Atas Nama Cinta


Ini adalah cerita masa lalu ketika aku masih merasa diri ini muda. Saat itu aku diminta seorang gadis untuk menemaninya nonton di bioskop. Dan hari libur memang telah aku jatahkan untuknya. Lalu berangkatlah kami dengan harapan bahwa masing-masing dari kami bisa megusir bosan menghilangkan kejenuhan.

Sengaja kami tiba lebih awal, bukan karena takut kehabisan tiket nonton, tapi sekalian cari tempat di mana kami berdua bisa lebih memiliki banyak waktu untuk melepaskan kerinduan. Tapi bukanlah cerita romantis ini yang kan saya bahas. Melainkan cerita indah yang menjadi hikmah buat diri Sang Khilaf ini.

Seruan kebajikan terdengar diantara riuh redam tawa dan cekikikan pasangan muda-mudi yang memenuhi ruang cafe itu. Suara adzan dzuhur yang mengalun dengan nada yang indah terdengar sangatlah kontras tapi aku berusaha untuk tidak menggubrisnya. Aku tetap berusaha fokus pada sosok cantik di depanku. Sampai terdengar kata-kata merdu dari bibirnya yang merah. “Sayang, sebagai muslim selayaknya kau segera menghampiri seruan itu”.

Aku kaget, bagaimana bisa dia yang non muslim menyarankn agar aku segera menegakkan shalat. Sementara aku sendiri berusaha untuk mengabaikannya, pikirku demi menghormatinya. Tapi dia kembali mengulang kalimat itu dan dari sorot matanya terungkap apa yang dia katakan adalah langsung dari dalam lubuk hatinya yang tulus. Karena itu maka aku pun beranjak.

Aku berjalan sambil terus berpikir. Aku muslim tapi aku tak mencerminan diri ini sebagai muslim dalam keseharian. Sementara dia yang non muslim sangat toleran padaku. Aku menangis dalam hati, terharu dan malu pada diri sendiri. Sampai akhirnya aku tiba di batas suci dan aku tertegun, tertunduk bisu.

Di batas suci itu aku mematung, kaki terasa berat untuk melangkah. Bukan karena hati ini yang masih pekat tak ada hidayah. Tapi karena aku merasa teramat hina untuk untuk menginjakkan kaki kotor ini di lantai yang bersih. Apalagi merapatkan diri pada barisan jamaah yang terlihat rapih.

Akhirnya aku tiba di sana dan kuhamburkan diri hina ini pada sajadah, pasrah. Dan air mata berlinang membasahi wajah yang kusam. Lalu aku teringat lagi sosok cantik yang bijak itu. Tak sia-sia Tuhan hadirkan dirimu dalam hidupku.

.

“Atas nama cinta kuharap kau bisa nerima. Bahwa aku tidak ingin pacaran lagi. Bukan karena aku tak lagi mencintaimu. Tapi karena kau telah mengingatkan sejatinya cintaku. Dan aku mau mencoba belajar mencintai-Nya dan terus mencintai-Nya hingga aku benar-benar terlelap dalam nikmat cinta-Nya.”
“Atas nama cinta, kuhaturkan banyak terima kasih untukmu duhai cintaku. Dan tetaplah bijak pada dunia. Dan ku yakin kau dapat dipertemukan dengan lelaki yang tepat untukmu, yang pasti bukanlah aku.”
“Atas nama cinta, ijinkanlah aku pergi saat ini. Bukan hendak melupakanmu tapi aku hendak mengingat-Nya.”
“Selamat tinggal gadisku, semoga berbahagia selalu dirimu. Dan di hatiku, kau tetap Sang Bijak”

Tulisan ini di buat tgl. 7 Maret 2008

Iklan

Tentang achoey el haris

Seorang lelaki sahaja yang gemar menulis. Dan blog baginya adalah media untuk menyalurkan kegemarannya itu. Salah satu pendiri Komunitas Blogger Kota dan Kabupaten Bogor (BLOGOR). Pengasuh Pojok Puisi. Anggota Komunitas Menulis Bogor (KMB) dan Kopi Sastra.
Pos ini dipublikasikan di Kreasi Fiksi dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

37 Balasan ke Atas Nama Cinta

  1. hendra berkata:

    mmm… keren deh sob..
    oy berkunjung k tmpt saya y, jgn sungkan, nanti dihidangkan teh telor…ok

  2. Acha berkata:

    Atas nama cinta,
    Akhirnya….
    Cintamu untuk-Nya.

    -selamat-

  3. .lala berkata:

    mmhh….

  4. Heryan Tony berkata:

    Atas nama cinta, karena cinta kau kembali mencintai-Nya

  5. Heryan Tony berkata:

    Semoga bisa berjalan sempurna

  6. Miftahur berkata:

    Alhamdulillah

  7. ekaria27 berkata:

    Bagaimana kabar gadis itu sekarang ?
    Sudah ketemu cinta nya ?

    Tapi sungguh engkau punya banyak cinta Ak, negkau melepasnya tanpa memaksakan kehendak..

  8. Hary4n4 berkata:

    CintaNya ada dalam hati dan diri tiap manusia. Jika telah menemukan insan seperti itu, bersyukurlah. Sebab itu adalah cintaNya Dia lewat seorang hambanya tanpa pandang apa pun bajunya. Salam.

  9. Muzda berkata:

    Jadi sejauh ini, inilah gadis terakhir ..
    Gadis yang mampu membawa A mencari cinta yang sejati ??
    Hmm,, menurutku … somehow,, ceritamu dengannya itu indah ….

  10. Irfan berkata:

    saya kalo nonton bioskop nyari jam yang kiranya bisa sholat dulu…
    kira-kira apa yang di omongkan langsung ke si gadis A, setelah sholat?hhhee…

  11. dieyna berkata:

    hm.. hikmah memang tak tentu arah datangnyadan sang sederhana yang dapat maknai hikmah itu dan lakui maka kan jadi sang bijak

  12. Herdii berkata:

    nggag semua orang bisa sebijaksana kamu 🙂

  13. rco berkata:

    Saya pernah mengalaminya….. hampir sama…..

  14. Farijs van Java berkata:

    alhamdulillâh masih ada yang mengingatkan.

    v(^_^)

    seringkali di saat kita sedang khilaf dan sengaja mengkhilafkan diri memang yang kita butuhkan adalah sosok-sosok pengingat semacam itu.

  15. easy berkata:

    menyentuh…
    jadi sekarang siapa gadis yang sudah menjadi istrimu A’ ?

    ——————————————————————
    Ya belum ada atuh dik, masih single 😀

  16. Etawa berkata:

    Numpang mampir sahabat, dan salam kenal aj

  17. MT berkata:

    maa khalaqta hadza baatilaa…. 🙂

  18. kawanlama95 berkata:

    wah mas memang seperti itu ya, lha kok hampir sama ya

  19. anKa berkata:

    wah wah wah… mungkin gak kang dia jadi mualaf… apa ini hanya fiktif saja…

    —————————————————————–
    Kemungkinan sih ada aja. Tapi biarlah ini hanya menjadi fiktif belaka 🙂

  20. suhadinet berkata:

    trus, kemana tuh cewek?

    ———————————————————————
    Beberapa bulan yg lalu sosok gadis datang memperkenalkan calon suaminya. Tapi sang calon suami malah cemburu kebablasan. Hehehe, aya2 wae

  21. deeedeee berkata:

    ceritanya lagi mengenang masa lalu y, Mas.. :mrgreen:

  22. nh18 berkata:

    Akankah ada kelanjutannya ?
    kita tunggu saja …

    salam saya Choey …

  23. yoan berkata:

    hummm…
    hikmah itu memang bisa datang dari mana saja ya, om…

  24. idana berkata:

    duh…terharu aku……
    atas nama cinta…lupakanlah

  25. sangjaka berkata:

    Cinta yang mencerahkan
    Cinta yang meneguhkan
    Cinta yang bermuara pada cinta-Nya

  26. frozzy berkata:

    jadi pengganti tuh cewe sekarang siapa ???

  27. omiyan berkata:

    ya sebuah kisah yang penuh renungan, tapi perjalanan hidup seperti ini sungguh bahagia bisa menjalaninya karena sobat hidup kita terasa penuh warna

  28. adhieputra berkata:

    kekuatan toleransi itu luar biasa, pengalaman hebat

  29. arfik berkata:

    wah……. ceritanya membuat terharu…..
    jadi mas ama tu cewe masi berkomunikasi sekarang

  30. wi3nd berkata:

    atas nama cinta..
    jadi in9et la9una rossa heheh

  31. shizuka berkata:

    Aslmkm
    hmm…mmmm….indah ya a..napa gak dilanjutin hub.dimna aa bisa mengajrkan ajarana agama kita padanya..capa tau aja nanti dia masux agama qta dgn bner2 memahami ajaran islam bukan karna dia menyayangi aa…^_^

  32. christian berkata:

    blogwalking jalan2 malem 😀

  33. racheedus berkata:

    Hm…. seperti cerita Fahri dengan Maria aja.
    Ada seorang teman perempuan, santriwati, puteri seorang novelis tenar di negeri ini, yang menikah dengan seorang calon pastor. Akhirnya, sang santri itu dikucilkan oleh teman-temannya di pesantren. Sang pemuda calon pastor itu juga didepak dari “pesantren”-nya.
    Apakah cinta beda keyakinan harus selalu berakhir dengan pernikahan, dengan segala resikonya yang siap menghadang? Hh…. Saya juga ikut merasakan kesedihan sang novelis itu saat menyadari anaknya merayakan pluralisme agama.

  34. Saya belajar dari hikmah yang tersembunyi dalam kisah mas achoey ini. Jazakallah….

    Ternyata saya tidak harus merasakan apa itu cinta dari seorang gadis,

    Subhanallah, saya bisa belajar dari antum tanpa merasa apakah itu cinta.

    Untuk seorang perempuan, yang Insya Allah, akan jadi jodoh saya, memang belum saatnya.

    Semoga kita tetep istiqomah 😉

  35. emma berkata:

    menapa tak kau undang saja dia,..?
    untuk sholat berjama’ah dgn mu..?
    malah kau tinggal dia ?!
    masih kah dapat kau gamit hatinya..?

  36. Ade berkata:

    indah sekali ceritanya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s