Jika Anak Boleh Memilih


KISAH PERTAMA

Plastik itu telah terisi, entah berapa isinya. Gemerincing pertanda recehan, tapi tidak menutup kemungkinan ada lembaran. Paling tidak, lembaran itu salah satunya dari jemari sahabatku yang dicelupkan ke lubang platik penantian. Plastik harapan dari kepolosan mereka yang terpaksa harus melangkah berpuluh arah.

“Kau sekolah nak?”, sahabatku memulai percakapan dengan sebuah pertanyaan. Diiringi lagu sumbang anak perempuan yang menanti sedari tadi adiknya. Lalu percakapan itu mengalir singkat, dan aku pun terlibat.

Bocah lelaki ini ternyata sekolah, begitu pun kakak perempuannya. Dia kelas satu sementara kakaknya kelas enam sekolah dasar. Mereka melakukan rutinitas seperti ini sepulang sekolah. Hampir bisa dipastikan kalau sekolahnya nun jauh di sana. Paling tidak ada jarak, karena bila perlu apa yang mereka lakukan ini tidak terungkap, sehingga tidak menjadi bahan celaan sahabat-sahabatnya.

Sahabat, ternyata orang tua mereka masih utuh. Ayahnya berprofesi sebagai pengemis, dan ibunya pengamen. Jika bocah lelaki dan perempuan ini bisa pulang ke rumah jam sembilan malam, maka konon katanya ayahnya bisa nyampe rumah tengah malam. Ngemis pada siapa malam-malam gitu, ehm mungkin ngemisnya memang di tempat yang jauh, jadi perlu waktu agar sang ayah bisa sampai kembali di rumah.

Dari dalam matanya aku mungkin bisa mengungkap, jika bocah ini bisa memilih, dia tidak ingin dilahirkan dari ayah yang pengemis, yang lantas menyuruh mereka mengamen untuk membantu perekonomian keluarga. Jika mereka bisa memilih, mereka akan memilih ayah yang mendayagunakan potensinya dengan bekerja keras, tanpa harus melibatkan anak-anaknya bersusah payah.

KISAH KEDUA

Kurangkul pundak anak lelaki itu, kusapa dengan penuh keakraban. Pesan kehangatan persahabatan kuungkap dengan mantap, pada anak lelaki kelas enam SD ini.

Aku lakukan ini setelah sebelumnya ibunya nyaris menangis. Dia menceritakan hubungannya dengan buah hatinya itu semakin tidak harmonis. Anaknya semakin pendiam dan jarang berkomunikasi dengannya.

Sang ibu menceritakan bahwa pernah di suatu waktu dia mencium bau kurang sedap dari anaknya. Ibunda bertanya-tanya dari mana asalnya. Bagaimana mungkin seorang anak yang bersih terawat bisa sebau ini. Hingga ibunya penasaran, dan dia mencium bau tidak sedap itu berasal dari hidung sang anak. Akhirnya sang ibu menyempatkan diri tuk membawa sang anak ke dokter THT. Dan dari sana terungkap, bahwa ada suatu benda asing yang tersangkut dihidungnya dan mulai membusuk. Lalu dokter pun melakukan penanganan medis tuk mengeluarkan dan membersihkannya.

Sang ibu menangis, mengapa sang anak tidak terbuka bahwa dirinya  ditimpa permasalahan seperti ini. Dia menyimpannya dalam diam. Seolah mengukir pesan, “mah, pah, apa peduli kalian pada anak kecil ini.?”

Sang ibu mengadu padaku agar mau membantuku membuat sang anak bisa kembali terbuka, komunikatif dan memposisikan diri sebagai anaknya yang manja. Lalu aku pun berusaha melakukannya dengan keterbatasan kemampuanku. Dan konon kabarnya, apa yang kulakukan tidk sia-sia.

Sahabat, jika anak ini boleh memilih, dia tidak akan meminta menjadi anak dari sepasang orang tua yang hanya menghabiskan waktu tuk mengejar materi semata. Pergi pagi pulang malam. Yang mereka mampu hanya memanjakkan anak dengan gelimang harta dan fasilitas yang serba wah. Sementara kasih sayang semakin usang, terhalang dinding karang bernama karir dan rupiah. Meski terkadang orang tua berdalih, “Nak, ini semua demi kamu.”

ADAKAH YANG BISA SAHABAT UNGKAP?

Jika anak boleh memilih, maka mereka akan memilih terlahir dari pasangan pecinta yang harmonis. Terlahir dari ungkapan cinta yang terlukis dan tak akan terkikis.

Jika anak boleh memilih, maka mereka akan memilih ayah yang bijak dan bertanggung-jawab. Mampu menjadi tauladan buat keluarganya, mampu memberikan rasa nyaman dan yakin kan terhindar dari kelaparan atas makanan dan minuman, tidak kelaparan akan kasih sayang, dan tidak akan kelaparan dari ilmu agama dan pengetahuan.

Jika anak boleh memilih, dia ingin memiliki ibunda yang lembut hatinya, sejuk tatapan dan sapanya. Ibunda yang tak membiarkan dia kedinginan dari pelukan kasih sayang, tak kan dibiarkan kepanasan dari omelan dan ocehan  kata kasar tak  berdasar. Ibunda yang mampu memberikan dasar agar tak tersesat saat di luar. Ibunda yang mampu memberikan sentuhan hangat pembangkit semangat nan dahsyat. Hingga sang anak menjadi kuat, memiliki ketahanan tak tergoyahkan dari lingkungan yang mengancam.

BISAKAH KITA MEMILIH?

Sahabat, berbahagialah kalian jika sudah berada pada posisi tak berandai-andai lagi. Alias puas atas keberadaan orang tua kalian saat ini. Lalu, jika masih ada dari kalian yang terisak atas ketiadaan kesejukan. Maka yang harus kita lakukan sekarang adalah dengan segenap tekad memilih. Memilih tuk menjadi ayah dan ibu terbaik buat anak-anak kita kelak.

Sahabat, sebenarnya ini hanya nasihat untukku. Tapi, terima kasih jika sahabat telah berkenan menggenapkannya.

achoeydananakanak

Iklan

Tentang achoey el haris

Seorang lelaki sahaja yang gemar menulis. Dan blog baginya adalah media untuk menyalurkan kegemarannya itu. Salah satu pendiri Komunitas Blogger Kota dan Kabupaten Bogor (BLOGOR). Pengasuh Pojok Puisi. Anggota Komunitas Menulis Bogor (KMB) dan Kopi Sastra.
Pos ini dipublikasikan di Hikmah dan Motivasi dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

37 Balasan ke Jika Anak Boleh Memilih

  1. ocha berkata:

    seandainya bisa memilih, maka tidak akan ada proses belajar dalam hidup dong… hidup dengan keikhlasan itu emang susah, aku aja masih melihatnya sebagai sesuatu yang harus dipelajari dari hari ke hari. Semangaaaat!!! ^_^

    ———————————————————————————–
    Sahabat, seandainya kau boleh memilih. Pasti akan terungkap di sini. Tapi yang A salutkan adalah, ketika kau lebih memilih ikhlas dan memfokuskan diri tuk menjadi lebih baik, lagi dan lagi.
    Dahsyat, semangat! 🙂

  2. cyperus berkata:

    anak anak memang indah..
    kanak-kanak adalah sebuah kebradaan yang tersendiri, terpisah dari kedewasaan. Ia bukan sekedar agian dari proses menjadi matang, sebab apakah kematangan itu jika bukan proses menjadi mati? Kanak-kanak adalah dunia mandiri, dengan bahasanya sendiri …….. karena itu biarkan menjadi indah sebelum berubah.” (Ayu Utami, LARUNG)

  3. Ikkyu_san berkata:

    Aku bersyukur aku tak perlu berandai-andai dalam hidup. Pasti ini karena orang tuaku juga. Sekarang aku berusaha supaya anak-anakku tidak perlu berandai-andai dalam menjalani hidupnya. Sambil aku mengisi kekurangan-kekurangan yang aku pernah rasakan supaya anak-anakku tidak merasakan kekurangan itu. Semoga aku bisa terus menjadi orang tua yang baik. Amin.

    EM

  4. Heryan Tony berkata:

    Semoga bisa menjadi orang tua yang bijak.

  5. nomercy berkata:

    sedih rasanya saya menjadi ayah yang gagal memberikan contoh terbaik kepada anak-anaknya …
    mudah-mudah dengan kekuatan kasih sayang yang tumbuh murni dari hati nan suci merekalah para orang tua dapat bangkit kemudian menjadi semakin baik dan terbaik bagi penerimaan mereka …

  6. Irfan berkata:

    saya pun akan memilih menjadi ayah dan ibu terbaik buat anak-anak kita kelak.

    dan semoga pilihan itu saya pegang dalam niat dan tekad yang kuat!

  7. nakjaDimande berkata:

    kadang aku juga gelisah melihat semua itu A..
    tapi kata KD, titipkan mereka semua pada Yang Maha Menjaga
    dan smoga kita yang beruntung ini, mempunyai daya untuk mengulurkan tangan.. walau hanya melakukan satu hal kecil.. semoga..

  8. yangputri berkata:

    setiap mampir ke blog ini speechless, postingannya bagus bagus….

    jika aku boleh memilih, lahirkan aku kembali ke dunia ini 😀

  9. yoan berkata:

    iya… saya juga insya Allah akan jadi orangtua terbaik yang bisa dimiliki seorang anak…
    tapi kalau mau punya anak harus nikah dulu ya?
    *ditimpukmassa*

  10. Farijs van Java berkata:

    berpandai-pandailah dalam bersyukur, saudaraku…

    v(^_^)

    ingat, jangan “sombong” dengan “kekurangan” kalian…

  11. idana berkata:

    aku dulu juga termasuk orang yang berandai-andai dalam hidup….tapi aku berjanji kalo anakku nanti nga akan mengalami hal yang sama seperti yg ku alami 😀

  12. antown berkata:

    alhamdulillah PRnya sudah 5. senang mendengar sahabat sukses gini. palagi mie janda hari ini mau diliput di TV. asyik..

    smgt!! sukses selalu

  13. wahyu ¢ wasaka berkata:

    Semoga kelak saia bisa menjadi yang terbaik dan terbaik di mata tuhan…

  14. mel berkata:

    semua yang tak berkenan di hatiku dan tak baik bagiku , kuusahakan tak terjadi pada anak2ku,,,,,,,,,(itulah seandainya aq bisa memilih) i’ll do the best i can to make them as goos as ever…

  15. mel berkata:

    as good as ever

  16. swastika87 berkata:

    kalo aku :
    akan berusaha memberikan yang the best untuk “mereka” nantinya…
    dan bertekad untuk tidak melakukan hal-hal “tidak enak” yang kuterima dari ortu, kepada “mereka”

    (nanti ya…)
    sekarang masih belum punya
    he…

  17. reallylife berkata:

    dan sayangnya kang, kita tidak bisa memilih pada waktu kita masih anak2 dulu
    ya khan?

  18. Aki berkata:

    Layak sekali menjadi renungan…
    Trims Kang dah mengingatkan..

  19. mascayo berkata:

    terimakasih kang achoey,
    kisahnya menjadi pengingat berharga untuk saya
    Semoga Alloh melimpahkan Rahmat dan KaruniaNya untuk Kang Achoey. Amin

  20. aDhani berkata:

    saya terkagum2 sdengan foto2nya…sangat menggambarkan seorang pejuang sosial yang prihatin terhadap generasi masa depan. Semoga apa yang diupayakan akang terus dimudahkan oleh Allah., Amiin

  21. kezedot berkata:

    kapan ya blue bisa berbuat seperti apa yg abang lakukan
    salam hangat selalu
    met berakhir pekan bang

  22. masnoer® berkata:

    wah asyik juga ya bisa bercengkrama dengan anak-anak salut saya mas

  23. Hary4n4 berkata:

    Bolehkah aku memilih… utk selalu bisa jalani apa yg sudah Dia berikan dalam Catatan Jiwaku Kang…??

  24. Muzda berkata:

    Aku masih berandai-andai ….
    Apalah namanya manusia, memang tak pernah merasa cukup
    🙂

  25. evy berkata:

    Salam kenal mas…
    setiap orang mempunyai jalan hidupnya masing-masing,tinggal bagaimana cara orang tersebut menerima dan menjalani hidupnya.Nice post,saya suka artikel ini..benar2 memberi inspirasi.

  26. Nisa berkata:

    *terharu*

    yosh! lakukan yang terbaik untuk buah hati kelak,,

    barusan saya mbayangin kalo saya seorang Ibu punya anak yg seperti saya ini,, nisa junior,
    ehmm,
    kurasa aku harus jadi anak yang baik dulu, :mrgreen:

  27. obaghy berkata:

    kita tetap bisa memilih karna hidup itukan memilih walau terlahir dengan kondisi apapun.
    justru anak2 yg tegar yg akan menjadi generasi yg tangguh.
    SEMANGAT…..

  28. Andioka berkata:

    mas , .. hidup memang pilihan

    buat anak anak, kita yang menjadi panutan mereka hendaknya beri cinta nyata dan ahlak mulia kita semoga mengilhami mereka untuk berproses menuju hidup positif.

  29. afwan auliyar berkata:

    manusia memang tidak pernah akan tau akan dilahirkan dr orang tua yang mana ….
    dan itu bukan merupakn bencana, atau malapetaka… krn setiap anak yang lahir dr siapa pun akhirnya di tuntut untuk berbuat dan berusaha

  30. yanti/ mama Aini berkata:

    kita semua pernah jadi dan sedang jadi anak dari seorang ibu atau bapak.. bagaimanapun mereka… inilah kita sekarang… berdiri disini.. dengan segala yang kita punya..
    Boleh saja mereka adalah orang tua yang tak sempurna.. tapi kita dapat menjadikan diri kita sempurna.. dengan bekal (apapun itu) yang orang tua kita berikan.. insya Allah…
    kitapun juga bukan orang tua sempurna untuk anak-anak kita.. jika kita mau melihat kedalam dan mau Belajar dan berproses.. selalu mengambil hikmah.. mau memperbaiki diri dan ikhlas….. mungkin anak-anak kita akan mau menerima dan memaafkan ketidak sempurnaan ini….

    (Aduuuhhh…. maaf ya… kepanjangan… curhat lagi….)

  31. Infinite Justice berkata:

    bila kita terlahir sebagai anak, kita tak bisa memilih. itu bahagian dari qodho’ dan qodar… namun, sekiranya ini adalah pembelajaran yang baik, untuk kita nantinya bisa menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak kita…

    sungguh postingan yang bermakna, kang… saya salut sekali…

  32. latree berkata:

    bapakku dulu bekerja dari jam 6 pagi sampai jam 9 malam. aku memilih untuk bertanya kepada bapak: kenapa bapak jarang di rumah?

    alhamdulillah bapak tidak hanya menjawab dengan kata-kata. bapak langsung mengurangi jam mengajarnya di beberapa sekolah sore.

    sekarang aku sedikit menyesal, kenapa aku melakukan itu. karena dalam posisi sebagai orang tua, saat ini, aku baru sadar bahwa apa yang dilakukan bapak adalah demi kami juga. tapi aku bersukur bahwa Allah telah selalu memberikan rejeki kepada keluarga kami dari jalan yang tidak hanya satu.

    terima kasih bapak dan ibu,

    terima kasih kang, semoga aku bisa menjadi orang tua seperti yang dibutuhkan anakku.

  33. endra winata berkata:

    jika aku boleh memilih, aku kan selalu memilih ibuku sebagi pendamping hidupku terus,
    jika aku boleh memilih lagi, aku kan memilih bapak ku, tuk selalu menjadi pembimbing dalam hidupku.

    jika aku di ijinkan tuk memilih kembali, akan kupilih hidupku untuk bisa menjadi seperti mereka………..

  34. wanti annurria berkata:

    semoga kelak bisa jadi ibu yang baik,, dan tidak mengecewakan sang buah hati.. amin..

  35. KangBoed berkata:

    yayaya… sejujurnya dan sebenarnya hidup itu sudah dipilihkan…
    Salam Sayang

  36. olvy berkata:

    setuju ajah, tapi yang terpenting selalu menjadi yang lebih baik dari kemarin…selalu siap menghadapi keadaan apapun bukannya mengeluh ataupun menghindar dari keadaan…

  37. wi3nd berkata:

    dibelahan bumi manapun tidak ada anak yan9 mau dilahirkan dari @ ayah yan9 pen9emis dan ibu pen9amen,jika bisa memilih pastina in9in memilih mempunyai oran9Tua yan9 berkecukupan,cuKup dLm se9aLa hal 🙂

    dari mereka kita semua bisa men9ambiL hiKmah dan peLajaRan..
    tentan9 hiduP dan lainnya,bersyukur untuk semua haL aTas pemberianNYA..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s