Aku Bukan Dosen, Aku Pedagang Kaki Lima


cucu harisMataku masih berkaca, rasa haru menerpa. Terbayang beberapa tahun ke belakang, dan sebuah pesan di Facebook dari seorang sahabat yang baru saja aku bacalah yang menjadi penyebabnya.

Sahabatku mengajakku berlari ke Dadaha, dan mengingatkanku saat-saat menjadi pedagang kaki lima di sana, bersamanya dan sahabatku yang lain.

Dadaha adalah salah satu daerah di Tasikmalaya yang menjadi komplek sarana olah raga. GOR Susi Susanti (pahlawan bulu tangkis Indonesia) juga terletak di sana. Seiring dengan berkumpulnya banyak orang di Dadaha, maka muncul peluang. Pedagang kecil pun bermunculan di sana. Bahkan di hari minggu pagi, muncul pasar kaget yang biasa disebut pasar kojengkang.

Setelah aku mendapatkan gelar sarjana, riuh ramah diberitakan banyak sahabat kalau aku adalah seseorang yang beruntung karena mendapatkan penghormatan tuk mengabdi di kampusku, menjadi dosen. Aku tersenyum, ketika banyak sahabat mengucapkan selamat, bahkan beberapa diantaranya sangat senang dan berharap saat ujian kelak aku yang mengawas mereka, sehingga bisa bertanya jawabannya, wakakak.

Tapi apa yang terjadi, semua dibuat kaget saat mereka mendapati aku menjaga sebuah lapak kaki lima tuk jualan ketoprak dan nasi TO (makanan khas Tasik). Tak hanya sampai di sana, mereka lebih dibuat kaget lagi saat mendapati aku di hari minggi pagi menggelar tikar dan menjajakan barang dagangan di sana, di pasar kojengkang. Ada kerudung, ada kolor, bahkan ada juga strit.

Adakah yang salah. Aku jawab tidak. Sejak awal aku ingin menjadi seorang wirausahawan. Dan untuk merealisasikan hal itu, maka langkah pertamaku adalah dengan menumbuhkan mental itu. Semua harus diawali dari menghempas manja dan membuang rasa gengsi. Aku harus menumbuhkan karakter pekerja keras dalam diriku. Aku juga harus menumbuhkan sikap penuh ikhlas dalam hatiku. Karena dengan berjualan di sana, terkadang aku hanya mendapati lembaran ribuan, padahal terik mentari membakar kulit yang (maaf) putih dan bersih ini. Dan aku merasakan potensiku terlejitkan di sana. Alhamdulillah.

Ehmm, “Achoey, seorang aktifis kampus dengan IPK bagus malah memilih menjadi pedagang  kaki lima ketimbang dosen.” Ah, betapa aku ingat beberapa celetukan sahabat. Aku hanya tersenyum menyikapinya. Inilah aku, seorang lelaki aneh yang sedang menikmati etape perjalanannya. Maka wajar jika seorang sahabat yang dah lebih dari setahun tak bersua, tadi malam di Mie Janda bilang (kurang lebih), “Sejak awal kau memang seperti ini, memiliki target yang buatku misteri, dan mungkin inilah salah satu kejutannya.”

Semoga saja aku tetap dapat menikmati jalan sahaja.

Iklan

Tentang achoey el haris

Seorang lelaki sahaja yang gemar menulis. Dan blog baginya adalah media untuk menyalurkan kegemarannya itu. Salah satu pendiri Komunitas Blogger Kota dan Kabupaten Bogor (BLOGOR). Pengasuh Pojok Puisi. Anggota Komunitas Menulis Bogor (KMB) dan Kopi Sastra.
Pos ini dipublikasikan di Wirausaha dan tag , , , , , . Tandai permalink.

37 Balasan ke Aku Bukan Dosen, Aku Pedagang Kaki Lima

  1. yoan berkata:

    subhanallah si om…

    iya deh om…
    mengikuti kata hati memang lebih baik daripada mengikuti omongan orang…

    tetep semangat ya om…. 😀

  2. kawanlama95 berkata:

    Ya hampir sama mas, dari dulu nga pernah tertarik ngelamar kerjaan, aneh ya. saudaraku kalau saja engkau tau tentang diriku secara integral maka engkau akan mengenal aku lebih dari apa yang kau tahu.kang Alhamdullilah Allah sudah kasih saya kesempatan tak terhingga , banyak mendapatkan hal-hal yang diluar dugaan. Kadang sampe bingung mau beli apa, kadang mau diapain neeh duit. bahkan sampe bingung wah mau makan duitnya hanya untuk transport pulang kerumah .ya intinya dari miskin menjadi kaya eh miskin lagi eh kaya lagi dan seterusnya.

  3. kawanlama95 berkata:

    Setelah berbagi dengan nurani aku mendapat catatan kecil namun berguna. Setelah kukaji selama hampir satu bulan , ternyata Kadang takdir sesuai kehendak kita walau terkadang ada sesuatu yang tak terduga.
    Niat adalah Utama dan semuanya diniatkan Karena Allah atau niat kebaikan dan jangan meniatkan karena egoisme diri.
    Kapabelitas adalah penting bila tujuan sudah ditetapkan maka kemampuan diri harus dibangun sesuai porsi dari tujuan tersebut. sehinga ketika mendekati tujuan maka akan mudah mendapatkannya.
    Usaha keras adalah penting apapun yang terjadi bergerak adalah kewajiban
    dan berakhir tawakal untuk itu maka terseyumlah 🙂

  4. coretanpinggir berkata:

    Hidup Mie Janda!…. Ayo kita makan Mie Janda, jangan makan mie instan terus…….. 🙂

    Salam

    Popop

  5. Heryan Tony berkata:

    Iya, sob.
    Sama seperti saya ni, menyimpang dari jalur utama.
    Yang penting kita senang dan bahagia.

  6. Nisa berkata:

    Subhanallah…

    Nisa harus banyak belajar dari mas achoey…. ^^

  7. wempi berkata:

    Wempi juga bukan dosen.

  8. Hariez berkata:

    aku malah dijajah dosen kang 😀

    -salam- ^_^

  9. nakjaDimande berkata:

    itulah mengapa bundo bangga pada A..

  10. Acha berkata:

    jika jalan sahaja itu yang kau pilih, maka konsistenlah, rawat dan peliharalah pilihan tersebut, curahkan segala akal budi ntuk melaksanakan pilihan dimaksud, sampai akhirnya kau dan orang lain akan berkata, “pilihan ini adalah pilihan yang tepat”.
    _salam anget_

  11. “Tapi apa yang terjadi, semua dibuat kaget saat mereka mendapati aku menjaga sebuah lapak kaki lima tuk jualan ketoprak dan nasi TO (makanan khas Tasik). Tak hanya sampai di sana, mereka lebih dibuat kaget lagi saat mendapati aku di hari minggi pagi menggelar tikar dan menjajakan barang dagangan di sana, di pasar kojengkang” bisa dipastikan ada 1:1000 orang yang berbuat sedemikian. jadi dosen dan PKL *salut*

  12. Alnect Computer berkata:

    “Ada kerudung, ada kolor, bahkan ada juga strit”
    strit apaan ya?

  13. geulist133 berkata:

    Baca komen diatas
    Gyahahahahahahahahha 😆

  14. Anita Dahlan berkata:

    Asmlkum
    aa mau dunk nace TO nya ke gmna ya racanya???sejenis apa ya

  15. KangBoed berkata:

    hehehe.. TASIKMALAYA… urang balik yuuuuuuuuuuk.. ka DADAHA deui.. *ngelirik atas*.. jualan CD we ayeuna maaaaah.. kabuuuuur.. kapan mo balik ka ciamisna.. hahaha..
    Salam Sayang

  16. ontohod berkata:

    “seorang lelaki aneh??” ah kau berlebihan, itu kan pilihan, berbahagialah orang yg memilih dengan hati dan tuhanny.

  17. masoglek berkata:

    kapan buka cabang di Muntilan kang. Di Jogja juga boleh 🙂

  18. Irfan berkata:

    semoga saya bisa seperti kang achoey, bisa ngebuktiin ke orang di luar sana…

  19. yangputri berkata:

    Ingin sekali aku bs berwiraswasta sendiri tp apa daya selalu saja gagal, jdnya spt kek gini deh kerja terikat waktu

  20. Hary4n4 berkata:

    Jalan sahaja telah menjadi pilihan hidupmu sobat….dan itu terbaca sangat indah di mataku yg buta ini…. Salam hangat selalu….. 🙂

  21. ariosaja berkata:

    hu uh… semoga saja sampean tetap bersemangat brooo!!! hidup wirausaha

  22. mascayo berkata:

    satu hal yang membedakan sampeyan dengan saya adalah …
    sampeyan punya keberanian untuk memulai.
    Salut kang!

  23. Hariez berkata:

    salah satu kekagumanku kepada Kang Achoey, dengan sosoknya “Sang Sederhana salutt..Kang 😀

    -salam- ^_^

  24. nomercy berkata:

    ini yang namanya “Dahsyat” … 🙂
    sebuah pelajaran berharga untuk saya pribadi …

    /* omong-omong, saya dulu juga pedagang kaki lima … jualan ikat pinggang sampai kartu ucapan … tetapi kok gak sesukses mas Cucu ya … salah resep saya ini … */

    terima kasih mas buat berbaginya … semoga ‘sukses’ selalu menjadi misteri untuk memberikan semangat mencapai tujuan di persimpangan jalan … 🙂

  25. Muzda berkata:

    Bukankah menjadi dosen juga mulia ?
    Ia mengabdi dan mewariskan ilmu.

    Salut untuk pilihannya, kamu konsisten banget.
    Aku malah bercita-cita mau jadi dosen, tapi belum ada kesempatan, belum cukup syarat.

  26. geRrilyawan berkata:

    salut! inspiratif bro…
    angkat topi dan kasih dua jempol untukmu…
    berani untuk mandiri…

  27. Muhidin berkata:

    Sebuah pilihan yang berat, dan bisa dipilih serta dijalankan dengan baik oleh kang achoey. Selamat kang semoga tetap seperti kang achoey adanya. Dosen atau pedagang kaki lima hanyalah sebuah gelar dalam kerja.

  28. insanmuhamadi berkata:

    andai saat di tasik kita pernah bertemu kang!!
    mungkin saya akan belajar langsung.
    dulu saya aliyah di tasik, sering ke dadaha juga.
    salut buat akang!!

  29. wi3nd berkata:

    senan9 ya jika suda bertemu den9an “LenteRA haTi”nya…

  30. eneng ocha berkata:

    alhamdulillah bisa mengenal sosok sederhana ini.. mudah-mudahan silaturahim kita tak kan pernah putus ya Kang ^_^

  31. yanti/ mama Aini berkata:

    Dalam mencari dunia, yang dilakukan nabi Muhammad saw adalah berdagang. Semoga Engkau akan selalu istiqomah disana sahabat… meniru jejak langkah sang Idola..

  32. wanti annurria berkata:

    wuaaahhh muanteb,, 🙂

    tapi kenapa ga diambil dua2nya a’…
    berwirausaha ia,, mengajar juga ia.. kan keduanya profesi yang sama baiknya… 😀

  33. jalanku iklasku. berkata:

    Mas…Kenapa saya jadi pedagang..,
    Karena aku gak menemukan jalan lain…
    Bukan jalan hidup yang disegani orang dan Camer memang..
    aku hanya ingin bisa bertahan hidup…dan berlangsung
    Mas sampeyan benar2….???gak bisa diungkapkan dgn kata
    kok ada orang seperti sampeyan….
    Alhamdulillah ada

  34. jalanku iklasku. berkata:

    aku tetap ingin hidup sederhan……
    Tapi aku memberanikan diri untuk bermimpi menjadi orang kaya raya
    Aku ingin punya Peruasahaan sendiri

  35. jalanku iklasku. berkata:

    terima kasih …………

  36. jalanku iklasku. berkata:

    he..he..he… aku hanya seorang pedagang

  37. pagibening berkata:

    V dulu lumayan sering kedadaha. Sekitar jaman2 V SMA lah. Kita pernah ketemu ga yah sebelumnya? He..he..
    Hebat..hebat.. Chayoo lah A!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s