Berjalan Kaki dan Ketawadhuan


Mengingat masa kecil dulu, saat langkah kaki ini begitu banyak jumlahnya. Terayun ringan tanpa beban, berjalan bahkan kadang berlarian. Menhentak bumi seolah mencoba mengingatkannya, bahwa kelak langkah kaki ini kan kembali berpijak, setelah lama tak menghentak.

Saat kecil dulu aku pergi ke sekolah dengan berjaalan kaki, baik SD dan permulaan SMA. Jauhnya perjalanan tak terasa, karena ada banyak pembicaraan yang seringkali mengundang tawa di sana.

Langkah kami adalah langkah bahagia, meski berpeluh yang penting tak ada keluh. Ya, karena dalam setiap langkah ada harapan, dalam setipa langkah ada keceriaan.

Namun keadaan berubah seiring jaman, di mana beberapa dari sahabatku mulai mengendarai sepeda motornya. Lalu keluh pun muncul pada diriku, dan hasilnya aku pun menjadi bagian dari mereka, tak lagi melangkah kaki tuk sampai di sekolah.

Saat itu ada perubahan dalam diri, dimana putaran roda adalah kesombongan, sementara langkah kaki ketawadhuan semakin aku tinggalkan. Ayah dan bunda ku pernah memprediksikaan hal ini, bahwa kemungkinan kan ada perubahan yang kurang positif pada keseharianku. Ya, aku semakin jauh meninggalkan kesederhanaan, semakin urakan. Hingga kecelakaan itu, membawaku kembali ke rumah dengan penyesalan.

Kendaraan selayaknya membantu kita tuk mampu lebih memanfaatkan waktu dengan baik, bukannya untuk sombong. 🙂

Kini, sesekali kusempatkan lagi tuk berjalan kaki, meski tak jauh jaraknya. Hanya satu yang ingin kembali kutumbuhkan, ketawadhuan. Semoga bisa.

Iklan

Tentang achoey el haris

Seorang lelaki sahaja yang gemar menulis. Dan blog baginya adalah media untuk menyalurkan kegemarannya itu. Salah satu pendiri Komunitas Blogger Kota dan Kabupaten Bogor (BLOGOR). Pengasuh Pojok Puisi. Anggota Komunitas Menulis Bogor (KMB) dan Kopi Sastra.
Pos ini dipublikasikan di Hikmah dan Motivasi dan tag , . Tandai permalink.

15 Balasan ke Berjalan Kaki dan Ketawadhuan

  1. Siti Fatimah Ahmad berkata:

    Assalaamu’alaikum ..

    Setuju. …kenderaan menjadi alat penghubung untuk memudahkan segala urusan kita. Tidak semestinya kesombongan akan wujud dan tawadhuk akan hilang jika kita diulit sedikit kemewahan yang dikurniakan. Yang penting kita tahu diri dan banyak bersyukur.

    Betul kata Achoey…memiliki sedikit “kekayaan” dari orang lain kadang kala membuat kita hilang pedoman kecuali sudah diberi ‘ajar” dari Yang Maha Kuasa baharu kita sedar betapa kerdil dan lemahnya kita ini. Semoga kita semua mendapat pengajaran dari setiap yang prnah berlaku dalam hidup kita.

  2. kucingkeren berkata:

    seandainya saja, lingkungan ini aman dari kriminal dan polusi..pasti aku juga jalan kaki ke tempat kerja. wish i can do that..

  3. KangBoed berkata:

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang Sahabatku yang baik.. terus semangat mencari JATI DIRI.. sekaligus mencipta dan berkarya.. saluteeeeeeee

  4. kenangamu berkata:

    Assalamualaikum
    Kenanga sudah kemali nih A…
    lama tak bersua kangen juga…
    btw kita mau kopdar di kuis sapa paling brani yah??

  5. afwan auliyar berkata:

    jalan kaki, bikin sehat mas 🙂
    tp sebenrnya lebih karena nggak pny kendaraaan 😀

  6. Pencerah berkata:

    Memang kita harus hati2 dengan kesombongan

  7. emfajar berkata:

    jalan kaki lebih hemat drpd pake kendaraan :mrgreen:

  8. Jaya berkata:

    Kenapa gak naik sepeda aja.. karena kendaraan bermotor banyak menyebabkan polusi… 🙂

  9. yanti berkata:

    Selamat Nyontreng….

  10. nomercy berkata:

    sejak esde sampai esema saya juga berjalan kaki ke sekolah … maklum tinggal di desa … jarak berkilo-kilo meter ditempuh secara bersahaja … ilmu kehidupan menunggu untuk direngkuh … walau peluh membasah, tak kunjung melepas lelah … namun sewaktu tinggal di kota dan kuliah, ada saatnya harus memanfaatkan kendaraan umum untuk menjangkau jarak tempuh yang jauh …
    tetapi sampai sekarang pun saya masih menyukai berjalan kaki … banyak yang dapat dilihat, baik yang tersurat maupun yang tersirat sepanjang kaki melangkah …

    semoga jejak langkah selama ini dapat memberi nikmat dalam kehidupan …

  11. Hariez berkata:

    Apa kabarmu Kang..?? ya..akupun pernah mengalami hal seperti itu Kang, dimana berjalan kaki ke sekolah dengan jarak 5Km pada waktu SD dan bersepeda sejauh 5Km pada waktu SMP namun kian hari aku semakin menjadi dengan merengek ingin mengendarai sepeda motor alhasil, aku mendapat hukuman harus pulang pergi dengan naik angkot saja. Tapi justru hal itu pula yang mengajarkan arti dari sebuah kesederhanaan untukku 😀 semoga kita bisa ya Kang…Amien

    -salam- ^_^

  12. Nisa berkata:

    saya suka berjalan.. ^^ apalagi kalau pemandanganx indah 😀

  13. wi3nd berkata:

    klu madih deket deket seeh nda masalaH jalaN kaki
    tpai klu da jauu,pe9euL A 😀

    ecH tapi klu jalan kaki didlam hutan like trackin9 or pas naek 9unun9 seeh hayuk ajah,fun fun ajah hehe

    A pasti bisa..!!mantabkan ketawaduannya 😉

  14. ceuceusovi berkata:

    memang… pada dasarnya apapun yang kita lewati dalam hidup akan terasa baik, buruk, menyedihkan atau menyenangkan tergantung dari bagaimana kita memaknainya.. berjalan kaki, naik roda dua, naik roda empat..tak masalah.. punya kendaraan atau tidak.. tak masalah.. kita akan tetap bahagia, tawadhu, selama mampu memaknai semuanya dengan baik.. Jika sesuatu yang buruk terjadi..kembalikanlah padaNya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s