Belajar Berenang dengan Tenggelam


Hujan telah lama hilang, kampung pun mulai gersang. Sungai kecil yang mengalir menjadi harapan tuk membuat padi tetap tumbuh hijau lalu menguning. Menjadi harapan agar ikan-ikan di kolam tak bergelimpangan karena tak ada air yang merupakan dunia hidupnya. Sungai juga menjadi harapan bagi warga yang tidak memiliki sumur di rumahnya, atau juga bagi mereka yang air sumurnya mengering. Jadilah sungai itu untuk mandi juga untuk mencuci.

Karena kemarau, air sungai itu makin berkurang, mengecil. Maka sudah selayaknya segera dibuatkan bendungan agar air sungai terhimpun dan bisa dimanfaatkan. Jika sungai kecil itu telah dibendung, kedalaman airnya bisa setinggi orang dewasa, bahkan bisa lebih tinggi dari itu.

Bagi anak-anak kecil di kampug kami, sungai yang dibendung adalah fasilitas baru keceriaan. Berenang adalah salah satu permainan yang sangat mereka sukai selain bermain bola, bermain kelereng, bermain perang-perangan dan permainan-permainan lainnya.

Anak-anak kecil di kampung kami bisa berenang karena sungai kecil itu. Dan tentunya karena keberanian mereka untuk mencoba menceburkan diri ke dalamnya. Keberanian adalah modal awalnya, dan selanjutnya adalah kesungguhan untuk benar-benar bisa sehingga belajar pun pantang menyerah. Belajar tanpa beban, belajar dengan penuh kegembiraan. Ya, meski bergalon-galon air sungai terminum tanpa sengaja, tapi ini adalah bagian dari resiko dan pengorbanan untuk bisa.

Kini giliranku untuk bisa, aku tak mungkin terus menerus berenang dengan memegang sebatang pohon pisang, atau dengan memohon pada ban penuh tambalan yang membiarkanku turut terapung bersamanya. Aku pun meloncat dari pinggir sungai dengan tekad yang bulat. Dan jebuuuur, tubuh kecil ini memecah ketenangan air. Tubuhku menusuk labung sungai, mencoba mencari dasar, namun tak ada yang mampu kusentuh dengan kakiku yang mungil, sungai ini teralu dalam untuk bocah sekecil aku.

Beberapa teguk air telah kuminum, seiring detak jantung yang semakin melemah tanpa oksigen. Tapi aku bukan bagian dari anak-anak kecil di kampung ini jika segera menyerah. Aku harus tetap hidup, harus. Tangan dan kakiku bergerak semampunya, dan akhirnya sesuatu mampu kusentuh, rerumputan di pinggir sungai. Namun rerumputan itu ternyata tak mampu menahan berat tubuhku, aku kembali tenggelam. Kembali ku gerakkan tangan dan kakiku, hingga dengan perjuangan melelahkan akhirnya aku bisa merapat di pinggir sungai. Memeluk tanah, terengah. Kubiarkan tubuhku menghirup oksigen sepuasnya, dan aku kembali hidup.

Kejadian sore itu tak membuatku trauma, justru aku berpikir bahwa kejadian itu adalah tahapan sedikit lagi bagiku untuk menjadi bisa, bisa berenang tentunya. Esoknya kembali kuberanikan diri tuk menceburkan tubuh penuh lumpur sisa bermain bola. Dan tentunya kondisinya berbeda, aku lebih mampu melepaskan diri dari pelukan kedalaman air itu, aku menepi meski beberapa liter air sungai kembali kuteguk. Aku semakin bersemangat. Dengan cara ini aku menemukan teknik agar aku bisa tetap mengambang. Dan kemampuan itu terus aku latih hingga bisa, hingga terbiasa. Lalu, aku pun bisa seperti teman-temanku yang telah lebih dulu bisa. Kami berenang bersama, menyelam bersama. Bahkan kami suka bermain lempar bola sambil berenang. Dan tentunya permainan ini hanya bagi mereka yang benar-benar bisa mengambang lebih lama, cukup kakinya yang digerakkan, dan tangannya sibuk melempar dan menangkap bola.

Kami berlomba untuk menentukkan siapa yang paling cepat berenang, hadiahnya adalah pengakuan dari teman-teman yang ada di sana. Bahwa sang pemenang adalah yang paling hebat renangnya. Kami berlomba tuk menentukan siapa yang paling jauh menyelamnya. Lagi-lagi hadiahnya berupa pengakuan. Dan esok sang juara bisa saja berpindah, karena kami semua terus belajar untuk memperbaiki kemampuan. Tanpa dhoping, tanpa kecurangan.

Belasan tahun kemudian, aku masih bisa menyaksikan beberapa anak terjun ke sungai itu dengan riangnya. Namun ada yang berbeda, sungai itu semakin dangkal, dan airnya semakin kotor. Anak-anak itu mungkin tidak seberuntung aku, yang bisa berenang di sana dengan sungai yang masih dalam dan airnya yang relatif lebih jernih ketimbang sekarang. Tapi tak ada masalah bagi anak-anak yang senantiasa ceria. Justru masalahnya ada pada kita yang kini telah dewasa, apa jadinya sungai ini, alam ini beberapa tahun kemudian, jika tak kita jaga dan lestarikan.

Iklan

Tentang achoey el haris

Seorang lelaki sahaja yang gemar menulis. Dan blog baginya adalah media untuk menyalurkan kegemarannya itu. Salah satu pendiri Komunitas Blogger Kota dan Kabupaten Bogor (BLOGOR). Pengasuh Pojok Puisi. Anggota Komunitas Menulis Bogor (KMB) dan Kopi Sastra.
Pos ini dipublikasikan di Kisah Lalu dan tag , , , , . Tandai permalink.

21 Balasan ke Belajar Berenang dengan Tenggelam

  1. alamendah berkata:

    (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Sayapun mahir berenang. Berenang gaya batu, sekali nyebur langsung sampai dasar.
    Hehehehehehe

  2. Hary4n4 berkata:

    Saya juga mahir, Kang… Renang gaya dada… Habis nyebur, langsung…daaddaaaaa…. Selamat tinggal… Hehehe… 😀
    Jadi pingin kembali ke masa bocah dulu… Dan jadi ingat, kalo pernah tenggelam sampai berkali-kali… 🙂
    Sayang, anak2 sekarang..tak dapat lagi berenang di sungai yg jernih dan dalam… Sayang banget…

  3. racheedus berkata:

    Awal bisa berenang, saya nekat berlomba menyeberangi sungai. Saat itu, sungai masih banyak digunakan untuk lalu lintas air, seperti layaknya sungai-sungai di Kalimantan. Duhai, ternyata saya kehabisan nafas di tengah-tengah sungai. Untung saja, ada teman yang membantu menyeretku ke tepian. Kalau tidak, mungkin saya tak bisa menulis komentar ini.

  4. Farijs van Java berkata:

    karena pernah hampir tenggelam dan pernah ditenggelam-tenggelamkan teman lantaran “belajar berenang dengan tenggelam” itu aku sampai sekarang tidak bisa berenang, kang!

  5. ilyasafsoh.com berkata:

    Kau selalu bisa sahabat

    =======
    kemanapun aku melangkahkan kaki blogwalking : AKU MELIHAT WAJAH mu DI SANA

    KAU ADA DIMANA2

  6. wi3nd berkata:

    aku palin9 ja9o berenan9 9aya bebas,bebas lan9sun9 ten99elem & nda muncul la9i 😆

    **trauma pernah ten99elem jd nda mau la9i berenan9 :mrgreen:

  7. Pencerah berkata:

    seperti buku the power of kepepet

  8. komuter berkata:

    belajar berenang dengan tenggelam…
    .
    berhasil setelah mengalami kegagalan…

  9. Joddie berkata:

    Namun ada yang berbeda, sungai itu semakin dangkal, dan airnya semakin kotor. Anak-anak itu mungkin tidak seberuntung aku –> kasian yah anak-anak sekarang.. gak bisa menikmati keceriaan seperti dulu.. 😦

  10. Ria berkata:

    aku baru bisa berenang di umur searang mas…hahahaha…dan setelah bisa baru bisa mengexplose berbagai gaya…asal yakin dan usaha pasti bisa deh 😀

  11. NURA berkata:

    salam sobat
    wah dengan tenggelam ,jadi bisa berenang ya,,,
    pelajaran nich buat anak saya.

    salam kenal dari sahabat nun jauh disana

  12. sunflo berkata:

    waahh…sayang sekali ya choey…kebanyakan dr kita kurang bisa menjaga kelestarian alam…:(

  13. yangputri berkata:

    mampir lagi kang achoey….
    maaf setelah beberapa hari blog ini terlewatkan…

  14. hanif berkata:

    Aku masih belum bisa berenang dan masih trauma dengan tenggelamku hik…T.T

  15. noun berkata:

    aku dulu berawal dari keyakinan kuat.. ditambah dengan les privat renang.. dan semangat yang lumayan kuat. walau sering banget pengen nyerah.. 🙂

  16. Zico Alviandri berkata:

    Inspiring ceritanya 🙂

  17. bukan facebook berkata:

    salah satu kekuarangan saya yang disesali hingga sebesar begini adalah saya gak bisa berenang… 😦

    Mungkin karena saya ndak pernah “tenggelam”

  18. Miftahgeek berkata:

    jadi kepikiran sungai yang pernah dijadikan sarana berenang saat sd dulu T.T

  19. rayyahidayat berkata:

    …sebab selain memanah, berenang adalah salah satu bela diri yang pernah Muhammad ajarkan kepada cucu-cucu beliau.

  20. Hariez berkata:

    rusak pastinya jikalau kita tak bisa melestarikan alam tidak sedari sekarang dan harus dimulai dari diri sendiri 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s