Be an Entrepreneur, Tunjukkan Keberanian Sejak Awal


Setiap kita kadang baru memunculkan keberanian pada diri kita saat terdesak. Saat kita menganggap bahwa tak ada pilihan lain selain menyingsingkan lengan dan menghadapinya dengan sigap. Keberanian yang sebenarnya kita miliki sejak awal, tapi seolah sengaja kita diamkan dan kita simpan. Padahal jika dimunculkan sejak awal, maka kita tak perlu bersusah-susah dulu melepas energi dan waktu.

Saat selepas kuliah, rata-rata dari kita segera mengetuk satu pintu ke pintu lain tuk melamar sebagai pekerja di sana. Perusahaan-perusahaan yang berdiri dengan tegaknya menggoda kita untuk berlabuh di pundaknya. Kita bermimpi tuk menjadi  salah satu penghuninya, dan kan bangga ketika kita bisa menunjukkan pada sahabat-sahabat kita, “tuh, di situ  saya bekerja.”

Satu  lamaran ditolak, lamaran kedua juga ditolak. Coba lamaran ketiga, eh ternyata  masih sama. Berikutnya adalah lamaran keempat, kelima, keenam, ketujuh hingga berpuluh, masih saja ditolak. Gagal di tahap awallah gara-gara IPK kurang dikit, karena tinggi badan kurang dikit, karena kecantikkan kurang dikit. Gagal di interview awallah, karena grogi, karena kurang PeDe, karena kurang pandai berkomunikasi, karena penampilan kurang rapi, karena kurang mampu bersikap sempurna. Gagal di test tulislah, karena kurang pinter, karena kurang tahu, karena kurang menguasai. Gagal di test kesehatanlah, gagal di psikoteslah, gagal di interview akhirlah, dan kesimpulannya baik gagal di awal atau pun di akhir proses recruitment, ya tetep GAGAL hasilnya.

Puluhan lamaran berterbangan, puluhan kegagalan pula yang menghujam. Baru setelah itu kita berpikir, mungkin ini alternatif terakhir, saya harus menjadi  wirausahawan.

Sungguh sedih, saat kebanyakan dari sahabat-sahabat saya gagal dalam pencarian kesempatan mereka tuk mendapat status pekerja, baru mereka berpikir mencoba menjadi wirausahawan. Seolah wirausaha itu lebih mudah, lebih ringan resikonya, dan mereka pasti bisa. Kalau memang begitu adanya, kenapa mereka tak lakukan sejak awal saja. Kenapa mereka harus bersusah payah dulu melamar dari pintu ke pintu. Dan jawabannya adalah, keberanian menjadi wirausahawan muncul saat tersudutkan.

Saya punya sahabat yang jika dia mau dia bisa membangun jalan bisnisnya dari dulu. Saat kuliah dia sudah mulai merintisnya, tapi saat lulus dia pun menghempaskannya demi sebuah kesempatan menjadi karyawan. Lalu beberapa tahun kemudian dia mencoba sharing dengan saya atas ketidaknyamanannya sebagai pekerja, lalu dia pun ingin segera mulai menjadi wirausahawan. Alhamdulillah, usaha yang dirintisnya sudah mulai maju. Dan sepertinya dia menyesal kenapa dia harus memulai jalan ini setelah anak pertamanya lahir, kenapa tidak dia lakukan sejak dia sebelum menikah dulu. Ah aku hanya tersenyum.

Ada juga seorang sahabat saya yang berstatus pekerja mencoba bercerita tentang sahabatnya yang  sangat sukses hanya dari jualan bubur ayam. Kesuksesan yang didapat berbeda hanya karena keberanian yang berbeda antara dia dan sahabatnya itu. Sahabatnya sengaja keluar dari pekerjaan dan memilih jalur berdagang sebagai penjual bubur ayam, sementara dirinya terpaksa harus keluar dari perusahaan tempatnya bekerja karena permainan sikut-sikutan antar pekerja di  sana. Lalu dia pun melamar ke perusahaan lain. Dan hanya bisa tersenyum bangga atas keberanian sahabatnya yang mengabil jalan sebagai wirausahawan, jalan kesuksesan.

Pernah ada seorang blogger dalam sebuah potingannya mengungkap bahwa berwirausaha adalah pilihan terakhir ketika sepuluh lamaran pekerjaan ditolak. Hal ini sama saja dengan memposisikan bahwa jalan wirausaha adalah jalan terakhir, bukan jalan utama. Seolah bahwa menjadi wirausahawan adalah hal yang mudah dibanding menjadi pekerja. Buat saya pendapat  ini  salah, tapi toh setiap orang berhak berpendapat. Bukan begitu sobat?

Lalu bagaimana dengan saya? Selepas lulus kuliah saya menjadi pedagang kaki lima dan jualan di pasar kaget. Untuk mendapatkan lapak, saya menyewa dari pedang kaki lima sungguhan untuk dua bulan lamanya. Tujuan saya memang bukan semata kuntungan financial, tapi pembentukkan mental wirausahawan yang ingin saya dapat. Tahu sendirilah, banyak mahasiswa itu yang bermental manja dan gengsinya tinggi, nah saya merasa saat itu menjadi salah satunya. Maka harus saya rubah itu semua meski para gadis yang dulu mendambakanku berpaling muka, “memiliki  kekasih pedagang kaki lima, ogah ah”.

Kini saya pun menikmatinya, menjadi pekerja juga menjadi tukang mie JanDa. Tentunya blogging jalan terus, karena menjadi penulis, juga impian saya selain menjadi pengusaha.

Sahabat, bekerja dan berwirausaha adalah pilihan. Yang penting kita serius menjalaninya. Seorang pekerja jangan menganggap rendah pedagang, begitu  pun sebaliknya. Para pengejar karir jangan mencibir wirausahawan, begitu pun sebaliknya. Tapi jika saya boleh usul, kenapa tak kita tunjukkan keberanian kita menjadi wirausahawan sejak awal, tentunya keberanian yang terukur, keberanian tanpa ngawur.

Setiap kita telah Allah tentukan rejekinya, tugas kita adalah menyempurnakan ikhtiar dan mengawalnya dengan doa dan ikhlas.

Nah jika ada keterangan (hadist), “Perhatikan olehmu sekalian, sesungguhnya di dunia ini perdagangan merupakan sembilan dari sepuluh pintu rejeki.” Lalu kenapa kita tidak segera membuktikan kebenarannya. Ayo siapa berani?

Iklan

Tentang achoey el haris

Seorang lelaki sahaja yang gemar menulis. Dan blog baginya adalah media untuk menyalurkan kegemarannya itu. Salah satu pendiri Komunitas Blogger Kota dan Kabupaten Bogor (BLOGOR). Pengasuh Pojok Puisi. Anggota Komunitas Menulis Bogor (KMB) dan Kopi Sastra.
Pos ini dipublikasikan di Hikmah dan Motivasi, Wirausaha dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

44 Balasan ke Be an Entrepreneur, Tunjukkan Keberanian Sejak Awal

  1. Muzda berkata:

    Kabarnya Juni nanti akan ada PHk besar-besaran ..
    Mungkin saat itu akan banyak yang menjadi wirausahawan … sebagai alternatif terakhir ..
    🙂

  2. sangjaka berkata:

    Rasulullah adalah wirausahawan terhebat
    Beliau kaya dan dengan kekayaannya beliau membiayai dakwahnya
    Kekayaan yang ia dermakan, ia jalankan di jalan kebaikan, jalan yang diridhoi Tuhan.

  3. kawanlama95 berkata:

    Alhamdulilah segala puji bagi Allah tuhan yang maha kuasa dan maha menentukan.Alhamdullilah aku termasuk orang yang bersyukur Pada
    Allaha karena aku tak pernah mengalami kesulitan dalam bekerja.
    Dari mulai tamat SMA sampai sekarang.

    Fakta nya memang demikian

    Tetapi selalu ada saja ada keinginan 2 yang selalu tertunda yaitu pengen jadi pengusaha yang sukses namun tetap saja kesuksesan itu selalu tak nampak hasil yang didapat.Kegagalan demi kegagalan telah terjadi ya bagiku itu merupakan cambuk tuk selalu berusaha dan berbuat dan berkarya lebih baik lagi.

    Belajar dari orang – orang yang sukses kuncinya adalah ketekunan ,kesabaran ,serta selalu mencoba hal yang baru.dan ini telah terpatri dalam hidupku dan terus berinovasi terhadap apa yang menjadi tren bisnis saat ini

    Saudaraku …Disini aku akan mengatakan perjalan di rabu inipun insya Allah perjalan menuju kesana yaitu mencoba prosepek bisnis di kota itu.Insya Allah

    Aku ,ya cukup sering mengikuti acara – acara ,disana hadir orang2 yang lebih dahulu sukses dalam berbinis,Apa kata mereka berpikir sejenak lalu kerjakan

    tetapi saat ini, memang selalu ada saja hal yang tak terduga wa lau dalam kaca mata bisnis ini pun sudah aku duga sebelumnya dan bukankah semua orang tau 1 + 1 adalah dua. namun ternyata semua itu bisa menjadi bumerang ternyata 1 + 1 Adalah 3

    Saudaraku aku meningalkan keinginan dan bakat ini dan maaf aku katakan disini bahwa aku menolak tawaran besar dalam sejarah hidupku
    hanya karena aku ingin menjadi orang biasa dan mau berkawan dengan orang – orang yang tertindas dan melakukan kegiatan bisnis hanya karena ingin melakukan apa yang dilakukan Rasullullah S.A.W

    minta doa dan suport engaku saudaraku mungkin aku harus mencoba hal 2 yang baru lagi dan berinovasi selalu
    Terima kasih postingannya dan maaf bila kepanjangan

  4. diemaz berkata:

    malam kawan
    membaca komentarnya kawanlama memang perlu ditelisik lebih dalam

    terima kasih

  5. Daniel Mahendra berkata:

    Aha! Gong-nya ada di ending tulisan ini…
    Mantap!

  6. SanG BaYAnG berkata:

    Kalo kegagalan itu karena ra mudengan,gimana..???
    Eh..lali..,salame kq malah keri iki piye iki..???
    Salam..

  7. ubadbmarko berkata:

    Setelah minum Es pergi berdansa
    Kalau mau seukses ya wirausaha

  8. radesya berkata:

    Kalau jadi pedagang, contohlah Rasulullah, jadilah pedagang yang ‘jujur’, kesuksesan seseorang bisa datang lewat mana saja. Asal benar dan halal buat apa malu..

  9. siafa berkata:

    wira usaha…..aduh …iya eyy…harus mulai melirik wira nih….
    jadi wirasuahwan….
    dari dulu ko ga bisa 2 ya jadi wirausahawan…
    masih aja jadi…
    wira SABLENG….
    wira nya ga jadi – jadi..
    sablengnya malah nempel terus…
    ya lumayan lah sableng jg mudah2an wiranya ntr ngikut..
    ahhahah ^_^ 🙂 😛 😀

  10. MT berkata:

    banyak peluang usaha jika kita mau. banyak MLM yang bertebaran, dari yang benar sampai yang hanya memanfaatkan downline. banyak pengusaha yang masih membutuhkan rekan/karyawan sebagai bagian dari perluasan bisnisnya. mungkin termasuk mie janda, yang akan membuka cabang di mana-mana… jadi, buat sarjana yang belum memiliki penghasilan, buat pegawai yg bulan Juni kena PHK, siap2 saja bekerja sama dg kang Achoey! 🙂

  11. Alfaqir09 berkata:

    Ajari aku jd pengusaha kang.

  12. ceznez berkata:

    wah, pengusaha yg hobinya nulis ya? hebat2 🙂

  13. Pencerah berkata:

    Hidup wirausahawan mandiri

  14. Wempi berkata:

    kampus kita masih menciptakan pencari kerja bukan wirausaha. menjadi pekerja bank, pns prestisenya masih tinggi dibandingkan punya bengkel sendiri, gampang dapetin jodoh, wekekeke…

  15. adams berkata:

    yuuk.. be entrepreneur. juga lagi merintis neh…

  16. 1nd1r4 berkata:

    Yang pasti harus ada keberanian untuk keluar dari comfort zone kita, memulai sesuatu yang baru akan selalu terasa berat, tapi selalu yakin dengan niat baik dan usaha, pasti akan ada jalan 🙂

  17. .lala berkata:

    saya!!!

    *ngacung*

    ga berani… :p

  18. ichanx berkata:

    alasan gw standar… modal dan kemampuan gak punya… 😀

    • dsusetyo berkata:

      Ada orang bijak berkata: “Engkau tidak pernah tahu seberapa tinggi Engkau bisa terbang, sampai engkau mengepakkan sayapmu dan benar2 terbang”.

      Kebanyakan kita memang takut gagal. Sehingga boro2 terbang, mengepakkan sayap pun tak berani. Entrepreneur memang perlu nyali berani.

  19. upik berkata:

    Bisnis wirausaha sekarang memang lagi marak Mas. Mungkin karena lapangan kerja di kantor udah mepet kali ya… Suamiku juga wirausaha, alhamdulillah, kalau soal finansial seh lebih daripada aku yang kerja kantoran. Yang penting adalah segala usaha harus dilandasi dengan niat untuk bekerja.. Insya Allah menghasilkan karya dan hasil yang memuaskan.

  20. Ephieenz berkata:

    . .Artikelnya bagus. . .
    Jangan lupa kunjungi pondokku. . ,

  21. Tuyi berkata:

    Solusi yang tepat di krisis global…
    Hidup wirausaha.. (bosen jadi pegawai)

  22. ria manies berkata:

    mantafff………… impian saya jadi guru…. hihihiih :”>

  23. ekaria27 berkata:

    –> kenapa tak kita tunjukkan keberanian kita menjadi wirausahawan sejak awal, tentunya keberanian yang terukur, keberanian tanpa ngawur.

    Bijak banget sich kamu Ak !
    malu nich, jiwa wirausaha itu lom muncul yang ada jiwa morotin gaji suami terus hahhaha

  24. oRiDo™ berkata:

    Niat.. usaha.. doa.. tawakal..
    lalu kembali lagi ke
    Niat.. usaha.. doa.. tawakal..

    terus dan terus berulang seperti itu, sehingga seorang muslim selalu produktif dan tidak ada kata stress, karena segala sesuatunya dilakukan seoptimal mungkin dan hasilnya sesuai atau tidak sesuai dengan yg diharapkan maka di kembalikan pada Allah swt.

    tetep semangat…

  25. Heryan Tony berkata:

    Terima kasih atas nasehatnya.
    Keep moving

  26. mahardhika berkata:

    entrepreneur i like that, kata org lebih baik jadi wirausahawan atau entrepreneur, keduanya membutuhkan keberanian dan kesungguhan ^_^

  27. dieyna berkata:

    mie janda hiks hiks hiks..

  28. annosmile berkata:

    weks..
    mantep banget sharingnya
    terima kasih

  29. latree berkata:

    wah… anakku malah udah mulai kang. koleksi bukunya yang lumayan banyak disewa-sewain… dia seneng banget bisa ngumpulin uang untuk beli buku lagi…

  30. Ade berkata:

    Ayoo mari kita berdagang! 🙂

  31. bocahbancar berkata:

    Iyah memanga Mas. pasti kendala utama Mahasiswa ya itu Genksi, mereka memilih nganggur daripada tetap bekerja dengan pekerjaan yang mereka Anggap “tidak pantas” bagi mereka..

    padahal, jika kita belum pernah kerja, belajar kerja dari bawah adalah hal yang sangat dibutuhkan untuk membentuk mental yang kuat..

    Hhmm..Namun, tetap saja sulit memahamkan kepada mereka, apalagi yang orang tuanya punya uang banyak, beuh…Tau dah..

    Saya sendiri : belum bisa bewirausaha sampai sekarang, hanya bisa parttime saja di saat kawan2 yang laen jalan2 ke berbagai tempat di Bandung, saya mah di depan komputer saja, jaga warnet he he he…

    Salam hangat Bocahbancar Mas Achoy…..

  32. Ikkyu_san berkata:

    waaaah siapa bilang wirausaha itu gampang?
    justru karena susah… dan pada dasarnya saya juga tidak bisa berdagang makanya saya tidak berwirausaha. Memang ada orang yang bisa (mampu) dan bakat tapi ada yang memang harus menjadi bawahan/ tidak bakat. Apalagi jika sama sekali tidak cocok kerja di kantor dan berdagang, seperti bakatnya di bidang pendidikan seperti saya hehehe.

    EM

  33. Acha berkata:

    Pertanyaan yg selalu menggoda Saya adalah : Mengapa setiap hari ribuan orang mendaftarkan paten di Amerika? Mengapa program komputer lahir di Silicon Valley? Mengapa banyak produk kendaraan ternama dan alat elektronik berkualitas lahir di Jepang? Mengapa produk teknologi dan jasa banyak terlahir di negara maju?
    Sebaliknya, mengapa di Indonesia mulai dari kota sampai desa, pemuda yg berusia produktif pada jam kerja / sekolah nongkrong di tempat umum atau di pinggir jalan dan bahkan tawuran? Mengapa pegawai atau pekerja kita banyak yg asyik ngobrol atau baca koran pada jam kerja?
    Setelah tekun menganalisis, Saya temukan bahwa salah satu penyebab dr masalah tsbt adalah karena sejak usia dini anak2 di negara maju sdh diasistensi oleh keluarga, sekolah, sistem masyarakat, dan sistem bernegara utk mengenal diri, potensi & merencanakan hidup, menyusun target terukur, dan melangkah setapak demi setapak utk mencapai tujuannya. Nah, kalo di Indonesia blm seperti itu.

  34. wanti annurria berkata:

    Aqu ko’ ga bakat ya jadi wirausahawan… ga’ bakat marketing…

  35. Irfan berkata:

    mudah-mudahan apa yang lagi saya kerjakan sambilan menjadi awal untuk menjadi wirausaha, disamping pekerjaan yang lain…

    jika ada niat dan tekad, insya Allah ada jalan, ato malah bahkan ada keajaiban.

  36. yohan berkata:

    saluuuut k kang haris tiasa ngalih kennaa… sareng sabarna..soklah maju terusss.

  37. racheedus berkata:

    Semoga menjadi pengusaha yang berhasil meloloskan diri dari perangkap bisnis: berbohong dan mengurangi timbangan. Semoga usahanya berkah dan zakatnya lancar.

  38. Nisa berkata:

    hmm. . . mental wirausaha, aku butuh itu.. Jd ingat saat kue yang kujajakan dulu tidak begitu laris,, fiuh. . *lho,jadi curhat*,
    aku harus banyak belajar dari kak achoey. . 😀 mau mengajari saya membentuk mental itu ?

  39. shizuka berkata:

    Asmkm…
    yach aq cuka miris a…sering bgt diluar sana aq mendengar cibiran merendahkan pada pedagang2 kecil yg merintizzzz..seolah mereka lebih mulia dalam hal segalanya..padahal kita cemua cama dihadapan-Nya..
    yg membedakan aq, dia & dirinya hanyalah…………………………….

  40. adhieputra berkata:

    saya lupa hadist itu, baru ingat lagi sekarang.

    saya terinspirasi bang..

  41. wi3nd berkata:

    berani,siapa takut 😀

    da terplanin9 A, insYa ALLAH tewujud,amien 🙂

  42. Yadi Suhara berkata:

    Semoga saja ada sepenggal kisahku yang tertinggal di sini…. Antum memang selalu menebar energi yang sedang dibutuhkan. Jazakalloh.

    Kesempatan tidak akan datang dua kali, tetapi kesempatan dapat diukir dengan kesungguhan. Perlu kesungguhan, kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas dan kerja ikhlas (mencatut dari tulisan kang Acoey, Sang Penebar) untuk mewujudkan kesempatan menjadi kenyataan…

    Kemampuan dan kecerdasan bahkan tidak berguna bila tidak tidak ada kesungguhan, kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas dan kerja ikhlas….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s