Tangisan UN


pelajar teladan

Seorang sahabat yang merupakan guru di salah satu sekolah menceritakan kepada saya bahwa ada dua orang siswa di sekolahanya yang tidak lulus Ujian Nasional (UN). Yang membuat dia kaget adalah bahwa kedua orang siswa yang tidak lulus itu adalah siswa yang cukup berprestasi di sekolahnya. Bahkan salah satu dari mereka adalah siswa yang mendapat beasiswa prestasi dari sekolah.

Seorang sahabat yang juga guru di sekolah yang berbeda menceritakan rasa kaget yang serupa. Di sekolahnya ada seorang siswa yang tidak lulus UN. Siswa tersebut adalah siswa yang dikenal pintar dan jujur di sekolahnya. Dan jelas ini membuat geger sekolah.

Seorang siswa menceritakan tentang sahabatnya yang tidak lulus UN. Dia ceritakan bahwa sahabatnya itu tidak mau mencontek. Dia benar-benar mengerjakan ujiannya sendirian. Bahkan saat selesai ujian si sahabatnya itu terlihat menangis. “Saya sejak awal telah menduga bahwa kemungkinan besar dia tidak akan lulus”, begitulah kurang lebih apa yang diucapkan sahabat siswa yang menangis itu.

Ada beberapa cerita lain yang bermuculan dari beberaapa teman guru dan sahabat-sahabat saya yang duduk di bangku kelas XII SMA. Dan dari berbagai cerita itu kok muncul dalam hati, harapan agar UN di tahun depan tak perlu lagi ada. Agar tangisan tak bersahutan, di sana, di mata siswa yang mengerjakan ujian berbekal kemampuan sebenar yang dimilikinya. Semoga saja.

Iklan

Tentang achoey el haris

Seorang lelaki sahaja yang gemar menulis. Dan blog baginya adalah media untuk menyalurkan kegemarannya itu. Salah satu pendiri Komunitas Blogger Kota dan Kabupaten Bogor (BLOGOR). Pengasuh Pojok Puisi. Anggota Komunitas Menulis Bogor (KMB) dan Kopi Sastra.
Pos ini dipublikasikan di Celoteh Hati dan tag , , . Tandai permalink.

36 Balasan ke Tangisan UN

  1. kawanlama95 berkata:

    mas setiap sekolah di kabupaten bogor itu punya tim suksesnya jadi memang sudah ditetapkan berapa persen yang harus lulus. tapi tidak setiap sekolah kok. jadi bagi siswa yang belum lulus jangan kecewa silahkan ambil paket2 yang telah disiapkan pemerintah

  2. kawanlama95 berkata:

    aku setuju agar un di hapuskan saja. ganti yang lebih baik.karena mengajari lembaga pendidikan menjadi lembaga yang curang, menipu diri sendiri. walau tidak semua sekolah seperti itu.ini udah rahasia umum

  3. Acha berkata:

    semoga ada sistem ujian yg lebih baik dari yg sekarang …
    dan sistem itu merupakan sistem terbaik dalam mencetak SDM Indonesia yg unggul tdk hanya akademis tetapi juga karakter berahklak …
    _salam anget_

  4. Farijs van Java berkata:

    alhamdulillâh dulu angkatanku se-SMA lulus UN semua.

    masalah optimistis dan kepercayadirian tuh keknya. jadi keinget dulu, waktu USM salah satu pendidikan tinggi. hanya aku dari SMA-ku yang lolos. padahal di atasku masih banyak siswa2 berprestasi. bahkan siswa terpandai se-SMA pun tidak lolos. mereka kebanyakan gagal karena sedari awal sudah ada dalam pikirannya bahwa ia tidak akan lolos. benteng itu sulit ditembus, pikir mereka. maka sejak awal itu pula, mereka sudah separuh gagal. begitu menurutku.

    v(^_^)

    masalah UN keknya gak segampang itu, ya. pelik. kalau misalnya UN ditiadakan, lantas bagaimana penilaian kelulusan? diserahkan para guru dan membiarkan politik uang meluas?

    yah, marilah kita sama-sama memikirkan kira-kira sistem apa yang terbaik untuk diterapkan di negeri ini.

    gagal dan berhasil itu sudah biasa dalam hidup ini, bro. kita, manusia, bolehlah berencana. tapi hanya Sang Pencipta manusialah yang berhak dan berwenang memutuskan perencanaan itu terlaksana atau tidak. manusia hanya bisa, dan diwajibkan malah, untuk berusaha dan terus berusaha diiringi berdoa. tawakkal. pasrah. penting pula itu.

    belajarlah dari kegagalan. itu yang utama. jangan mengulangi kegagalan yang serupa, karena hanya keledai yang jatuh di tempat yang sama untuk kedua kali.

    v(^_^)

  5. Heryan Tony berkata:

    Masih bingung pilih yang mana.

  6. yanti/ mama Aini berkata:

    Kabar teraakhir.. di Amrik, “Stats” (ujian nasional untuk anak-anak setingkat SD) ditiadakan. Indonesia justru baru memulai…

  7. Acha berkata:

    ujian boleh ketat, namun prosesi belajar-mengajar semestinya menyenangkan, tanpa beban…
    banyak siswa stress menjelang, saat, dan pasca, terlebih hasil yg ternyata di luar harapan … wajarlah jika histeria kesedihan dan kecewaan melanda mereka yg gagal…
    sepertinya mereka tidak dididik (dipersiapkan) mentalnya untuk menghadapi berbagai kemungkinan hidup yg menghadang …
    _salam anget_

  8. Wempi berkata:

    untung-untungan choey…

  9. AngelNdutz berkata:

    alhamdulillah adek kelas Ndutz lulus 100%

  10. KangBoed berkata:

    puuuiiiiiiiih.. kaya opoooo ooooooo…

  11. bundadontworry berkata:

    alhamdulillah, untung anak saya lulus UN.
    kasian ya yg tdk lulus.
    kenapa sekarang pake UN segala, malah lebih repot keliatannya.
    zaman saya dulu, kami hanya ujian akhir dr sekolah, setelah sebelumnya ulangan umum.
    dan, juga nggak ada yg namanya contekan massal gitu.
    wah, ini pr bagi PDK.
    salam.

  12. geulist133 berkata:

    Ya nasib ya nasib.
    UN gak perlu ditiadakan hanya saja dijadikan Standarisasi pembelajaran dari Sabang sampe Merauke, namun gak perlu jadi penentu kelulusan lah.

  13. ucie06 berkata:

    Emang bner tuh mas,
    Itu sering bgt terjadi ak juga pernah ngalami waktu sekolah dulu,,
    Tapi bukan tidak lulus, tapi nilai teman2ku yang dianggap kurang di hari biasa, tapi disaat UAN mereka dapat nilai terbaik dan justru yang siswa2 yg pintar malah dapat nilai standar. Aneh ya??
    Apa UAN terdapat faktor luck juga ya?

  14. ontohod berkata:

    mudah-mudahan pemerintah menemukan ramuan yang tepat untuk menyeleksi, entah UN atau ujian lokal saja.

  15. Anita Dahlan berkata:

    Asmkum….
    Aduh kngen bangedd….. baru bs berkunjung lagi ke blog aa….
    Aduh jadi terkenang bangeddd waktu UN dulu….meneydihkan namun memberikan kebahagiaan dia khir..Alhamdulillah

  16. julie berkata:

    kayanya kasus kek gini pernah terjadi juga sebelumnya di mdn

  17. latree berkata:

    saya juga heran, makin ke sini kayanya bukan makin rapi, tapi malah makin semrawut. kenapa ya? kayanya jaman kita dulu tenang-tenang saja…

    semoga nanti pas jatahnya anak-anakku tidak kacau seperti ini…

  18. lelaki aneh berkata:

    perasaan jaman gue sd, smp, sma, semua menyenangkan, gak ribet dan gak semrawut kaya sekarang. weis gak ngertos karo pemikiran si empunya keputusan

  19. nanzzzcy berkata:

    semoga tahun depan semuanya lebih baik lagi deh..
    kasian juga buat adek2 yg nggak lulus UN

  20. omiyan berkata:

    kasihan adik adik sekarang dari awal dihantam dengan baya mahal pas lulus dihantam lagi dengan UN…sabar

  21. yessymuchtar berkata:

    Hay Kang, lama tidakmain kesini 🙂

    btw, adekku juga baru lulus SMA tahun ini. Dan aku ngerti banget rasa nya lulus gak lulus UN. Salah satu teman adikku yang pintar juga tidak lulus. Aku makin gak ngerti gimana hitung-hitungannya. Apa tidak ada tolak ukur yang lebih baik dan lebih adil lagi?

  22. nomercy berkata:

    susah-susah belajar segudang ilmu .. kok yang diuji hanya segitunya …
    sekalian saja gak sekolah … kursus saja … kan sudah cukup …

    tidak semudah itu untuk menyatakan para siswa tlulus atau tidak … secara matematis angka mungki boeh saja dipakai … tetapi di sekolah mereka juga banyak belajar hal-hal lain … ilmu-ilmu pengetahuan sesuai minat mereka …

    pemerintah dan masyarakat harus memikir ulang mengenai stadar kelulusan ini …

  23. aDhani berkata:

    Alhamdulillaah…keponakan saya sudah lulus dari SMP. Tapi akhirnya kelulusan tidak menjamin apa-apa untuk melanjutkan sekolah. Karena tetap saja uang yang harus berbicara.
    Salam hangat, saya mau pamit.

  24. Nisa berkata:

    Bakalan panjang kalo bahas UN…

    T_T suka duka di sana…

    semoga banyak daun berserakan yang bisa kita petik di dalamnya..

    Nisa juga sedih…. beberapa sahabatku yang baik gak lulus mas….. 😦

  25. Hariez berkata:

    jadi prihatin ya kang..?? semoga ada sistem yang bisa lebih baik dalam peningkatan pendidikan di negeri ini amien 😀

    -salam- ^_^

  26. masmoemet berkata:

    hehe … hsl UN-ku sll jatuh dibanding pas try-out. tp Alhamdulillah bs lulus

  27. Heeem kasian murid itu.
    Akhirny agimana ?

    Btw selain otak, juga mesti byk doa kali yah 🙂

  28. ammadis berkata:

    Sepertinya memang begitu bang…

    Harus ada parameter hitam di atas putih dan dapat di ukur…fair! Masalahnya, memang masih ada oknum…dan klo tak ada oknum…anggaplah itu namanya nasib bila tak lulus…tapi sedih yaaa…!

  29. Hary4n4 berkata:

    Aturan2 yg ada sekarang kok terasa ribet yaa…? Semoga bisa dijadikan pelajaran utk kedepannya nanti.. Salam hangat selalu… 🙂

  30. hanif berkata:

    Jadi ingat masa-masa SMA dulu, standar UN terus saja naik. Ada sisi positif dan negatifnya. Negatifnya salah satunya mungkin yang Mas tuliskan, sisi positifnya kayaknya pemerintah berpikiran dengan ini bisa menggenjot dengan cepat standar kita yang sudah ketinggalan jauh dengan negara tetangga, Malaysia. Maybe.

  31. kenangamu berkata:

    sesak nafas ngedengernya A’…
    penentuan selama 3 tahun belajar cuma dinilai dalam 3 hari UN.
    mending balik lagi ke ebtanas kali yah…

    pengalaman sendiri satu tahun diatas aku..kakak kls yang jenius mampus nggak lulus cuma karna kurang 0,1 di nilai matematika…
    tanpa rasa malu dia ngulang kembali satu tahun bersama kami, ade2 kelasnya.
    salut..

  32. Cara Buat Web berkata:

    Iya, biaya dan pengorbanan di sekolah hanya ditentukan dengan Um kauaknya sangat memberatkan! banyak orang yang lulus bukan karena kebodohannya! Bisa karena melingkari yang kurang sempurna, padahal dia orang yang pandai! tapi saya salud, dengan orang yang ingin menerjakan soalnya dengan pikirannya sendiri! tanpa mengotorinya dengan mencontek!

  33. afwan auliyar berkata:

    ehmmm….. ternyata banyak cerita duka d UN ..
    standard spt apa seh yg harus ada utk mengukur tingkat pendidikan seseorang ?!!? sungguh tidak ideal

  34. yoan berkata:

    untunglah saya nggak ngerasain UN…
    kalo saya SMA jamn2 sekarang ini, udah pasti saya kudu ngulang tiga tahun atau ikut kejar paket C tiga kali supaya lulus…
    lah standar nilai kelulusannya tingi bener…
    ck..ck..

  35. irma87 berkata:

    iya untung pada waktu itu UN masih rendah nilainya jadi saya mendapatkan nilai diatas rata2…coba kalau saya ngerasain hal yang seperti itu mungkin ku juga sangat terpukul…salam semangat bagi yang merasakan…

  36. wi3nd berkata:

    pRihatin meman9..
    semo9a saja dunia pendidikan makin bijak menyikapinya dan menjadi lebih baik baik la9i [mun9kinkah?? ] semo9a..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s