Oleh: achoey | 19 September 2009

Gempa Bumi, Mendeteksi Kalembutan Hati

Perjalanan itu dimulai dengan kembali membuka data korban bencana yang di dapat dari pemerintahan setempat. Lalu paket makanan dan perlengkapan sholat itu dinaikkan ke atas mobil bak terbuka yang baru saja tiba. Tak lupa amplop berisi doa terkena musibah dan uang sealakadarnya telah disiapkan sebelumnya. Beres sudah dan kami pun meluncur. Tujuannya adalah dua kampung yang ada di desa kami. Sementara kampung lainnya ada yang sudah lebih dulu dan sisanya kan dibagikan hari ini. Baca Lanjutannya…

Oleh: achoey | 17 September 2009

Kisah di Pasar Tradisional

Selepas berjamaah dzuhur, menoba jalan-jalan ke pasar tradisional yang ada di daerahku. Pasar ini mampu bertahan, bukan karena tidak adanya super market atau sejenisnya, tapi juga karena adanya kosumen yang masih senang dengan ritual tawar menawar harga. Mini market yang bersandingan dengannya pun tak mampu memikat seutuhnya hati calon pembeli. Kecuali mereka yang memang ingin mencoba gaya baru berbelanja atau mereka yang memang tidak ingin repot berdesak-desakan dalam suasana yang bisa jadi penuh sesak di pasar tradisional. Baca Lanjutannya…

Oleh: achoey | 16 September 2009

Gerimis di Ramadhan

Gerimis baru saja usai, namun banyak hati berharap hujan deras kan menggantikannya. Musim kemarau sudah lumayan lama di sini. Beberapa kolam ikan mengering, begitu pun dengan salah satu dari ketiga kolam ikan millik ayahku. Kolam ikan tempat kami melepas penat setelah lama mencari nafkah di kota nun jauh di sana. Ya, cukup dengan melempar pakan dan melihat ikan berebutan, atau mencoba keberuntungan dengan pancingan. Hal yang lebih indah lagi saat kami sekeluarga “ngaliwet” di tepiannya. Baca Lanjutannya…

Oleh: achoey | 14 September 2009

Ungkapan di Ujung Ramadhan

Pernah terlintas kesedihan, di tengah malam di serambi masjid itu. Ketika kulihat berpuluh insan menyenandungkan ayat-ayat indah nan suci. Entah sudah khatam berapa kali mereka, dan kalau pun belum, terlihat halamannya dah di ujung. Sementara aku, tercengang saat tersadar bahwa waktu telah disia-siakan tanpa jemu. Kulihat mushaf di tangan, baru juz awal yang telah kulahap. Bagaimana bisa Ramadhan kali ini kucampakkan.

Kuhitung kembali amal diri, yang ada adalah penyesalan tak terperi. Lagi-lagi, tak kudapatkan Ramadhan kali ini. Lalu, kapankah kusempurna meminangnya, Ramadhan tahun depan? Hanya doa yang terpanjat semoga kelak kukembali dipertemukan. Sebuah harapan dari lelaki rapuh yang terulang.

Sahabat, berbanggalah kalian yang telah mendapatkan berjuta keceriaan di bulan Ramadhan yang menawan. Kesyahduan akan cinta yang tumbuh begitu cepatnya jangan sampai surut saat Ramadhan pergi. Karena buah kemenangan harus tetap cemerlang kegemilangannya. Lalu, sapalah aku dengan seteguk kesegaran nasihat dan motivasi. Agar aku bisa seperti kalian. Yang menangis saat gema takbir berkumandang di malam hari kemenangan, sebagai bentuk ekspresi kerinduan karena telah tiba perpisahan. Yang tersenyum saat gema takbir menghiasi suasana alam fana dengan syahdunya, membawa kita pada kebersihan jiwa yang diimpikan, semoga.

Sahabat, masih ada waktu, meski tinggal beberapa hari. Biarkan hati kita menikmatinya.

Maaf lama gak update nih. Maklum :)

Oleh: achoey | 16 Agustus 2009

Indonesia Merdeka

Dirgahayu Indonesiaku

Aku mencintaimu

Oleh: achoey | 3 Agustus 2009

Pemuda di Tepi Danau

Pemuda itu berdiri di tepian, memandang riak air yang seperti menari menuruti irama dalam hatinya. Ada kesejukan yang  menawan, bukan sekedar karena dia berlindung dari terik mentari di bawah rindang pepohonan, bukan pula karena tiupan angin yang dengan lembut menerpa wajah dan tubuhnya. Tapi kesejukan itu bersumber dari hatinya yang  tenang, hati yang senantiasa berbaik sangka pada Tuhan, atas kehidupan yang dia jalani di muka bumi ini.

Dilihatnya seorang lelaki setengah baya yang sedang memancing tak jauh dari tempatnya berdiri. Meski sedari tadi tak didapati ikan yang tertipu akan umpan di kail pancingnya, dia tetap duduk tenang. Ah, betapa sabarnya lelaki itu. Yang tetap berikhtiar dengan terus memasang umpan yang  lagi-lagi hilang.

Disandarkanya pundak ke pohon tegap, lalu dibukalah SMS yang baru saja menghampiri inbox ponsel sederhanannya. Senyum pun mengembang dari bibirnya ketika membaca isi SMS yang selalu saja nyaris sama, ungkapan perhatian dari gadis terhadap seorang jejaka.

Diraba hatinya dengan rasa, namun masih saja seperti sedia kala. Tautan itu masih belum terwujud jua, sementara waktu terus melaju, dan pertanyaan akan hal yang sama pun semakin menumpuk di bahu. Diliriknya lelaki yang mancing tadi yang mengucap syukur memecah sunyi, ada ikan besar di ujung pancingnya, dan dia teramat bahagia. Dan sang pemuda pun bergumam, “ya. itulah buah kesabaran, dan aku percaya Pada-Mu, kau pun kan mempertemukanku dengan sosok indah itu.”

Sang pemuda membuka kemasan roti, lalu dilemparkannya roti itu ke danau. Sepertinya ikan-ikan bahagia, dan itulah rejeki yang mereka terima dan rejeki memang kadang datang tanpa diduga, seperti halnya cinta.

Oleh: achoey | 31 Juli 2009

Mengukir Dzikir Demi CINTA

Hari demi hari, kurangkai dzikir tak hanya di bibir, tapi juga di hati. Meski kutahu, mungkin tak utuh sepanjang waktu, karena rapuhku. Padahal semestinya dzikir tak pernah terusir, bahkan di saat fikir dan ikhtiar menjalankan tugasnya, dari awal hingga akhir.

Saat tubuh merebah, baru CINTA menumbuh. Tersadar akan dosa kecil dan besar, dosa yang nyata dan tersamar. Entah kenapa harus demikian. Kenapa harus disadarkan dengan teguran. Padahal tak semestinya menunggu nikmat sehat diangkat, lalu saat sakit baru CINTA kembali tertaut.

Tapi inilah aku, lelaki rapuh yang baru mengeja CINTA, mencobanya menjadi biasa, namun seringkali kembali terlena oleh dunia, dan CINTA pun kembali sulit terasa.

Benar kiranya bahwa meski di sirami air dari tujuh samudera, bahkan di kucuri air hujan dari tujuh langit pun, CINTA tak akan tumbuh, jika hati tetap dinahkodai kehendak buta. Tak kan tumbuh jika hati dikunci dengan gelimang dosa. Tak kan tumbuh jika hati dibasuh nafsu selalu, diselimuti keangkuhan wujud pengusiran jatidiri penghambaan. Tak kan tumbuh, tak kan.

Maka aku bahagia jika air mata berlinang saat mensyukuri nikmatmu, bukankah air mata ini adalah kado CINTA. Aku bahagian jika air mata berlinang saat teringat dosa dan memohon ampun Kepada Mu, bukankah ini juga sedikit tanda CINTA. Maka, jangan biarkan hatiku beku, tanpa CINTA. Hingga tak ada lagi air mata, yang bisa menjaga anggota tubuh yang terbasuh, haram terjilat api neraka.

Oleh: achoey | 21 Juli 2009

Bahagianya Sholat

Beberapa hari yang lalu, saat tubuh ini belum benar-benar pulih, kucoba buka notebook-ku tuk melepas rindu pada blog sederhana ini. Aku hanya menatap dan membaca beberapa komentar sahabat tentang sapa cinta dalam bentuk doa. Aku terharu. Jazakumullah, terima kasih banyak sahabatku.

Saat itu aku memang tak berniat online lama, maka segera kubuka facebook tuk melihat sapa sahabat di sana. Dan tiba-tiba seorang sahabat menyapa dan akhirnya aku pun chating sebentar dengannya. Kukuatkan diriku menarikan jemari ini tuk sharing dengannya. Karena ini penting bagiku.

Sahabatku menceritakan bahwa dia telah cukup lama tidak sholat, telah hitungan bulan melewatkannya. Aku terkejut, benar-benar tak menyangka. Alasan sahabatku tidak sholat adalah karena dia merasa dirinya kotor. Aku tersenyum, lalu aku mencoba memberikan penjelasan padanya. Dan alhamdulillah kini dia kembali menjalankan ibadah berupa shalat fardhu itu.

Peringatan Isra Mi’raj adalah momentum kita tuk menghayati hakikat sholat. Betapa dalam kisah ini Rasulullah SAW mendapatkan perintah berupa sholat fardhu. Sholat adalah tiang agama, maka selayaknya kita memperkokoh tiangnya agar bangunan agama kita tak gampang roboh. Sholat adalah barometer ibadah-ibadah yang lainnya, jika sholat kita baik, maka bisa dipastikan ibadah-ibadah yang lain akan baik. Betapa pentingnya sholat, dan percayalah bahwa kita akan bahagia jika senantiasa mengamalkan sholat dengan sebaik-baiknya.

Sahabat saya menjelaskan bahwa selama dia tidak menjalankan sholat, dia semakin mudah marah, hidupnya serasa semakin susah. Dia merasa makin terpuruk dan terpuruk. Lalu saya pun menyatakan bahwa memang begitulah kalau kita tidak sholat. Sholat adalah kerinduan kita tuk menikmati ketenangan hati. Betapa indah saat kita merasa sangat dekat dengan Tuhan, dan lewat sholatlah salah satu jalannya. Kita menegakkannya bukan hanya karena sholat adalah kewajiban, tapi sholat adalah kebutuhan. Sebuah ibadah yang indah dan membahagiakan.

Alhamdulillah saat sakit kali ini saya masih bisa berwudhu (tidak tayamum), saya juga masih bisa sholat sambil berdiri. Ini berarti sakit saya belum begitu parah. Karena ukuran sakit parah buat saya adalah dari kemampuan saya melakukan sholat. Saya masih ingat sekitar 7 tahun yang lalu di mana saya saat itu melakukan sholat sambil telentang.

Ali bin Abi thalib menceritakan hadits berikut langsung dari Nabi Muhammad saw. Beliau bersabda, “Sholat seorang yang sedang sakit adalah sambil berdiri jika mampu. Jika tidak mampu, maka sholatlah sambil duduk. Jika ia tidak sanggup untuk sujud, maka isyaratkan saja dengan kepalanya, tetapi hendaklah sujudnya lebih rendah daripada rukuknya. Jika ia tidak mampu untuk sholat sambil duduk, maka sholatlah dengan berbaring ke sebelah kanan menghadap kiblat. Dan jika tidak mampu sambil berbaring ke sebelah kanan, maka lakukanlah sholat sambil telentang, kedua kakinya ke arah kiblat.” (HR. Daruqutni).

Sahabat, berbahagialah bagi Anda yang senantiasa menjalankan shalat fardhu. Dan dengan sholat tersebut Anda merasakan kebahagiaannya. Semoga saya bisa seperti Anda, merasakan kebahagiaan itu.

Oleh: achoey | 13 Juli 2009

Banyaknya Nikmat Tuhan Tak Tertuliskan

Sudah selayaknya kita percaya, bahwa nikmat Tuhan itu teramat banyaknya. Jikalau kita jadikan lautan sebagai tinta, dan pepohonan sebagai penanya, maka yakin itu tak cukup tuk menuliskan semua nikmat yang telah Tuhan berikan.

Namun, dalam perjalanan keseharian, seringkali diri ini terlenakan. Hingga hati pun tandus dari kesyukuran. Dan di saat bergelimang kenikmatan itu, seringkali kita malah semakin jauh dari Tuhan. Lalu, kerendah-hatian pun terpinggirkan keangkuhan, kepekaan pun terasingkan ketamakkan. Hingga akhirnya Tuhan coba cabut sedikit nikmat yang diberikannya, sebagai tanda sayang.

Saat itu terjadi, penyikapan manusia tentunya akan berbeda. Ada yang tersadar akan lakunya dan kembali merapat pada Tuhan-nya. Ada yang malah tidak menerimanya, dan semakin menjauhkan dirinya.

Sahabat, semoga kita termasuk golongan  manusia yang ketika diberikan ujian, maka itu kan mampu semakin mendekatkan diri kita pada Tuhan. Lalu, sabar dan syukur pun menjadi bagian dari kehidupan yang terfatrikan.

Sahabat, mohon maaf jikalau saya belum bisa BW, saat ini Allah sedang memberikan ujian pada saya berupa sakit. Semoga saja saya bisa kembali beraktifitas.

Salam Semangat

Oleh: achoey | 11 Juli 2009

Terik Mentari Tak Mengusik Hati

Terik mentari tak bermaksud menyakiti, hanya menyapa hati, apakah kan menjalani hari tanpa keluh kali ini. Karena pada kondisi yang sama, penerimaan kan jelas berbeda. Desah serapah bisa saja keluar dari mulut sang keruh hati, seolah mencaci mentari ciptaan Illahi. Tapi berbeda pada jiwa-jiwa yang senantiasa menjalani hidup dengan ikhlas, terik mentari adalah sarana tuk membakar motivasi, agar keringat yang menetes, adalah ladang penghambaan pada-Nya.

Terik mentari, semakin hari semakin bertambah panasnya. Seiring dengan ini, banyak suasana hati yang menyeimbangkannya dengan salah. Ada banyak hati yang latah pada mentari, turut menyemai panas diri. Dan akibatnya, banyak jiwa mudah marah, banyak jiwa sulit ramah. Seolah jaman yang salah, padahal kitalah yang salah, lalu terusiklah indah.

Saat terik mentari makin menjadi, bukan berarti kita tetap berdiam diri, pada kesejukkan buatan sambil berpangku tangan. Saat terik mentari makin menjadi, jadikan ini pengingat diri, bahwa ada yang jauh lebih panas di akhirat sana, yang semoga tak kita jumpai.

Sahabat, mari saling menyejukkan, dengan sapaan nan penuh cinta. Sahabat, ingatkan daku selalu!

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »

Kategori