Satu Sisi Perjalanan Seorang Anak


Anak itu berjalan menyusuri ruas jalan. Tubuhnya yang kumal menandakan betapa bersahabatnya dia dengan debu jalanan ibu kota yang tiada dua. Didekapnya berlembar koran lokal dan nasional. Isinya tak lagi membuatnya peka tuk membaca. Kecuali beberapa kolom saja yang menurutnya layak. Jikalau ditanya kenapa dia enggan membacanya, jawabannya adalah tak semua koran sekarang berpegang pada kebenaran. Lebih bersifat materialistis yakni hanya menjual yang sekiranya layak dijual dan disukai banyak orang. Atau menjual jikalau berita itu adalah pesanan orang yang bersedia “mensubsidi”. Banyak orang heran atas argumen si anak tadi, dan mereka pun mencoba mengkaji dan bertanya pada hati. Benarkah seperti ini?

Anak itu mencoba berteduh saat lampu hijau menyala. Dia perhatikan betapa kini ibu kota berjuta warna. Merah, kuning, hijau, biru, putih, ungu dan warna-warna lain yang mungkin sedikit mengusik pandangan para pengendara. Dia sempat bertanya, kenapa begitu banyak bendera. Memang sebenarnya dia sempat baca di surat kabar kalau tujuan pemilik bendera-bendera itu adalah untuk memakmurkan negeri ini. Mengangkat derajat rakyatnya agar lebih memiliki kehidupan yang layak. Memang dia sempat melihat ada pemilik bendera itu yang sungguh-sungguh. Datang di kala bencana dan berbagi di rumah kumuh. Tapi jika benar para pemilik bendera-bendera itu memiliki tujuan luhur kenapa hanya datang kambuhan. “Ah andai saja semua bendera berkiprah seperti pemilik bendera yang satu itu,” gumam dia.

Dia mencoba menerka uisa, sudah berapa lamakah dia hidup di dunia. Dia sedang berpikir apakah dia layak tuk ikut Pemilu 2009 nanti. Dia pikir tidak. Ah mungkin usiaku baru 13 tahun, taksirnya. Ini disimpulkan berdasarkan kelas berapa dia sekarang di sekolah. Dan dia kelas VI SD, ini tandanya usianya sekitar 13 tahun. Padahal jikalau ibunya ada saat ini mungkin dia kan diberitahu kalau usianya sudah 16 tahun. Tapi dia hanyalah sebatang kara. Kemanakah orang tuanya? Yang jelas dia sempat diberitahu oleh seseorang yang merawat dirinya kalau dia adalah anak sepasang pecinta tanpa ikatan perkawinan yang sah. Dan konon kabarnya sang ayah adalah seorang yang cukup “hebat” sementara ibunya adalah gadis muda yang teramat cantik yang kini memutuskan tuk jadi TKW ke Hongkong. “Ibu, benarkah ibu bekerja selayaknya di sana?” Si anak itu pun menengadah, karena hanya Tuhan saja yang selama ini menguatkannya.

Iklan

Tentang achoey el haris

Seorang lelaki sahaja yang gemar menulis. Dan blog baginya adalah media untuk menyalurkan kegemarannya itu. Salah satu pendiri Komunitas Blogger Kota dan Kabupaten Bogor (BLOGOR). Pengasuh Pojok Puisi. Anggota Komunitas Menulis Bogor (KMB) dan Kopi Sastra.
Pos ini dipublikasikan di Kreasi Fiksi dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

19 Balasan ke Satu Sisi Perjalanan Seorang Anak

  1. racheedus berkata:

    Saya pernah kebingungan ketika hendak menikahkan seorang anak pengamen jalanan. Ia masih terlalu muda untuk menikah. Dan yang lebih repot lagi, orang tuanya tidak jelas keberadaannya. Keras dan bebasnya kehidupan jalanan, membuat kedua insan muda itu melakukan sesuatu yang mestinya belum saatnya mereka lakukan.

  2. sunarnosahlan berkata:

    bahasa media memang secara umum bagaimana layak jual, entah kebenaran entah kebatilan

  3. yakhanu berkata:

    semangat bro..!

  4. bocahbancar berkata:

    Hhh,….Hanya Allah sajalah tempat menggantungkan diri..

    Di saat merasa tidak ada siap2 yang menyayangi kita, maka hanya Allah lah yang menjaga kita…

    Salam hangat Bocahbancar…..

  5. geulist133 berkata:

    Milik Dialah kerajaan langit dan bumi. Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan.

    Bravo anak jalanan!
    semangat tanpa akhir

  6. deeedeee berkata:

    visiting-reading-giving comment 🙂

    Tapi jika benar para pemilik bendera-bendera itu memiliki tujuan luhur kenapa hanya datang kambuhan

    tulisan di bagian ini menarik, patut dipertanyakan kepada para pemilik bendera

  7. agung agriza berkata:

    wuah..mnyentuh bgt ..

  8. Rindu berkata:

    Langit bagai atap rumahnya dan bumi sebagai lantainya … inilah sisi perjalanan seorang anak pengemis 🙂

  9. zee berkata:

    Duh saya jd inget bbrp tahun lalu kantor saya buat event khusus utk pengamen jalanan. Trenyuh rasanya melihat perjuangan mereka utk cari duit utk hidup hari itu juga.

    Saya ingat saya sampai meminjamkan gitar pribadi saya agar si pengamen yg bersuara bagus bisa tampil di panggung, karena ybs sendiri tdk bs memainkan gitar elektrik.

  10. donalduck berkata:

    miris nih bacanya… tapi di jkt skg sulit membedakan mana yang ‘benar pengemis’, ‘bos pengemis’ dan mana yang REAL ANAK JALANAN… benar, hanya Tuhan YANG MAHA TAHU.

    btw, ini ada award buat kamu, ambil ya dan tempel di blog kamu… thanks!

  11. kawanlama95 berkata:

    pengemis .aku pernah interview kepegemis.

    bu kenapa ngemis ,”ya buat jajan aja”
    emang anaknya kemana ,”ada,di kerja .ibu takut ngerepotin.anak angkat sih
    anak kandungnya kemana, “ada tingal di cijantung”dia ga angap saya ibu lg
    ooo gitu.

    Ada juga pengemis yang aku temukan.sebelum ngemis motornya
    di titipin dulu setelah itu ngemis dah

  12. 1nd1r4 berkata:

    Itulah hidup dengan segala warna warninya bro 🙂 . Ada yang beruntung…ada yang tidak, dan ada yg mencari keuntungan diantaranya. Bagaimana degan kita sendiri? sudahkah kita berguna bagi diri sndiri dan sekitar? kapanpun ada kesempatan, mari ulurkan tangan dan saling membantu 🙂

  13. Jiban berkata:

    fiksi ataukah nyata?

  14. dafhy berkata:

    itulah hidup……ada yang kaya dan juga ada yang miskin, semuanya telah di atur oleh Allah

  15. scouteng berkata:

    begitulah nasib manusia berbeda-beda.. nasib adalah kesunyian masing-masing. tinggal kita mengambil hikmahnya. “BACALAH DENGAN NAMA TUHANMU YANG MENCIPTAKAN” bukankah itu yang pertama kali diwahyukan kepada raulullah.

  16. wi3nd berkata:

    miris meman9,tapi itulah kenyataan yan9 aDa,
    harus ba9aimana menyikapinya?

    semo9a saJah aDa perubaHan yan9 berarti meski hanya sedikit..

  17. ria manies berkata:

    hiksss…… ndak pernah ngebayangin bagaimn hidup seperti merekaaa… Ya Allahh…..

  18. sangjaka berkata:

    Ada yang harus kita rubah dalam hidup bermasyarakat ini
    Kejujuran dan Kepedulian harus kembali ditegakkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s