Terjebak dalam Fiksi


Menulis sebuah fiksi adalah bagaimana kita mampu membuaat imajinasi tertuang indah. Imajinasi atas rangkaian cerita yang mengandung pesan yang juga indah. Bukan hanya sekedar cerita yang membakar gairah, tapi cerita yang mengandung hikmah, hikmah yang menjadikan pembacanya tercerahkan.

Aku bermimpi untuk mampu menghasilkan karya yang indah dan bermanfaat. Sebelum melakukan itu aku berusaha untuk mengumpulkan ruh penulis dalam diriku. Maksudnya adalah agar fiksi yang kubuat juga memiliki ruh, ruh yang membuat pembaca menangkap pesan yang ingin kuungkap, tanpa harus sulit disingkap.

Sempat aku membuat sebuah fiksi tentang pentingnya kita bersikap bijak dalam hal virginitas atau keperawanan. Bahwa seorang gadis yang telah melakukan kesalahan dan berupaya memperbaiki dirinya mestinya kita berikan kesempatan, jangan biarkan mereka makin terpuruk oleh perlakuan yang tidak bijak. Dan selang beberapa hari dari itu tiba-tiba seorang gadis menceritakan kejujuran, tentang ketidakperawanan dirinya, lantas dia memintaku untuk menikahinya.

Saat itu adalah saat yang cukup berat dimana aku harus bijak mengaambil sikap. Dimana aku harus konsekwen dengan apa yang kutulis. Aku menangis mengadu pada Tuhan hampir semalaman. Dan akhirnya setelah aku meyaakinkan diriku, aku memberikan jawaban ya kepadanya.

Allah punya cara terindah untuk menguji hambanya. Sebulan kemudian gadis itu pun tak lagi menjadi calon istrinya. Gadis itu menunjukan bahwa aku terlalu baik untuknya dan dia lebih memilih seorang duda nan rupawan. Sedih campur gembira membalut raga mengurai rasa. Ya Allah, inikah keadilan itu. Subhanallah.

Fiksi “Lewat Blog Cinta Bertaut” yang penulis suguhkan pun tak mampu meyakinkan para pembaca bahwa ini adalah benar-benar fiksi adanya. Penulis tidak sedang menjalani kisah itu. Namun penulis jujur, bila ini kejadian dalam kehidupaan nyata, toh penulis kan bahagia.

Lalu adakah yang bersedia kembali menjebak penulis? Membuatnya terjebak dalam fiksi yang dia buat. πŸ™‚

Iklan

Tentang achoey el haris

Seorang lelaki sahaja yang gemar menulis. Dan blog baginya adalah media untuk menyalurkan kegemarannya itu. Salah satu pendiri Komunitas Blogger Kota dan Kabupaten Bogor (BLOGOR). Pengasuh Pojok Puisi. Anggota Komunitas Menulis Bogor (KMB) dan Kopi Sastra.
Pos ini dipublikasikan di Celoteh Hati dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

36 Balasan ke Terjebak dalam Fiksi

  1. ngeselin berkata:

    salam kenal
    penggemar humor datang berkunjung…

  2. wi3nd berkata:

    ** lirak lirik πŸ™„
    komen petamakah….

    emm..tejebaK dLm fiksi..ehehhe

    jadi ayoo siapa yan9 mauu….
    aDa yan9 la9i bikin traP neehh.. πŸ˜›

    ** kabuurr ahhh..

  3. Menik berkata:

    ini juga penyangkalan atas semua tulisan2 fiksimu tho dek ? πŸ™‚

  4. ekoph berkata:

    kalo lama-lama terjebak dalam fiksi maka yang fisik menjadi kabur dan terlupakan

  5. Tuyi berkata:

    wah…wah…senjata makan tuan rupanya Kang..? πŸ˜›

  6. suwit2 berkata:

    Tapi akang menikmati kejebak kan?

  7. Pencerah berkata:

    judul yg bagus.
    namanya diskak mat tuch

  8. kawanlama95 berkata:

    Lagi lagi,tulisan nya mengalir begitu deras ,hinga kecepatan membaca postingan ini mungkinyang tercepat ku baca.Barangkali kita para pembaca harus lebih ikhlas dan memahami isi tulisan dengan kejernihan membacanya ,sehinga kita mampu menangkap isi tulisan tersebut.oke kawan. selamat ya atas keputusannya walah menjebak sampeyan nih.

  9. missjutek berkata:

    hmm… jadi ceritanya pembelaan diri? klarifikasi? πŸ˜€

    kalo menurut saya sih, kalo mau nulis, ya nulis aja… ga perlu nunggu ruh segala… kelamaan… πŸ˜€

  10. edratna berkata:

    Lha kalau pembaca menganggap itu bukan fiksi, tak masalah kan..berarti ceritamu sungguh bagus, sehingga berpikir penulisnya sendiri yang mengalami.

  11. Ardi berkata:

    Penyair tak pernah bahagia, walau setinggi-tinggi apapun jiwanya, mereka tetap diselubungi kesalahan dan airmata……

  12. fiksi? hmm…
    –> menciptakan kenyatan πŸ˜‰

  13. Amel berkata:

    kok yo espokat sm bunda je aku :mrgreen: **ditampol dikira bersekutu sm bun bun πŸ˜€

  14. salam kenal. walau fiksi, sebuah tulisan tetap membawa ruh.

  15. pututik berkata:

    padahal artikel fiksi stensilan pada suka tuh pak hehehehhe

  16. realylife berkata:

    hemmm, pengennya sich pak , tapi nda jago menjebak orang ni
    hehehehe

  17. deeedeee berkata:

    Hehehe.. ini postingan klarifikasi toh ..
    Mungkin di akhir tulisan harus selalu diberi keterangan Fiction Only, karena ternyata tag-catergory agak jarang dibaca oleh para visitor πŸ˜€

    Keep writing πŸ™‚

  18. senoaji berkata:

    hati2 aja garis tipisnya suka gak kelihatan absurb kasat mata

  19. MT berkata:

    menulis saja… sudah menjadi resiko jika ada pembaca yang menganggap kita seolah-olah fiksi yang kita tulis. bahkan itu adalah keberhasilan dari tulisan kita: berhasil membuat pembaca BERGERAK…

  20. Rian Xavier berkata:

    tapi fiksi itu bagus.

  21. Prasetya Yudha berkata:

    Yang penting mah, nulis, nulis apa aja..walo itu fiksi apa non fiksi..babat aja..yang penting jangan sampai kegiatan menulis kita membuat kita nggak have fun..:-D

  22. Rindu berkata:

    Kang mas, mari berimajinasi bareng … kita tulis satu cerita bersama dengan judul “Rindu” terserah apakah itu nama ataukah itu rasa πŸ™‚

    Berani terima tantangan?

  23. syelviapoe3 berkata:

    WAH, Ada tantangan dari Mbak Rindu, nih, Kang Achoey…Hayo ..disambut apa enggak ?

    πŸ˜†

  24. dhilacious berkata:

    fiksi bagus kok..
    itung2 keluar dari kenyataan.. :0

  25. kawanlama95 berkata:

    kang achoy udah terima aja tantangan rindu.Bukankah imajinasinya masih nyambung.Aku rasa masih ada ……rasa…..

    Sory kang

  26. komuter berkata:

    terlalu banyak berkhayal demi sebuah fiksi?
    bisa cepat tua ….
    mending yang nyata-nyata saja

  27. siwi berkata:

    Fiksi dan kenyataan, sepertinya yang membatasi hanyalah segaris benang tipis. *halagh*

    πŸ˜€

  28. suwit2 berkata:

    Kang achoy sm mbak rindu mendingan nulis tentang rindu(rasa)kepada rindu(nama)!! gimana?

  29. wanti annurria berkata:

    jangan lama2 terjebak dalam fiksinya kang,,,
    karena ada yang menunggu mu di alam nyata sana…
    halaah… πŸ˜€

  30. bogorbiru berkata:

    tapi kang, sampai sekarang saya percaya kalau seorang penulis yang baik mampu menyembunyikan dirinya dalam tulisannya.. nah

  31. demoffy berkata:

    sebelum melangkah…
    hayo kita fikirkan…
    Langkah selanjutnya….

  32. Ikkyu_san berkata:

    Kisah nyata memang bisa menjadi dasar cerita fiksi. tapi seperti DM katakan berkali-kali, segala sesuatu yang sudah tertuliskan itu adalah fiksi. (Meskipun saya tidak 100% setuju akan pendapat itu)
    Anggap saya seperti ibu Enny, bersuka citalah jika pembaca menganggap bukan fiksi karena berarti Aa sudah piawai.

    EM

  33. ceuceu berkata:

    wah..hebat ni..saking ber ‘ruh’..fiksi dikira nyata.. sipp..! bener kok..setiap tulisan harus punya ‘ruh…but anyway..ajarin ya..hik..hik..hik.. salam kenal

  34. Nisa berkata:

    wah, saya juga pengen bikin tulisan yg bernyawa… 😦 , kapan ya bisa kesampaian… :mrgreen:,

    wah, ada yg lagi berimajinasi buat ngerjain tantangan ya.. semangat, semangat..!

    berimajinasi gak bikin cepat tua kok, πŸ˜‰

  35. presty larasati berkata:

    sabar, akh..
    kejebak? selama jebakan itu membawa pada sejuta kebaikan, knapa ngga?
    he he he
    ^_^

  36. 1nd1r4 berkata:

    mau kisah nyata ataupun fiksi bukan masalah kang, teruslah berkarya itu yang utama πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s