Problematika Ujian Nasional (UN)


Sebagian besar generasi penerus bangsa yang berstatus sebagai pelajar dan duduk di bangku akhir tiap jenjang pendidikan yang ada merasa keberatan dengan adanya kebijakan pemerintah yang meningkatkan standar kelulusan Ujian Nasional (UN). Tentu saja mereka gusar karena mereka merasa takut tidak lulus jika saja benar-benar standar kelulusan itu dipakai. Bukan rahasia lagi jika banyak generasi penerus bangsa yang lebih suka hura-hura ketimbang belajar, kemalasan sudah menjadi pakaian bahkan sikap tidak sopan terhadap guru sudah menjadi pertunjukkan yang membahanakan gelak tawa seisi kelas. Lalu siapakah yang salah?

Tak sedikit pula yang acuh tak acuh dengan standar kelulusan ini. Bukan karena mereka merasa sudah cukup mumpuni ilmu pengetahuannya tapi justru karena mereka sudah tak peduli lagi akan masa depannya. Mereka malah ibarat kepiting sawah yang berusaha menggangu teman-temannya yang terlihat serius dan berusaha untuk lulus. Maksudnya adalah jika perlu semuanya bernasib seperti mereka. Lalu yang salah siapa?

Kepanikan ini tidak hanya menyentuh mereka para pelajar dipenghujung kelulusan, juga merambah kepada pihak pengelola sekolah termasuk pimpinan dan para ibu bapak guru. Dibenak mereka terbayangkan apa jadinya jika banyak siswa sekolah mereka yang tidak lulus. Mau disembunyikan di mana wajah sekolah dan pribadi mereka, karena orang tua toh belum cukup arif untuk membagi rata penyebab kegagalan ini. Lantas konon kabarnya ada para pengelola sekolah tersebut yang berusaha merancang manajemen “Tim Sukses” yang kan beroperasi kelak pada saat genderang perang dibunyikan. Lalu siapakah yang salah?

Sang orang tua sebagai penyandang dana was-was menyikapi keadaan ini. Tak sedikit dari mereka yang mempersiapkan strategi “jalan pintas” dan “jurus jitu” tak mendidik untuk memuluskan kelulusan anaknya. Lalu yang salah siapa?

Lantas pihak-pihak yang merasa telah dibuat ketakukan, ramai-ramai membuat nota kesepahaman menuduh pemerintahlah yang telah salah menetapkan kebijakan. Pemerintah dianggap terlalu memaksakan diri untuk bisa seperti negara-negara lain yang lebih maju tanpa diimbangi dengan tindakan meningkatkan mutu pendidikan itu sendiri, baik dari segi kualitas bangunan fisik penunjang pendidikan ataupun dari standarisasi kualitas guru. Lalu benarkah pemerintah yang salah?

Sebagai bagian dari masyarakat tentunya saya lebih tertarik untuk mengajak semua berintrospeksi, karena bisa jadi kita semualah yang telah melakukan kesalahan. Kesalahan yang berjamaah dan tak kunjung disembuhkan.

Bagaimana menurut sahabat? 🙂

Iklan

Tentang achoey el haris

Seorang lelaki sahaja yang gemar menulis. Dan blog baginya adalah media untuk menyalurkan kegemarannya itu. Salah satu pendiri Komunitas Blogger Kota dan Kabupaten Bogor (BLOGOR). Pengasuh Pojok Puisi. Anggota Komunitas Menulis Bogor (KMB) dan Kopi Sastra.
Pos ini dipublikasikan di Teras Tadris. Tandai permalink.

26 Balasan ke Problematika Ujian Nasional (UN)

  1. dieyna berkata:

    Seharusnya pendidikan tidak melulu memandang skoring sebagai satuan acuan kelulusan. Ada baiknya karena tujuan pendidikan adalah untuk mendidik sasarannya lebih kepada kompetensi yang harus dimiliki peserta didik

  2. pakde berkata:

    Tantangan terbesar kita selaku orang tua ataupun yang dituakan adalah memberikan kepercayaan kepada mereka yang masih bersatatus sebagai pelajar. Dengan memberikan contoh, apa yang layak kita berikan agar mereka terpacu motivasinya untuk LULUS Ujian. Jadi tak ada yang di korbankan karena salah ini dan itu. Deal???

  3. dian berkata:

    kayaknya udah menjadi roll model pendidikan di indonesia, bahwa penilian tertinggi masih didasarkan angka, dan potensi pun kadang angka turut campur tangan… ngenes juga

  4. grubik berkata:

    Yg terbaik adl bersama kita ingat kembali bhw esensi pndidikan itu adalah mentransfer ilmu, ilmu lahir maupun batin.., bukan sekedar angka-angka kelulusan

  5. Bet berkata:

    pendikan sekarang lebih mengutamakan nilai prestasi tetapi tidak di imbangi dengan pendidikan ahlak contohnya sudah banyak terjadi

  6. wennyaulia berkata:

    saya milih nrimo saja, kang
    dan doa supaya lulus :mrgreen:
    *dulu,,,pas masih jaman kelas tiga sma

  7. trijokobs berkata:

    ulasan yang keren friend..
    ampe gak bisa ngomen…

    sikap siswa yg negatif.. sayah banget itu friend..

    mudah-mudahan pada lulus dah..

  8. pendidikan jangan sampe membodohi

  9. bocahbancar berkata:

    Nah ini Maz postingan yang membuat kita berfikir lebih….

    1. Siswa banyak suka hura2 dan malas belajar. Ya ini karena lingkungan saja Maz yang mendukung mereka seperti itu, harusnya ada aturan di sekolah untuk berlaku sederhana dan tidak berlebihan, lalu peran orang tua juga tak kalah pentingnya, mereka yang bisa mencontohkan dan mengarahkan ke arah yang lebih baik dari keadaan orang tua itu sendiri
    2. Siswa mengganggu teman-teman yang serius ingin lulus. Kemungkinannya mereka ini belum bisa berfikir sempurna layaknya umur mereka, seharusnya anak yang seperti ini mendapatkan konseling dari guru BP
    3. Sekolah yang takut malu. Lowh inilah, perasaan malu lebih besar daripada perasaan untuk mencerdaskan siswanya. Lalu bagaimana ini, pihak pendidikan saja mengajrkan kecurangan(bisa disebut KKN) kepada siswanya, lalu bagaimana jadinya penerus bangsa kita ini
    4. Orang tua was was. Seharusnya orang tua ini juga melihat kemampuan anaknya, bukan maunya anaknya dapat nilai bagus(dan lulus pastinya) bagaimanapun caranya. Jadi instropeksi ORTU juga donk saat anaknya masih dalam tahap belajar(masih jauh dari UAN)
    5. Ujung ujungnya kebijakan pemerintah yang disalahkan. Di sini sebenarnya tidak ada salah menyalahkan namun saling mengkritik demi kemajuan. Di sini tujuan pemerintah sudah bagus namun dalam pelaksanaannya saja mungkin harus ada pertimbangan dari semua pihak yang terkait, baik siswa, guru dan juga pihak sekolah serta orang tua.
    Saya yakin kok pemerintah menginginkan yang terbaik bagi rakyatnya.
    Oh iya untuk kritik pada pemerintah, seharusnya tidak hanya menuntut standar kelulusan dengan setinggi tingginya saja, namun juga harus membimbing bagaimana caranya para siswa ini bisa mencapai standar tersebut. Jadi sama sama saling mendukung.
    Wah…maav Maz jika comment saya kepanjangan…

    Salam…

  10. Pendidikan jarang sekali melihat sisi proses dan interaksi yang intens antara siswa dengan ilmu yang dipelajari. Pendidikan kita masih berpatokan pada hasil akhir yang hanya ditentukan dalam waktu 1 jam di ruangan ujian. Mari kita perbaiki wajah pendidikan kita. Kita didik Anak Bangsa yang memiliki keterampilan, bukan anak-anak yang hanya pandai menghafal agar bisa lulus ujian. Ada pepatah bahasa Latin berbunyi,,non scholae sed vitae disscimus (Kita belajar bukan untuk sekolah tetapi untuk hidup). Kita belajar bukan untuk sekedar lulus ujian tetapi lebih dari itu, dapat menerapkan ilmu dalam hidup sehari-hari.

  11. mujahidahwanita berkata:

    Sebenarnya bukan salah siapa-siapa…,tetapi kurangnya keselarasan di dalam mendidik dan yang didik,seharusnya antara murid dan guru harus memiliki hubungan batin.Saling mendukungn satu dengan yang lainnya.

    Agar ada kerjasama yang baik dengan yang mendidik dan yang didik,kalau antara yang mendidik dan yang didik saling selaras/berkerjasama dengan baik,pasti persoalan apapun yang terjadi di sekolah dapat di selesaikan/atasi dengan mudah.

    Salam damai selalu…

  12. zoel berkata:

    katanya mo di naekan lagi ya kang standar nilainya

  13. ekoph berkata:

    banyak yang telah melakukan kesalahan, kita jangan ikut-ikutan buat kesalahan. jika kita sebagi guru, maka kita menolak adanya ‘tim sukses’. jika kita sebagai siswa, kita akan bertindak sebagai seorang siswa yang baik, menggunakan waktu sebaik mungkin (untuk belajar) bukan untuk hura-hura. jika kita sebagai pembuat kebijakan, kita harus dapat mendengarkan aspirasi dari bawah, bukan membuat kebijakan yang cenderung ‘keren-kerenan’. jika kita sebagai orang tua, kita akan mendorong anak-anak kita untuk berbuat jujur, menyemangati mereka belajar, memfasilitasi, mendanai sebisanya.

  14. kalo standar kelulusan dinaikan tentunya harus diiringi dengan peningkatan mutu, dan kualitas pengajarnya.

  15. thegands berkata:

    saya setuju mas.. kalau mau di naikkan standar kelulusan UN, seharunya kualitas pendidikan kita yang harus di perbaiki. Kualitas pendidikan di perkotaan tentu saja tidak sama dengan kualitas pendidikan di pedesaan. Sementara standar kelulusan di sama ratakan? Apa kata dunia? Ini jelas tidak adil

  16. adams berkata:

    yah, keluargaku kebanyakan juga guru, pada was2 juga pas lagi UN. Pernah denger juga kayak “tim sukse” seperti itu. Mungkin diperlukan kesadaran semua pihak, terutama siswa sendiri. Mulai sekarang membuat pelajaran adalah sebagai teman bermain. Biar gak bosen. 😀

  17. jokky berkata:

    Yang terpenting adalah tergantung siswa itu sendiri. No matter what will happend…kalo aku pribadi I don’t care around me..yang penting aku do the best aja…memang kalo kita liat fenomena seperti itu…I can’t say anything…That’s life! Show must go on..altough that’s not nice. Deal????

  18. saifa berkata:

    ya pendidikan memang sudah salah arah
    pendidikan secara akademis memang penting
    namun ada yang lebih penting harus ditanam dalam diri pelajar
    yang banyak dilupakan dan jarang tidak ada
    pendidikan mental dan pendidikan spiritual.
    jika mentalnya bener pasti akademis juga ga meleset
    mau bukti…..
    bukatikan saja kata – kata itu..
    SIAFAFUN boleh percaya ato terserah.. saja

  19. wi3nd berkata:

    tak pelu mencari siapa yan9 salah,semuana karna ketidak siapan dr masin9 masin9 pihak,y9 satu in9in memperbaiki sistem pendidikan,y9 lainnya in9in yan9 instan..

    terlepas dr ituh semua sb9i pelajar adalah tu9as utamana belajar,berapa besar permintaan untuk nilai akhir jika sudah siap pasti akan bisa dilalui,asalkan materi2 y9 disampaikan sesuai..

  20. emfajar berkata:

    yang penting selalu belajar dan tak lupa untuk berdoa.. 🙂

  21. Ping balik: blog kopas » top pos wp 29 jan

  22. Ping balik: dewi persik » top pos

  23. ariefdj™ berkata:

    masalah anak2 sekolah yang makin aneh2 aja, ya gimana lagi, namanya ajah anak2.. hehe.. Masalah UN, sebenarnya itu sah2 ajah, karena kudu ada standar yang jelas yang bisa diukur sebagai semacam QC…. Kan, sejak saat awal masuk sekolah, sudah tau bahwa beberapa tahun lagi bakal ngikutin UN dan kudu lulus, jadi, belajarlah.. Paling tidak, persiapkan diri dengan memadai.. Saia malah tidak setuju jika standar kelulusannya dibawah nilai 6.. Soal kenapa-nya harus scoring, ya karena kudu ada parameter yang jelas dan dapat diukur, agar terbiasa obyektif.. Ibaratnya, kalo mau punya SIM, ya kudu bisa nyetir lah…

  24. ghostyoen berkata:

    sebagai pensiunan guru aku menolak adanya unas

  25. anonymouz berkata:

    yg salah tu ya pemerintah,,,
    bnr jg artikel ini…
    sllu naikin standar…
    emg hidup dinilai dr skoring.???
    emg org” sukses skr ini pnya nilai d atas rata”.??? ngga..!! kebanyakan dr mreka lulusan SD..!!!

  26. Artok berkata:

    UN sy rasa bagus juga kok. Dengan UN itu sndiri akan muncul SKL yg akan jadi bhn evaluasi bgi pemerintah guna memperbaiki kekurangan kurikulum(KTSP) yg dipakai pd saat ini.

    .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s