Meratap Paradigma


“Kuliahlah nak, agar kelak kau mudah mendapat kerja”.

“Jika hanya ingin menjadi pedagang, tak usahlah kau menuntut ilmu hinga jenjang S1″.

Ungkapan seperti itu sudah terbiasa terdengar di pelosok nusantara. Anggapan bahwa pendidikan yang tinggi bertujuan agar mudah mendapatkan pekerjaan adalah suatu hal yang sudah mewabah bahkan mendarah daging di benak umumnya masyarakat kita, terutama generasi tua. Paradigma seperti ini nyaris tak bisa dirubah bahkan seolah dianggap harga mati hasil hitungan matematika dan ramalan jawa. Lalu benarkah paradigma seperti ini?

Bukan maksud hati menyalahkan paradigma seperti ini, karena toh tidak perlu disalahkan pun sudah jelas salah. Paradigma seperti ini awalnya dipropagandakan oleh penjajah terhadap rakyat Indonesia. Dengan tujuan agar rakyat Indonesia tidak berpikir untuk menjadi kaum borjuis melainkan betah pada ke-proletar-an. Mereka dibuat enjoy menjalani hidup sebagai buruh dan dicuci otaknya dari sifat entrepreuneur yang dicontohkan Rosulullah SAW. Dan ternyata paradigma yang dikumandangkan penjajah itu dijadikan bahan rujukan bagi generasi tua dalam mendidik dan menentukan arah langkah anak-anaknya.

Saya adalah contoh dari kekuatan paradigma yang salah itu. Dengan susah payah mengambil disiplin ilmu ekonomi manajemen karena memiliki niat untuk menjadi seorang pedagang (pengusaha) yang sukses. Toh ketika lulus tetep harus bekerja di perusahaan orang lain. Keinginan untuk merintis usaha sendiri pun diembargo, bukan hanya embargo dalam hal modal financial, tapi juga dalam hal spirit dan yang paling penting adalah embargo dalam do’a dan keridhoan orang tua. Hingga akhirnya, sebagai anak yang ingin berbakti kepada orang tua toh saya menurut saja.

Kini saya bekerja pada perusahan orang lain sudah lebih dari tiga tahun lamanya. Dan benarlah betapa bangganya orang tua saya. Saya memang diperbolehkan berwirausaha dengan catatan tidak keluar dari pekerjaan. Saya jalani dua status ini, sebagai karyawan dan sebagai pedagang, semoga bias berjalan beriringan.

Pilihan mau kuliah atau mau berwirausaha pun ditawarkan pada adik-adik saya. Setelah adik saya yang kedua menuruti tuk menjadi seorang Bidan dan kini adik saya yang berikutnya pun memilih kuliah saja. Saya pikir cengkraman paradigma ini begitu kuatnya dan sebagai seorang kakak saya pun tidak bisa membantu adik-adik saya untuk menguatkan sikap mereka. Dan alhasil jadilah kami keluarga pekerja meski ayah saya bukan pekerja. Kenapa, karena ayah saya tidak kuliah, itulah sebabnya beliau berhak berwirausaha.

Nah, jika kita melihat negara maju seperti Amerika, di sana 1 dari 2 warga negaranya adalah seorang pewirausaha. Bahkan orang-orang terkaya lebih memilih DO dari pendidikan sarjananya. Bukan berarti lebih baik kita tidak Sarjana, tapi alangkah lebih baik jika para Sarjana yang sedikit ini memiliki motivasi yang tinggi untuk menjadi seorang pewirausaha sehingga makin banyaklah lapangan pekerjaan untuk masyarakat dan makin tinggilah tingkat pendapatan warga negara kita.

Oh yach, bukankah sebagian besar pintu rejeki itu adalah dari perdagangan. Ada yang bilang 90%-nya. Maka adalah wajar jika ada ungkapan “Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke Negeri China”. Dan ternyata kebanyakan orang China adalah seorang pebisnis yang tangguh. Di negara mana pun etnis Tionghoa itu berada, mereka adalah para pebisnis yang ulung dan berhasil. Seperti halnya teman saya yang jauh-jauh kuliah ke Australia, toh tetap pulang ke Indonesia untuk berbisnis, menjadi pengusaha restaurant, dan orang tuanya sangat mendukung.

Jadi, maukah kita merubah paradigma ini?

Iklan

Tentang achoey el haris

Seorang lelaki sahaja yang gemar menulis. Dan blog baginya adalah media untuk menyalurkan kegemarannya itu. Salah satu pendiri Komunitas Blogger Kota dan Kabupaten Bogor (BLOGOR). Pengasuh Pojok Puisi. Anggota Komunitas Menulis Bogor (KMB) dan Kopi Sastra.
Pos ini dipublikasikan di Celoteh Hati dan tag , , , , , . Tandai permalink.

33 Balasan ke Meratap Paradigma

  1. Lumiere berkata:

    Paradoks kang, butuh kesadaran Diri untuk itu…

  2. uki21 berkata:

    kang… Hidup ini memang selalu di buat kerdil oleh pikiran kita sendiri..
    Ayo semagat.. kita berjuang..

  3. kw berkata:

    benar sekali mas..,
    temanku juga dilarang keras jadi bisnisman. dan doa orang tuanya manjur, sekarang masuk pns….
    syukuran deh mereka
    🙂

  4. Keris berkata:

    memang susah untuk mengubah paradigma tapi bukankah masih bisa diusahakan

  5. okta sihotang berkata:

    wah…bertolakbelakangan ama kehidupan chinese neh kang 🙂

  6. Humorbendol berkata:

    Terlepas dari paradigma itu, mudah-2an abang ini bisnisnya lancar dan menjadi bos dan tidak menjadi karyawan lagi. Kali aja ilmu kuliah-an bisa dipekek dalam penerapan bisnis itu.

  7. ipi berkata:

    klo gw siy..mau jd pedagang kek,pegawai kek,cuma sekedar ibu rumah tangga kek. Pendidikan itu penting bgt. So, belajarlah setinggi mungkin…

  8. IndahJuli berkata:

    kalau mama saya pengen anaknya jadi pegawai negeri 😀
    untungnya si Bapak orang yang demokratis, kalau pintar lanjut sekolah tinggi, kalau ngak, yah kursus aja.
    Apa kabar Kang, maaf lama ngak berkunjung ke blog inspiratif ini.

  9. Jiban berkata:

    diriku termasuk salah satu korbannya…..
    tapi alhamdulillah ilmu yang aku dapat selama kuliah sangat bermanfaat…

  10. masfaj berkata:

    sy pengin kang bs jd wirausahawan sprt kang achoy,
    tp untuk jd entrepreneur jg perlu proses jd hrs siap mental,
    nah..nyiapin mentalnya ini yang belum banyak diajarkan di Indonesia
    tp bs bljr dr kang achoy….

  11. bang………..blue menimati benar postingan dari abangdi sore ini
    salam hangat penuh senyum kebahagiaan selalu

  12. senoaji berkata:

    semua yang berhubugan dengan kia baik meta maupun fisik adalah pembelajaran, ntah diranah mana mo sosial ekonomi pol to kebudayaan semua adalah ilmu dan wajib untuk kita memaknai sebagai sebuah mahakarya tentang langkah hidup yang kita jalani…

    senoaji

  13. thegands berkata:

    “Nah, jika kita melihat negara maju seperti Amerika, di sana 1 dari 2 warga negaranya adalah seorang pewirausaha. Bahkan orang-orang terkaya lebih memilih DO dari pendidikan sarjananya. Bukan berarti lebih baik kita tidak Sarjana, tapi alangkah lebih baik jika para Sarjana yang sedikit ini memiliki motivasi yang tinggi untuk menjadi seorang pewirausaha sehingga makin banyaklah lapangan pekerjaan untuk masyarakat dan makin tinggilah tingkat pendapatan warga negara kita.”
    pas banget sobat…

  14. INDAHREPHI berkata:

    Setuju sm IPI mas…
    ntah spt apa nantinya kita mas, bwt aku pendidikan itu sangat penting…setidaknya sbg bekal agar hidup bs bermakna.. Tuhan memberikan kita akal dan pikiran utk terus belajar agar kita nantinya bs memilah memilih mana yang baik dan mana yang bukan 🙂

  15. dieyna berkata:

    Ya saatnya kang achoey membagi ilmu enterpreneurny aneh

  16. radesya berkata:

    Iya sih kak, tapi kalau menurut aku, ilmu itu sangat penting, pendidikan sangat penting bagi bangsa ini kak. Berdagang pun butuh pendidikan, apapun pekerjaan kita, butuh ilmu. Bagaimana kita bisa mengatur keuangan dengan benar tanpa ilmu. Niat aku kuliah adalah mencari ilmu, jika suatu saat dapat pekerjaan yg baik itu suatu bonus atas ilmu yg aku dapat.
    Aku doakan semoga kakak bisa cepat jadi Bos, tidak jadi karyawan lagi 🙂

  17. han han berkata:

    wah kalau saya kuliah lulus tapi sekarang malah di bisnis hokinya… hehehe

    Selamat malam mas….. :mrgreen:

  18. putrinegriangan berkata:

    sama kang [atau mas?]..

    kemarin pas Put buat nasi goreng dan banyak yang memuji, Put celetuk.. “kalo gitu, buka kafe kecil khusus nasi goreng aja ah!” Eh malah diomelin ma Bapak.. “susah2 dikuliahin sampe sarjana ujung2nya jadi tukang nasi goreng..”

    mungkin karena Bapakku [dan banyak BAPAK lainnya] nggaulnya bukan di Amrik kali kang.. jadi ngga tau kalo disana yang kaya raya justru entrepreneurnya.. 😛

    uiyagh.. blognya saya link.. 🙂 tq

  19. fandi88 berkata:

    lam kenal mas,, ditunggu kunjungan’na.. 🙂

  20. Rita berkata:

    Dari awal baca saya sudah kepikiran pada jiwa bisnis ulung saudara kita orang Cina…. Bang mulai dari bang aja, ntar kalo udah nikah dan punya anak, tanamkan deh jiwa entreperneur ke generasi2 baru dgn begitu paradikma itu perlahan tapi pasti akan terkikis habis. Cukup para tetua2 terdahulu yg memiliki pandangan yg demikian ( tidak semua)

  21. yessymuchtar berkata:

    wah ..lama aku gak main kesini ya kang 🙂

  22. wi3nd berkata:

    nDa bisa secepat ituh A’ untuk men9ubah paradi9ma yan9 sudah tertanam d9 kuaTna..
    butuh waktu dan pRoses kearah sanah..
    untuk memulaina ya dari diri sendiri duLu,den9an memberi pen9ertian paDa k2 oran9 tua d9 perlahan…

    sebenerna sarjana ato tidak ituhkan hanya @ 9elar untuk status ajah..
    menjadi @ pebisnis handal&maju ju9a terpuji kok..:)

  23. zoel berkata:

    hmmm tergantung pribadinya sich…

  24. nenyok berkata:

    Salam
    Yang jelas ilmu setinggi apapun insya Alloh ga akan sia-sia. tul ga? 🙂

  25. ontohod berkata:

    hmmmm…. menggugah sayah

  26. cara pandang emang susah nih.. kadang2 kuliah jadi bahan tolakan biar dapet duit banyak.. tapi kan, ga cuman itu

  27. ridu berkata:

    banyak yang ingin berwirausaha, tapi kesandung sama masalah modal, dan juga banyak yang masih takut akan kerugian, sehingga pengetahuan mengenai wirausaha juga perlu dikembangkan kepada mahasiswa… betul kang??

  28. Zahril berkata:

    Assalammualaikum,

    Memang benar kenyataan sehari-hari menunjukkan bahwa tujuan akhir sesorang menempuh pendidikan adalah “supaya nanti setelah lulus mendapatkan pekerjaan yang bagus” artinya niatnya secara tidak sengaja memang sudah di setting menjadi karyawan, bukan pengusaha!!

    Padahal menurut Robert T kiyosaki menjadi orang gajian itu adalah kwadran yang paling rendah.

    Jangan pesimis, hidup ini harus dinamis, mungkin sekarang kita masih terpenjara sebagai karyawan, tapi jika kita terus bergerak tentu kita akan bisa pindah kwadran menjadi pengusaha.. InsyaAllah.

    Sukses untuk kita semua..

  29. Farrel berkata:

    Mungkin semua orang tua kita dulu berpikiran seperti itu. Seseorang belum dianggap berhasil kalo belum memiliki pekerjaan dengan gaji besar. Padahal harusnya sekarang bagaimana kita sendiri yang menciptakan lapangan pekerjaan. Aneh memang…

  30. pengendara berkata:

    kalau saya terbalik,
    .
    orang tua memang menyekolahkan saya sejauh saya mau, dan memberi modal untuk membuka usaha, namun saya tidak minat wira usaha,
    .
    saya lebih senang berada di belakang meja menghasilkan sesuatu dengan posisi saya yang tidak terganggu,
    .
    artinya; tidak perlu berpikir untung rugi atau jika bertindak apakah akan menjadi fatal atau malah jadi hebat. yang penting berkarya,
    .
    memang secara finansial nasib orang seperti saya sudah terlihat. tidak akan miskin semua serba PAS, makan pas, bayar listrik pas, dll pass. juga tidak akan kaya kecuali korupsi makan uang rakyat (hiiiyyy…. amit amit mau doooong)

  31. health medicine berkata:

    memang pola fikir paradigma itu harus diganti

    yang buruk diganti dengan yang baik

  32. iswady berkata:

    i2 yang saya rasakan waktu kuliah, tetangga mencibir. Alhamdulillah ternyata cibirannya itu menjadi doa buatku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s