadi kenyataan dalam hidupnya. Sementara kita sebagai orang dewasa kadang memperburuk keadaan dan mengawalinya dengan berpikir tidak baik. Alhasil pikiran-pikiran tidak baik ini menjadi kenyataan. Kenyataan yang membuat kita tidak ceria.

Coba saja ajak anak kita yang masih kecil untuk menghitung bintang di malam hari. Maka dia akan tersenyum dan berceloteh ceria. “Ayah, aku ingin memetik bintang”. Di matanya bintang adalah sesuatu yang simple, tapi di mata kita, bisa saja apa yang disebut bintang tadi adalah benda-benda langit yang bergesekan dengan atmosfir dan berusaha menghantam bumi pada tahun 2012 nanti.

Anak-anak kecil itu ceria dan akan selalu ceria, namun seiring waktu, terkadang kitalah yang mulai membatasi keceriaan mereka. Dengan melarangnya bermain tanah, melarangnya mencorat-coret dinding dan melarangnya bermain air. Terkadang kita pula yang menumbuhkan rasa takut di hati mereka. Tentang pocong keliling yang sedang rajin berjalan-jalan di tengah malam, tentang jahatnya para penculik yang berkeliaaran mencari anak yang tak suka makan dan sebagainya.

Jadi, lebih baik kita bijak dan memahami dunia mereka, dunia ceria. Lalu kita pun belajar keceriaan dari mereka. Biasakan bersih hati dalam menghadapi keadaan dengan berbaik sangka. Selalu berpikir positif dan bertindak bijak. Tak ada yang sulit bagi yang benar-benar ingin ceria dalam hidupnya. Bukankah hidup di dunia hanya sekejap saja, jadi lebih indah dengan keceriaan dan kebahagiaan bukan.

Iklan

Tentang achoey el haris

Seorang lelaki sahaja yang gemar menulis. Dan blog baginya adalah media untuk menyalurkan kegemarannya itu. Salah satu pendiri Komunitas Blogger Kota dan Kabupaten Bogor (BLOGOR). Pengasuh Pojok Puisi. Anggota Komunitas Menulis Bogor (KMB) dan Kopi Sastra.
Pos ini dipublikasikan di Hikmah dan Motivasi, Kisah Lalu dan tag , , , , . Tandai permalink.

30 Balasan ke Belajar Ceria dari Anak-Anak

  1. alamendah berkata:

    (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Terkadang saya juga kepengen kembali ke masa kecil. Dunia penuh ceria.
    Makanya seneng banget ketika lagi bersama anak-anak kecil.

  2. kidungjingga berkata:

    dunia anak2 yang ‘sederhana’ terkadang bikin kangen juga ya…

  3. Aribicara berkata:

    Dunia anak adalah duniaku, membuat keceriaan diraut wajah lugu mereka adalah kebanggaanku…

    Dunia anak2 adalah dunia masa lalu kita 🙂

  4. edratna berkata:

    Dunia anak-anak yang tanpa beban memang menyenangkan, dan justru saat awal-awal seperti ini kewajiban orangtua untuk memberi pendidikan dasar agama, budi pekerti, unggah ungguh…yang semua harus dikemas dalam bentuk bermain dan suasana menyenangkan.

  5. ilyasafsoh.com berkata:

    anak-anak yang jujur dan lugu dari sebuah desa,

    kang

    aku ingin memeluk mereka

    ========

    dan lindungi mereka dari pemangsa : pedofilia

  6. Wempi berkata:

    Saat nya bikin anak choey 😆

  7. Pencerah berkata:

    kok jadi pengen punya anak ya….

  8. yangputri berkata:

    walah setelah baca postingan AA kok jadi pengen kembali ke masa anak-anak ya…..
    soalnya aku dulu paling seneng maen tanah.. xixixixiixiii

  9. salam
    keduluan alamendah terus…
    karena kepolosannya anak2 jadi sering melakukan hal2 yang jujur dan benar dan terkadang orang dewasa harus bercermin pada anak2.

  10. tary si lempah kuning berkata:

    dunia anak kecil adalah dunia tanpa beban
    dunia yang indah dan aku sangat merindukan kembali masa kecil itu yang pastinya nggak akan bisa terulang lagi.

  11. indra1082 berkata:

    sekarang jarang melihat anak-anak kecil berbondong2 menuju Surau atau musholla untuk sholat berjamaah dan mengaji seperti jaman saya kecil dulu..
    Sekarang malah pada muter2 sarung buat berantem2an.. :mrgreen:

  12. d-Gadget™ berkata:

    kunjungan perdana..tulisan yg mengingatkan masa lalu…
    salam kenal

  13. Caride™ berkata:

    masa kecil adalah masa keceriaan…? seharusnya pun demikian…nyaris tidak ada beban tapi…hmmmm sudahlah..
    salam kenal

  14. Didien® berkata:

    meski hidup serba sederhana namun masa kecil tetap ceria…hmmm jadi ingat beberapa puluh tahun yg lalu…
    ingin berbagi info Coin IBSN Peduli Keadilan

    salam, ^_^

  15. mamah aline berkata:

    masa kanak-kanak yang ceria membuat kita ingin kembali menikmatinya ya

  16. Gravisware berkata:

    bener bang, anak-anak memiliki banyak hal yang justru sudah tidak bisa lagi (atau dilupakan) oleh orang-orang dewasa seperti kita..

  17. sunflo berkata:

    keknya masa kecil achoey indah bgt yaa…deket ma alam…kek bolang.. sekarang gmana choey? masih deket ma alam?? (bukan alamendah loh…^^)

  18. trendy berkata:

    bukankah kotor itu belajar, ya nggak kang achoey!
    cerialah terus anak2!
    wekekekekeke!

  19. JR berkata:

    wakh kalo melihat anak yang sedang mencari sesuatu ilmu atau lainnya pasti akan begitu kang….
    kumaha kang daramang sadayana di bogor? iraha ka ciamis

  20. dedekusn berkata:

    Masa anak-anak yang juga saya alami,…
    keceriaan masa itu tak akan terulang lagi. SUkes

  21. wi3nd berkata:

    masa kecil dirimu indah ya A..

    anak anak meman9 selalu membawa keceriaan,senen9 rasanya jika berada diantara mreka,jadi siapa yan9 seperti anak anak ya 😀

  22. indra java berkata:

    Semangat Siang …
    Salam BW kang :mrgreen:

  23. thepenks berkata:

    jadi inget masa kecil dulu…

  24. omiyan berkata:

    Mereka penuh kepolosan dan kejujuran

  25. Miftahgeek berkata:

    lagi – lagi gagal pertamax T.T

  26. Hariez berkata:

    putri kecilku pun demikian Kang penuh keceriaan dan selalu ada pertanyaan untuk kedua orang tuanya sepulang kerja 😀

  27. Irawan berkata:

    Ntar kalo dah tua-tua perilaku kaya anak-anak dibilang kekanak-kanak-an.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s