Perjalanan itu dimulai dengan kembali membuka data korban bencana yang di dapat dari pemerintahan setempat. Lalu paket makanan dan perlengkapan sholat itu dinaikkan ke atas mobil bak terbuka yang baru saja tiba. Tak lupa amplop berisi doa terkena musibah dan uang sealakadarnya telah disiapkan sebelumnya. Beres sudah dan kami pun meluncur. Tujuannya adalah dua kampung yang ada di desa kami. Sementara kampung lainnya ada yang sudah lebih dulu dan sisanya kan dibagikan hari ini. Baca Lanjutannya…
Gempa Bumi, Mendeteksi Kalembutan Hati
Kisah di Pasar Tradisional
Selepas berjamaah dzuhur, menoba jalan-jalan ke pasar tradisional yang ada di daerahku. Pasar ini mampu bertahan, bukan karena tidak adanya super market atau sejenisnya, tapi juga karena adanya kosumen yang masih senang dengan ritual tawar menawar harga. Mini market yang bersandingan dengannya pun tak mampu memikat seutuhnya hati calon pembeli. Kecuali mereka yang memang ingin mencoba gaya baru berbelanja atau mereka yang memang tidak ingin repot berdesak-desakan dalam suasana yang bisa jadi penuh sesak di pasar tradisional. Baca Lanjutannya…
Ditulis dalam Sepenggal Kisah
Gerimis di Ramadhan
Gerimis baru saja usai, namun banyak hati berharap hujan deras kan menggantikannya. Musim kemarau sudah lumayan lama di sini. Beberapa kolam ikan mengering, begitu pun dengan salah satu dari ketiga kolam ikan millik ayahku. Kolam ikan tempat kami melepas penat setelah lama mencari nafkah di kota nun jauh di sana. Ya, cukup dengan melempar pakan dan melihat ikan berebutan, atau mencoba keberuntungan dengan pancingan. Hal yang lebih indah lagi saat kami sekeluarga “ngaliwet” di tepiannya. Baca Lanjutannya…
Ditulis dalam Sepenggal Kisah | Tag:hujan, kenangan, ramadhan
Ungkapan di Ujung Ramadhan
Indonesia Merdeka
Dirgahayu Indonesiaku
Aku mencintaimu
Ditulis dalam Uncategorized | Tag:dirgahayu, nasionalisme, tanah air
Pemuda di Tepi Danau
Mengukir Dzikir Demi CINTA
Hari demi hari, kurangkai dzikir tak hanya di bibir, tapi juga di hati. Meski kutahu, mungkin tak utuh sepanjang waktu, karena rapuhku. Padahal semestinya dzikir tak pernah terusir, bahkan di saat fikir dan ikhtiar menjalankan tugasnya, dari awal hingga akhir.
Saat tubuh merebah, baru CINTA menumbuh. Tersadar akan dosa kecil dan besar, dosa yang nyata dan tersamar. Entah kenapa harus demikian. Kenapa harus disadarkan dengan teguran. Padahal tak semestinya menunggu nikmat sehat diangkat, lalu saat sakit baru CINTA kembali tertaut.
Tapi inilah aku, lelaki rapuh yang baru mengeja CINTA, mencobanya menjadi biasa, namun seringkali kembali terlena oleh dunia, dan CINTA pun kembali sulit terasa.
Benar kiranya bahwa meski di sirami air dari tujuh samudera, bahkan di kucuri air hujan dari tujuh langit pun, CINTA tak akan tumbuh, jika hati tetap dinahkodai kehendak buta. Tak kan tumbuh jika hati dikunci dengan gelimang dosa. Tak kan tumbuh jika hati dibasuh nafsu selalu, diselimuti keangkuhan wujud pengusiran jatidiri penghambaan. Tak kan tumbuh, tak kan.
Maka aku bahagia jika air mata berlinang saat mensyukuri nikmatmu, bukankah air mata ini adalah kado CINTA. Aku bahagian jika air mata berlinang saat teringat dosa dan memohon ampun Kepada Mu, bukankah ini juga sedikit tanda CINTA. Maka, jangan biarkan hatiku beku, tanpa CINTA. Hingga tak ada lagi air mata, yang bisa menjaga anggota tubuh yang terbasuh, haram terjilat api neraka.
Ditulis dalam Celoteh Hati, Hikmah dan Motivasi | Tag:cinta hakiki, cinta sejati, nikmat Tuhan, penghambaan, syair cinta
Bahagianya Sholat
Banyaknya Nikmat Tuhan Tak Tertuliskan
Terik Mentari Tak Mengusik Hati
« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »




