Terbakarnya Gerobak Merah (Kenangan Setahun Silam)


Sekitar setahun yang lalu, 3 April 2008, sepulang dari masjid tuk melaksaanakan shalat berjamaah shubuh, ponselku berbunyi. Nampak foto kedua ORTU-ku di layar ponsel sederhana pembelian ayahku itu.

“Mungkin dia telah lelah.”

Itulah penggalan kalimat dengan suara berat dari seorang lelaki yang selama ini selalu tegar.

“Ya Allah, jadikan ini ujian saja, bukan azab atas dosa-dosa kami yang begitu banyak.”

Ungkapan hati atas pembenahan persepsi pada-Nya. Kala itu aku sedih, teramat sedih. Bagaimana tidak, gerobak merah (mobil) itu begitu berarti buat keluarga kami. Hasil dari peluh ayah tuk menjadikannya ada di garasi. Dan kini terbakar sudah, bersama dengan dua unit motor dan berikut sebagian rumahku (sebagian kecil saja), rumah tempat kami berbagi kasih sayang dengan nyaman.

Ibuku lumayan shock. Beliau ga mau melihat akibat dari musibah itu. Pagi itu beliau masih bertahan di rumah pamanku. Bersama dengan beberapa barang berharga yang sempat diselamatkan dalam kondisi panik dini hari.

“Tidak anakku, tidak separah itu. Rumah kita masih tegak berdiri. Bangunan ini terlalu kuat tuk dikobarkan secuil api. Allah masih sangat sayang terhadap kita. Biarlah gerobak merah itu berakhir sampai di sini. Toh jasa-jasanya untuk menolong sesama sudah cukup banyak. Nanti jika ada rejeki kita kan beli lagi yang lebih layak.”

“Ayah, seberapa tegar dirimu aku tahu perasaan di hatimu. Kita manusia maka wajar jika kita manusiawi. Dan jangan halangi aku untuk pulang. Aku insyaallah pulang besok pagi. Untuk menatap wajah teduh kalian, wajah keikhlasan. Bercengkrama menatap abu kebahagiaan. Moga kelak kita tak terbakar di neraka seperti gerobak merah itu. Semoga!” Itulah gumamku saat itu.

Sehari setelah kejadian itu aku tiba di rumah, hari jumat menjelang ashar. Terlihat sudah banyak orang yang sedang memperbaiki rumah kami. Satu persatu mereka menyapaku dan memberikan ucapat-ucapan pembangkit spirit. Dan akhirnya aku bersimpuh pada pelukan ibu, dia pun menitikkan air mata. Sebuah ekspresi atas rasa sedih yang masih tersisa.

Aku lihat ayah begitu tegarnya. Bagaimana tidak, tengah malam peristiwa naas itu terjadi, esok paginya ayah sudah mengintruksikan orang untuk memperbaiki bagian-bagian rumah kami yang rusak terbakar. Al hasil aku tidak bisa sepenuhnya melihat dampak kebakaran itu. Tapi aku tahu bahwa dampak kebakaran itu ternyata jauh lebih buruk dari apa yang ayahku ceritakan. Tidak hanya gerobak merah saja yang hangus terbakar, tetapi juga dua unit sepeda motor dan sekitar seperempat bagian atap rumah. Dinding rumah yang berwarna putih dan biru nyaris semuanya berubah hitam. Pertanda betapa asap pekat itu begitu menyelimutinya.

Masyarakat sekitar begitu empati padaku ketika mereka bertemu. Bahkan ba’da shalat magrib berjamaah, jamaah masjid melakukan doa bersama untuk kami yang terkena musibah. Mereka berkata bahwa banyak sekali keajaiban, misalnya mengenai gerobak dan dua unit sepeda motor yang terbakar tapi tidak meledak. Tabung kompor gas yang juga tidak meledak. Wadah minyak tanah yang tidak terbakar cuma meleleh saja. Dan inilah yang membuat kebakaran masih bisa dikendalikan. Karena jika saja tu semua meledak dan terbakar maka rumah kami tinggal puing-puingnya saja. Begitu pun tentang manfaat kolam depan rumah yang airnya amat berjasa memadamkan kobaran api yang tak diundang itu. Berita musibah ini memang menjadi pembicaraan aktual, termasuk keajaiban-keajaiban itu. Dari sini kami sekeluarga sangat merasa bahwa Allah masih terlalu sayang kepada kami.

Kasih sayang Allah yang amat besar itu membuat kami sekeluarga tegar. Kami lebih memilih untuk mensyukuri apa yang masih tersisa ketimbang meratapi apa yang kini telah tiada. Toh materi hanyalah sebuah titipan saja dan masih bisa untuk dijemput kembali. Bahkan bukan tidak mungkin Allah kan menggantinya dengan yang jauh lebih baik dan lebih bayak lagi. Karena mudah bagi Allah untuk memberi dan mengambil, termasuk untuk nyawa yang saat ini masih menetap di raga.

Terakhir aku pulang kampung sekitar dua bulan yang lalu. Belum ada gerobak lain yang menghiasi garasi rumah kami. Tapi toh tidak mengurangi tampak cantiknya saung cinta itu. Ibu memang trauma, dia tidak ingin ada gerobak lain yang berada terlelap di garasi itu. Maka pantas jika gerobak adikku dibiarkkan bermalam di halaman. Dan sebagai anak, kami mencoba memahami trauma seorang perempuan, seorang yang telah membesarkan kami, dengan cinta.

Itulah kejadian yang telah berlalu setahun lalu. Kejadian yang membuat saya sadar bahwa hidup tak kan selamanya seperti air tenang. Kan ada riak-riak gelombang bahkan bias saja badai datang. Tapi kemampuan kita menahkodai perahu kehidupan itulah yang lebih penting. Setipa hari semakin menambah kokoh pondasi perahu kehidupan kita, itu karena kita senantiasa belajar dari apa yang terjadi. Kejadian yang baik dan kejadian yang buruk, memacu kita untuk mampu lebih baik lagi. Mohon doanya agar aku bisa menjadi orang baik.

Iklan

Tentang achoey el haris

Seorang lelaki sahaja yang gemar menulis. Dan blog baginya adalah media untuk menyalurkan kegemarannya itu. Salah satu pendiri Komunitas Blogger Kota dan Kabupaten Bogor (BLOGOR). Pengasuh Pojok Puisi. Anggota Komunitas Menulis Bogor (KMB) dan Kopi Sastra.
Pos ini dipublikasikan di Hikmah dan Motivasi, Sepenggal Kisah dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

37 Balasan ke Terbakarnya Gerobak Merah (Kenangan Setahun Silam)

  1. anKa berkata:

    pertamax euy…
    kang ini teh real kah… sing ikhlas yak kang… seperti ayahmu bilang “Nanti jika ada rejeki kita kan beli lagi yang lebih layak.”

    yang penting keluarga selamat semua…
    amin…

  2. diajeng berkata:

    yang sudah hilang di ikhlaskan saja ya A…semua ada hikmahnya 🙂

  3. diajeng berkata:

    sekarang sudah di beri yang lebih dan lebih lagi dari Alloh kan A..?bersyukurlah 🙂

  4. ajeng berkata:

    Selalu ada skenario indah dari Allah dibalik sebuah musibah…

  5. julie berkata:

    cinta lebih penting dari semua harta benda
    cinta kasih di antara orang tua dan anak2nya

    dirimu telah menjadi orang yang baik dan patut dibanggakan bro

  6. Muzda berkata:

    Alhamdulillah
    Beruntunglah bagi keluarga ‘A yang mampu membangun lagi apa yang sudah terbakar …
    Karena di kampung saya,, ada keluarga yang masih tinggal di puing-puing setelah rumah dilalap api, walupun sudah lewat tahunan …

  7. Acha berkata:

    Allohurromanurrohiim.
    Banyak hikmah yg Saya petik dari kisah ini.

  8. fachri berkata:

    hikmahnya pasti ada, itulah pertanda dari Allah

  9. cenya95 berkata:

    Khan kudo’a kan dikau sobat.
    Semoga menjadi orang yang baik, selalu baik.
    Amin.
    salam hangat.

  10. ekaria27 berkata:

    Pasti nanti dapat yang lbh baik.. 🙂

  11. komuter berkata:

    doa ku untuk mu selalu,
    tetap tegar

  12. Anita Dahlan berkata:

    Aslmkm…..
    Ya Allah dalm bgt kisah-y…mOga aa slalu dapatin kebahagian……Amienn

  13. Daniel Mahendra berkata:

    Pasti ada hikmah dari setiap musibah.
    Semua menyimpan misteri.
    Semoga mendapat gantinya yang lebih baik…

  14. geulist133 berkata:

    Ikhlaskan A’
    semoga keluarga selalu dalam lindungan-Nya

  15. Irfan berkata:

    mas ngingetin kejadian waktu rumah saya terbakar abis plus barang2 didalamnya…dan harus dirobohkan pada akhirnya karena parah banget, ga bisa ditempatin lagi.

    dan keajaiban Allah emang bener-bener ada, bibi saya ma anaknya yang nempatin rumah waktu kejadian itu, selamat. Thanks God!

  16. wi3nd berkata:

    *** fiuuhhh.. panas pisan dilapan9an..
    baru nyampe neeh A..
    tin99alin jejak duYu yaa…

  17. rayyahidayat berkata:

    “Kesedihan itu serbuk yang melahirkan amal shaleh. Tidak ada seseorang yang bersabar atas amal shaleh, kecuali dengan kesedihan” (Malik bin Dinar)

    Insya Allah, ada pengganti yang lebih baik.
    Amin

  18. alfaqir09 berkata:

    Mangkanya cepet punya istri eh nga nyambung lagi ya

  19. yoan berkata:

    *berdoasupayaOmAchoeybisajadiorangyanglebihbaik*
    *berdoasupayadoasayadikabulkanALLAH*

  20. aziz berkata:

    wah, kenangan yang berarti mas, sebuah kenangan yang selalu membuat kita bisa merenung dan selalu bisa menjadi semangat untuk kita….

  21. Pencerah berkata:

    semoga cepat melupakan musibah itu

  22. edratna berkata:

    Terkadang kita mendapat cobaan agar membuat semakin dekat pada Nya.
    Semoga mendapatkan tejeki yang bisa mengembalikan semuanya.

  23. frozzy berkata:

    hikz….jadi inget mama ‘n bapak nun jauh disana…. sorry kang,….jadi OOT kieu….huhuhuhuh

  24. emma berkata:

    Menjadi lebih baik itu satu keharusan..

    Kejadian masa lampau adalah pelajaran berharga untuk..
    melangkah ke masa depan..

  25. syelviapoe3 berkata:

    Turut bersimpati, kang…
    Semoga Allah SWT memberikan yang terbaik, ya..

  26. Itmam berkata:

    gmn kabar sahabat?
    semoga selalu mendapat petunjuk di jalan-Nya.
    ikhlaskan yang seharusnya terjadi… semoga kita bisa mengambil hikmah.

  27. idana berkata:

    hilang satu tumbuh seribu kan ???
    nanti juga dapat yang baru….tetap semangat yaaa 😀

  28. Rian Xavier berkata:

    semua itu pasti ada hikmahnya kok. =)

  29. dieyna berkata:

    hiks hiks hiks…

  30. bocahbancar berkata:

    Keluarga mAs Achoey mmenag hebat dalam menghadapi cobaan, semua diikhlaskan karen Allah semata…

    Semoga sifat2 itu terus ada dan turun temurj di keluarga Mas Achoey nantinya…

    Salam hangat Bocahbancar….
    “Saya mendapatkan tambahan ilmu sepulang dari sini”

  31. easy berkata:

    manusia memang harus siap menghadapi berbagai cobaan dari Nya.
    kita harus ikhlas kan mas 🙂

  32. Ade berkata:

    speachless..

    everything happens for a reason..

  33. 1nd1r4 berkata:

    Apapun yg terjadi dalam hidup kita, suka maupun duka pasti Allah punya rencana yang terbaik dibaliknya 🙂 …. be strong

  34. wi3nd berkata:

    ** balik la9i..
    ALLAH pasti tau yan9 terbaik A…

    sabar& tabah yaa,plus ikhlass..

  35. Rnda berkata:

    ujian diberikn utk menguji sabar diri setiap umatNya, baik ataupun buruk mnurut kita itu adalah yg terbaik utk kita mnurut Alloh. Jalani hidup dgn sederhana (khusnudzon, syukur dan sabar) dgn seperti itu kita bisa mrasakn kbahagiaan hidup, nikmat yg Alloh brikan. Mdh2an distiap hal yg terlewati kita bisa mngambil hikmahnya supaya diri jd lbh baik.

  36. wanti annurria berkata:

    harta hanyalah titipan,, yang kan dimintai pertanggungjawabannya kelak…

    ujian hidup sebenarnya adalah nikmat,,, dan penghapus dosa qita di dunia adalah ikhlas menghadapi setiap cobaan… 🙂

  37. racheedus berkata:

    Kita merasa kehilangan jika kita merasa memiliki sesuatu. Tapi jika yang kita miliki hanyalah Ia semata, jika kita meyakini semua yang ada hanyalah milik-Nya semata, maka kita tidak pernah terombang-ambing saat Ia mengambil kembali milik-Nya.

    Salam hangat, Kang Achoey. Tetap semangat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s