Air Terjun Harapan


Gemericik air terjun tak henti menabuh irama memecah sunyi. Seolah tak bosan tuk mengingatkan bahwa kehidupan kan lebih terasa mudah jika dibiarkan mengalir seperti air. Tapi bukanlah Ali jika dia dengan mudah menerima kesepahaman khalayak. Dia punya tataran tersendiri. Baginya hidup janganlah seperti air mengalir. Terlalu pasrah pada kondisi yang ada. Lihatlah, ketika air sudah terjebak ke daratan terendah, dia tidak bisa lagi mampu ke tujuannya semula, samudera. Yang ada, lama-lama air itu terserap tanah dan sebagian lagi musnah menguap karena sinar mentari. Ali tidak ingin seperti itu, baginya hidup adalah sesuatu yang menuntut kesungguhan dalam setiap episodenya.

Di sini Ali menyendiri. Ponselnya di non aktifkan. Sengaja dia memposisikan dirinya jauh dari air terjun di mana banyak orang yang dengan riangnya bermain air. Ali tak butuh sentuhan sejuk air pegunungan itu, yang Ali butuhkan adalah kesegaran hutan yang dengan mudah dia jumpai di kampung halaman. Ini bukan hanya soal kerinduan, tapi ini soal betapa kuatnya hijau alam dalam menyegarkan pikirannya. Dan Ali butuh itu sekarang.

Ali tersenyum, ketika dilihatnya kertas putih itu telah terhiaskan beberapa bait tulisan. Beberapa kali dia tepuk pundaknya. “Selamat, selamat Al”, gumamnya. Ali memang selalu berusaha untuk menjadi sahabat terbaik buat dirinya. Terlalu banyak di dunia ini orang yang seringkali tidak bersahabat dengan dirinya. Sehingga hidup mereka seringkali terpuruk dan tidak indah. Pada diri mereka saja sudah tidak bersahabat, bagaimana bisa bersahabat dengan orang lain. Ya, tapi seperti itulah kenyataan yang seringkali dia temukan.

Tiga jam Ali telah menghabiskan waktunya di kaki gunung ini. Kini saatnya Ali kembali turun gunung. Sudah cukup modal awalnya tuk kembali lagi menikmati riuh ramai kepentingan. Bismillah dia ucapkan dengan senyuman mengiringi nyanyian burung yang bersahutan. Dan kaki pun melangkah ringan, penuh harapan, bertahtahkan keyakinan dan prasangka baik terhadap Tuhan.

————————————————————————————————–

Pemuda itu mencoba menutup matanya, diresapinya alunan lagu syahdu yang telah dipersiapkan tuk menemani perjalanannya. Bogor-Bandung bukanlah jarak yang jauh, terlebih dia tahu betul bahwa sesampainya di sana, dia kan mendapatkan banyak ilmu, kan bertambah pengetahuannya.

Bis ini sepertinya sedang mujur, hampir semua tempat duduk terisi. Begitu pun tempat duduk di samping pemuda tadi, seseorang telah mengisinya.  Pak sopir pun segera menjalankan tugasnya, mengemudikan bis ini sesuai rutenya. Ali sengaja naik bis kali ini, ada sisi pengalaman yang ingin di kenangnya, saat mahasiswa dulu.

Pintu tol telah terlewati, saatnya Pak sopir menancap gas di jalan bebas hambatan yang seringkali banyak hambatan. Para penumpang seolah memiliki dunia masing-masing. Hanya beberapa saja yang bercengkrama, mereka yang memposisikan diri tepat disamping orang-orang terdekatnya.

Pemuda itu membuka mata, saat dering memotong alunan syahdu. Dia menerima panggilan itu. Beberapa kalimat terucap, memastikan bahwa dia kan baik-baik saja. Selalu ada perhatian untuk Ali, dari gadis-gadis yang dengan tulus berjuang. Ya, pemuda itu tiada lain adalah Ali. Ali yang konon telah memposisikan dirinya pada “titik pasrah”, satu tahap di atas “titik ikhlas”.

Ali mencoa melirik sosok yang ada di sampingnya. Ehm, ternyata dia seseorang berwujud perempuan. Biasanya perempuan mudah tersimpulkan dari wangi parfumnya, tapi ini tidak. Tidak ada wangi berlebih dari sosoknya, tapi tak tercium pula wangi tak sedap. Ali berpikir bahwa perempaun di sampingnya adalah sosok wanita dewasa (kata lebih halus tuk kata tua).

Ali mencoba mengarahkan tatapannya, berharap menjadi akrab dan mendapat banyak ilmu dari sosok yang ada di sampingnya. Bukankah perempuan dewasa itu biasanya memiliki banyak pengalaman yang kan menambah khazanah pengetahuannya. Terlebih dia meihat ada buku di genggaman perempuan tadi. Ya, Ali sudah merancang pertanyaan pembuka yang baik.

“Maaf bu, sepertinya buku bagus, apa judulnya?”

“Indah Bila Waktunya. Saya baru separuh membacanya namun saya sudah terkesan.”

Ali menggigit bibirnya, ada yang salah, ya ada yang salah. Ternyata sosok yang duduk di sampingnya ini masih muda. Kini Ali kikuk, apa yang harus dilakukannya. Haruskah dia minta maaf pada gadis ini.

“Oh ya maaf, Kakak sudah membacanya?”

Jantung Ali berdetak kencang. Gadis itu memanggilnya kakak. Padahal tadi jelas-jelas Ali telah memanggilnya Bu. Ali menarik nafas panjang lalu menghembuskannya.

“Sudah. Tapi kaka belum menemukannya.”

Gadis itu tersenyum. Lalu kembali bertanya.

“Menemukan apa Kak?”

“Menemukan ….” Ali menggaruk-garuk kepalanya. Dia berusaha tuk tidak terlalu terbuka, terlebih mengumumkan kalau dia belum menemukan sosok yang pas untuk mendampingi hidupnya. Apa pentingnya dia bercerita pada gadis yang belum dikenalnya.

“Bersabarlah Kak, yakinlah bahwa jodoh Kakak itu telah Allah siapkan. Indah bila waktunya, ya seperti judul buku ini.”

Gadis ini ternyata bijak juga. Ali sedang berusaha menilainya. Sepintas tadi menatap wajahnya, subhanallah. Ada bunga di hati Ali, menebarkan keharuman ke seluruh penjurunya. Terbentuklah pelangi berjuta warna, dan Ali berusaha menerka.

Bis itu fokus melaju, tak sedikit pun menggubris tingkah laku seisinya. Jalan tol ini yang membuatnya terlena, memutar roda tanpa jeda. Hingga tiba di pintu keluarnya, dan selamat datang di kota kembang.

—————————————————————————————————-

Ali duduk di meja yang membentuk lingkaran oval itu. Di sisi kiri dan kanannya tampak sosok-sosok matang pengalaman. Lingkar perut mereka telah melebar, seiring kesuksesan mereka yang terus membesar. Ali bersyukur karena dia menjadi sosok termuda di lingkaran itu. Namun soal dia yang terkurus, bukan kebanggaan baginya, bukan pula sesuatu yang tak perlu dia syukuri, ini jelas bukan soal.

Ada getar di ponsel yang sengaja disenyapkan suaranya. Dia baca isi SMS itu.

“Buku ini telah selesai Nisa baca. Adakah A kan membantu Nisa menunjukannya?”

Lantas jemari Ali dengan refleks membalasnya

“Kapan A harus menemui kedua orang tuamu, melamarmu?”

“Malam ini A.”

Ali menghempaskan punggung ke sandaran kursinya. Ditariknya nafasnya dalam-dalam. Ada gejolak di dadanya. Bahagia bercampur aneka rasa lainnya. Ditatapnya selembar kartu nama. Agnia Nisa Salsabila.

Iklan

Tentang achoey el haris

Seorang lelaki sahaja yang gemar menulis. Dan blog baginya adalah media untuk menyalurkan kegemarannya itu. Salah satu pendiri Komunitas Blogger Kota dan Kabupaten Bogor (BLOGOR). Pengasuh Pojok Puisi. Anggota Komunitas Menulis Bogor (KMB) dan Kopi Sastra.
Pos ini dipublikasikan di Kreasi Fiksi dan tag , , , . Tandai permalink.

15 Balasan ke Air Terjun Harapan

  1. Bayu Ratri berkata:

    mampir bro. maaf, belum sempet baca. yang penting ninggalin jejak dlu. soalnya dah jam lima. thanx dah mampir di http://rumahdanmimpi.blogspot.com

    ————————————————————————-
    Yup 😀

  2. trendy berkata:

    ngelamar itu susah ternyata ya…!
    perlu pengorbanan dan keberanian!
    heheheheh

    ————————————————————
    Hehehe, suatu saat saya kan mencobanya 😀

  3. Ayam Cinta berkata:

    sempat membawaku terbang kemasalalu….. Fuih….

    —————————————————————
    Wah, berarti masa lalunya indah y sobat 🙂

  4. Pencerah berkata:

    lah namanya kok mengingatkan aku pada dianya yang telah lalu

    ————————————————————–
    Benarkah itu sobat? 🙂

  5. endra berkata:

    kaya apa ya rasanya melamar….
    mungkin esok aku akan tahu hehe…

    —————————————————————-
    Moga kita bisa merasakannya ya 😀

  6. Farijs van Java berkata:

    wuih, kapan nih nerbitin buku, kang?

    ——————————————————-
    Sudah layakkah aku sobat? 🙂

  7. Hariez berkata:

    yapzzz..aku pernah membacanya Kang dan tetap setia menyukai peranan Ali 😀

    oh ya, sejalan dengan Farijs van Java kapan membukukan fiksimu ? pasti laris 😳

    ———————————————————————–
    Kau memang pembaca setia sobat.
    Ehm, sudah layakkah aku menerbitkan buku? 🙂

  8. geRrilyawan berkata:

    lama nggak kemari…ternyata dirumu sudah siap-siap melamar kang?

    ——————————————————————–
    Hehehe, bukan alasan ini. Ini kan cuma fiksi sobat 😀

  9. Aribicara berkata:

    Emang dah mau lamaran ? 😀

    Salam 🙂

    ——————————————————
    Waduh, ini cuma fiksi. Hehehe

  10. o2n° berkata:

    Wah bagus tuh ceritanya cocok buat teladan anak muda

    ————————————————————————
    makasih ya sobat 🙂

  11. Fanda berkata:

    Kisah yg dirangkai dengan apik. Ringan tapi enak dibaca.

    —————————————————————————–
    Makasih sahabatku. Semoga aku bisa menulis lebih baik lagi 🙂

  12. wi3nd berkata:

    namanya ba9us 🙂

    ehem..semo9a itu menjadi nyata untuk ALi dan penulisnya,amin 😉

    ——————————————————————-
    A kan tukang bikin nama hehehe. Amin 🙂

  13. ilyasafsoh.com berkata:

    air juga berubah

    —————————-
    di tulisanku 🙂

  14. Vie berkata:

    Kembali ku temukan kau di sini Ali… 🙂

    Ouy… Thx’z ya A udh kasih support untuk ngeblog lagi, tapi entah apa yang sedang terjadi dengan pikiran dan tangan ini, berat sekali rasanya untuk mencoba merangkai berbagai cerita baik itu fiksi atau dari realita kehidupan…
    Semangat itu tetap ada A…

    ——————————————————
    Gpp, nanti juga bisa kembali ngeblog 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s