Bunga Cinta yang Terbenam (Fiksi Bag. 1)


Gadis manis itu menampar wajahnya berulang kali. Hingga di sudut bibirnya terlihat darah menetes perlahan. Ya luka, itulah luka fisik karena ulahnya. Badannya basah, tenggelam dalam keterpurukan. Air mata tak hentinya berlinang, seiring suara serak bersama isak. Ah betapa penyesalan yang mendalam.

Ujian Nasional masih lima bulan lagi. Itu berarti statusnya sebagai salah seorang siswi SMA masih terlalu lama untuk ditanggalkan. Sementara, dalam aibnya dia tertahan. Dia menjerit mencoba menembus langit, memohon waktu kembali bisa di putar ulang tuk mundur beberapa bulan ke belakang. Menghapus jejak jamah sang lelaki yang begitu dicintainya dan ternyata hanyalah hidung belang.

Suara di telepon itu masih terngiang. "Gugurkan sekarang juga. Aku belum siap menjadi Bapak."

Gadis itu makin terpuruk, dia tidak siap menanggung semuanya ini sendirian. Apa yang harus dia lakukan, sementara selama ini dia selalu tidak peduli akan perhatian kedua orang tuanya yang selalu dia anggap kampungan.

"Selvi dah besar mah, bukan anak-anak lagi". Itulah bentakan yang selalu gadis itu hujamkan saat nasihat menyergap kebebasannya. Sambil membanting pintu dia pergi menembus gelam malam. Menuju keceriaan remaja yang memabukkan.

"Tuhan, haruskah ku gores nadi ini dengan pisau keputusasaan. Haruskah ku jatuhkan badan ini dari gedung tinggi kebinasaan. Karena aku tak mungkin memenggal hak hidup bayi ini sendirian. Kecuali jika aku turut terbenam menyudahi kehidupan."

Gadis itu terus bergumam, merangkai bait-bait penyesalan yang tak berkesudahan. Hingga larut malam bahkan pagi menjelang. Lalu kulitnya menjadi keriput karena kedinginan. Dan saat suara adzan subuh memecah kesunyian, masihkah ada padanya harapan?

Iklan

Tentang achoey el haris

Seorang lelaki sahaja yang gemar menulis. Dan blog baginya adalah media untuk menyalurkan kegemarannya itu. Salah satu pendiri Komunitas Blogger Kota dan Kabupaten Bogor (BLOGOR). Pengasuh Pojok Puisi. Anggota Komunitas Menulis Bogor (KMB) dan Kopi Sastra.
Pos ini dipublikasikan di Sepenggal Kisah dan tag , , , . Tandai permalink.

25 Balasan ke Bunga Cinta yang Terbenam (Fiksi Bag. 1)

  1. gbaiquni berkata:

    akan selalu ada harapan kang…

    satu lagi…,
    yang paling jauh dari seorang manusia adalah masa lalunya…
    (gitu katanya….)

    ditunggu kelanjutannya….

    [senyum] 🙂

  2. missjutek berkata:

    yg namanya harapan akan selalu ada… asal selvi-nya masih mau ingat sama Allah… dan masih mau bebagi beban dengan orang tuanya… insyaAllah, akan selalu ada jalan keluar atas segala masalah yg terjadi di hidup manusia…

  3. namakuananda berkata:

    Jangan kau tiadakan segumpal darah dan daging yang tak berdosa.
    Dan aku akan s’lalu menantimu, mengharapkanmu.

  4. yessy muchtar berkata:

    akang ..

    pelajaran dari tulisan ini adalah..

    bertanggung jawab atas apa yang akan kita lakukan

    dan kita tidak bisa menambah kesalahan atas kesalahan yang sudah kita buat

    very good kang…

  5. mikekono berkata:

    jangan biarkan bunga cinta itu terbenam
    setelah saripatinya direguk bermalam malam
    tak sepatutnya bunga cinta itu padam
    dan menerima perlakuan kejam
    tak cukup dengan bergumam
    bunga cinta itu harus disiram
    air kehidupan sepanjang malam

  6. bluethunderheart berkata:

    Ada………pasti ada harapan tuk ku berikan bintang pujian untuk karya abangku ini. sejuta rasanya aku melihat abang mulai mewarnai asa kepintarannya dengan warna yg lain daripada yang lain.
    Aku lelaki yang selalu menaruh hormat atas perjamuan persahabatannya ini.
    salam hangat selalu.

  7. latree berkata:

    *menunggu lanjutannya*

  8. subhanllah…smga bs menjadi pljrn bagi semua pasangan muda… 🙂

  9. Roy berkata:

    wah… akang saya yang satu ini emang pantas untuk diteladani kok…… dari beberapa tulisan akang yang saya baca… mencerminkan pribadi akang yang sesungguhany…
    kerennn salut………

  10. Ardy Pratama berkata:

    Hhhh… apkah akan mndji akhri dari sgalanya? msih mnunggu klnjutannya

  11. 1nd1r4 berkata:

    Tentang fiksinya: Opening yang bagus untuk sebuah fiksi, pembaca dibawa pada pengenalan awal cerita sekaligus dibuat penasaran/bertanya-tanya tentang kelanjutannya…ditunggu lanjutannya

    Tentang pertanyaan terakhir: akan selalu ada harapan selama kita mau berusaha menyalakan cahaya harapand dan tetap berdoa pada Allah….serta mhon ampunan atas segala khilaf

    🙂

  12. Dalila Sadida berkata:

    aku jadi teringat dengan kisah temanku. aku menunggu kelanjutannya ya

  13. bayu200687 berkata:

    jadi ingat kata2 hamsad rangkuti
    ‘sastrawan itu pembohong.’

    mana ada sukri membawa pisau belati
    mana ada tiga anak kecl berjalan malu2 di salemba sore itu
    mana ada lautan airmata. bahkan sesendok pun tak ada

  14. namada berkata:

    penyesalan..selalu saja dateng belakangan, saat dunia mulai menyergap gelap, saat jalan di depan mata tak ubahnya onak berduri tajam..
    masa muda, saatnya menimba ilmu setinggi2nya, walau dana tak ada, walau godaan utk berfoya2 kerap membuat hati goyah, tapi ingatlah, saat sore menjelang, hanya agama dan ilmu, ya dua itu saja, yang akan menemani senja hari 🙂

  15. arifrahmanlubis berkata:

    pembukaan yg baik kang. semoga jalan cerita selanjutnya unik dan tidak biasa seperti cerita hamil2an diluar nikah lainnya 🙂

  16. vaepink berkata:

    Selalu ada harapan dan akan selalu ada harapan… asalkan kita mau berusaha dan mendekat padaNya… 🙂
    Kehidupan akan senantiasa terus berjalan apapun yang terjadi pada diri kita jadi Jangan pernah kehilangan harapan. Karena harapanlah seorang ibu menyusui anaknya. Karena harapanlah kita menanam pohon meski kita tahu kita tak kan sempat memetik buahnya suatu saat nanti. Jika kita kehilangan harapan, maka kita pun akan kehilangan seluruh kekuatan yang kita miliki untuk menghadapi kehidupan ini.

  17. yodama berkata:

    Nasib.. apalagi ‘nasib telah menjadi bubur’. :mrgreen:

    Selvi, pintu taubat masih terbuka lebar untuk hamba-hambaNya yg mau bertobat dg sungguh-sungguh. Jangan bersedih dan jangan berputus asa dari rahmat Alloh!

  18. Fajar berkata:

    awalnya gimana kang koq bs jd sprti itu, lebih baik mencegah daripada mengobati. “preventif better than curative” (sok bhs inggris, padahal salah :D)

  19. falla berkata:

    jadi teringat temen saya yang penah ngalamin cerita seperti ini..
    sungguh kalo di liat dari raut mukanya terlihat kalo dia sangat frustasi dan menyesal..!!!

    itulah pelajaran hidup yang berharga untuk kita..!!!

  20. wi3nd berkata:

    harapan ituh selalu ada..

    nice fiksi kan9..
    seperti biasa so touchi…

  21. yu2n berkata:

    nulis fiksi lagi kang.. 🙂

    **baca lanjutannya…**

  22. Ly berkata:

    terteguunn….
    kok fiksimu sama dengan kejadian kawanku yach kang….eeerrrgghh….aq benci laki² pecundang *ESMOSI*

    *lanjut baca lagii…*

  23. ikrar berkata:

    AKIBAT PERGAULAN BEBAS

    huh dasar pemuda jaman sekarang “ngeloyor pergi sambil berfikir diri sendiri bukan bagian dari pemuda-pemudi di jaman edan ini”

    😆

  24. syelviapoe3 berkata:

    Mantap kang, ceritanya…!
    Kelihatannya ingin mengajak pembac hanyut dalam situasi, ya…

    Yang unik tuh nama tokohnya….*ntah sengaja ato tidak* mirip ama nama depan daku… *garuk2 kepala gak ngerti*

  25. Sudah dapat menghanyutkan rasa ingin tahuku…
    Kalaupun berkenan mampirlah ke blogku
    tuk sekedar sharing ilmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s