Kemarin sore aku mendapat kabar bahwa adikku telah menjalani kuret/ kiret. Dia mengalami keguguran. Usia kandungannya sekitar 1 bulanan. Sedih rasanya hati ini, mengingat adikku belum lama kehilangan buah hatinya yang belum genap berusia sebulan.
Awalnya pastilah adikku bahagia. Bagaimana tidak, kesedihannya atas kehilangan buah hatinya kini kan terobati dengan hadirnya janin di rahimnya. Tapi ternyata adikku mengalami keguguran. Ya mungkin rahimnya belum kuat karena rentang waktu antara proses melahirkan yang kemarin dengan mengandung saat ini belum lewat satu tahun.
Aku teringat sahabatku yang akhirnya keguguran dan harus dikuret. Konon hal ini terjadi karena seringnya dia dibonceng suaminya menggunakan motor dan kadang motornya melintasi jalanan berlubang. Kita tahu bahwa tiga bulan pertama usia kehamilan adalah usia yang rawan.
Adikku adalah seorang bidan desa. Sebagai bidan dia harus siap siaga selama 24 jam. Saat sedang lelap tidur pun, kala pintu diketuk dan dimintai bantuan maka dia pun harus bangun dan segera menolong mereka yang membutuhkan. Nah, namanya juga di desa jalanan gak semuanya mulus beraspal. Mungkin adikku seringkali terjebak jalanan jelek dan berlobang ketika menuju pasien. Saat memikirkan keselamatan jiwa pasien, keadaan kandungan sendiri pun bisa terlupa. Ya beginilah tugas seorang bidan desa. Tugas yang dimata kami mulia.
Teringat kembali saat keponakanku meninggal yang tak lain adalah buah hati adikku itu. Adikku menangis, sedih sekali. Ketegarannya seolah pudar sudah. Gadis tangguh itu luluh, meleleh meletih lunglai. Dibenaknya mungkin terpikir, selama ini dia seringkali membantu proses kelahiran warga di desa tersebut dan rata-rata berhasil. Bahkan dia bisa memantau perkembangan sang bayi. Terus tembuh menggemaskan. Tapi, dia tidak bisa menolong bayi sendiri agar tetap tumbuh dan berkembang. Buah hatinya hanya bisa dia peluk tak sampai genap 1 bulan. Allah memanggilnya di sebuah rumah sakit di Bandung, dengan syareat kelainan jantung.
Kadang ketika dia bertugas sebagai bidan suka menangis. Melihat bayi-bayi yang harus dia obati, maka teringat bayinya. Tapi ini kesedihan yang manusiawi jika tidak berlarut-larut. Allah-lah Sang Pemilik semua mahluk. Allah berhak memanggilnya kapanpun. Bayi itu adalah titipan, maka adikku harus mengikhlaskannya. Dan kemampuannya pun membantu persalinan adalah kuasa Allah. Kita sebagai mahluk tak bisa melakukan apa pun tanpa ijin Allah.
Menjadi Bidan Desa adalah ladang amal. Itulah yang keluarga kami tahu. Dan aku selalu menyemangati adikku bahwa dia terlahir untuk beramal baik lewat profesinya itu. Aku berharap adikku segera fit kembali hingga dia bisa kembali beramal baik, menjalankan tugas mulianya. Meski begitu, aku tetap berharap dia pun bisa menjaga kesehatannya. Semoga Allah senantiasa memberkahi hidup dan kehidupannya.





aduh.. gua ikut prihatin ya…
assalamu ‘alaikum..
sungguh mulia pekerjaan itu mas..
semoga dbalas oleh Allah swt dengan sepadan..
Suatu saat nanti pasti keluarga bahagia akan berkumpul lagi. Adiknya harus kuat! Ibadah yang dilakukan dengan banyak membantu orang suatu saat akan berujung indah. Indah di akhir. Bukan indah di tengah. Kalau di tengah mah nantinya tidak indah lagi di akhir. Padahal kan yang enak adalah indah di akhir (di dunia abadi).
Jika merencanakan melahirkan kembali, bisa dipertimbangan untuk cuti hingga kehamilannya kuat atau hingga melahirkan. Semoga memperoleh ganti yang lebih baik, serta diberi kesabaran dan ketegaran.
Pekerjaan apapun jika dilakukan dengan hati nurani insya Allah akan membawa maslahat sob baik bagi diri sendiri ataupun orang lain termasuk pekerjaan Bidan Desa kadang mereka rela berangkat tengah malam demi untuk menyelamatkan ibu dan buah hatinya.
Salam
ia sudah mengambil peran penting di tengah masyarakat. tidak semua orang mau dan mampu..
salut buat adiknya
turut bersedih atas musibah yang dialami beliau. Ada baiknya nanti jikalau ingin melahirkan, dan tubuh sudah mampu untuk itu, pekerjaan cuti terlebih dahulu. Demiz menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.
Salam BURUNG HANTU… Cuit… Cuit… Cuit…
terkadang begitu sob, suka melupakan kesehatan diri sendiri. tp jgn sampe.
salam bwt adikmu
halo mas
wuih sungguh mulia adik mas cucu, mengorbankan diri sendiri untuk kepentingan orang lain. Jaman sekarang hal seperti itu sudah agak sulit untuk dicari
adiknya harus tetap diberi support untuk kuat A..
Yang diambil dari kita saat ini adalah bidadari kecil yang nantinya kan menyambut kedatangan bundanya.
Bersedih, untuk kemudian Bangkit..
smoga adik mu kuat mas,, Allah pasti punya sesuatu yg indah untk bidan desa yg baik ini ..
yupp..pfrofesi sebagai bidan desa memang bs jd ladang ibadah jk dilakukan dgn tulus dan ikhlas..
salam kagum untuk adik mas sahaja:)
bekerja sambil beramal, semoga Allah akan membalasnya …
Ironis sekali cerita tentang adeknya Mas Achoey. Di satu sisi dia bekerja sebagai seorang bidan. Di sisi lain mendapat cobaan dari Yang Di Atas. Semoga adeknya mas tabah..
ketika Tuhan mencintai seorang hamba, maka akan ditimpakan kepadanya masalah. berbahagialah mereka yang hidupnya untuk orang lain padahal dia sendiri menanggung hidup yang berat.
Bidan juga manusia dan tidak bisa merubah nasib yang sudah digariskan
Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan
kami merasakan bahwa sebagai petugas kesehatan (dokter puskesmas, bidan desa, perawat kesehatan, dll) kami adalah petugas biasa, insan biasa yang mendapatkan tugas berat menyelamatkan “nyawa” manusia, sementara kami masih banyak keterbatasan juga.
SALAM hormat buat semua kru kesehatan dimanapun bertugas. Tetaplah tegar menghadapi beratnya beban tugas kepada sesama.
Salut dan hormat kami kepada pengabdian bidan desa ataupun petugas puskesmas lainnya, yang telah berjasa membantu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
SALAM hangat dari Kendari…
Huaaaa…kasian adiknya kang achoey… dilema dalam darmanya… satu sisi dia tetap eorang perempuan biasa, satu sisi dia juga seorang bidan… memang kadang harus punya prioritas dan kesabaran ekstra kuat ya kang, mudahan dilncarkan rejekinya biar punya bayi lagi…
Saya pernah melihat film ttg pembawa berita yang mebacakan berita siaran langsung ttg kebakaran yang korbannya adalah suami dan anaknya sendiri… tragis gak tuhh… si ibu dengan tegarnya menahan air mata sekuat hati agar tetap tampil cantik di tv… T_T
ingat sekali ketika harus mengetuk pintu malam2 di rumah bidan desa ketika ada saudara yang sakit..
pokoknya sangat mulia sang bidan desa yang ikhlas dalam pengabdiannya..
maaf baru berkunjung lagi ni kang..
Saya gak bisa bilang apa-apa….
Ah, ikut bersedih mas. Semoga adiknya selalu kuat dan tabah ya mas. Insya Allah, adknya bisa segera sehat dan bisa hamil lagi. Amiin. Salam buat adiknya ya mas.
turut mendoakan semoga adiknya ttp kuat mas ya
Turut berduka Mas Achoy atas musibah yang menimpa adik sampeyan. Itu adalah bukti bahwa kehendak Allah lebih dominan dari apa yang diinginkan manusia. Sebagai manusia biasa, kita harus banyak-banyak mengambil hikmah dan pelajaran dari musibah yang terjadi pada kita. Dengan demikian, maka kita akan lebih mawas diri dan selalu ingat padaNya.
Pekerjaan adiknya Aa sangat mulia dan berharga , sampai mengorbankan waktu istirahatnya diluar jam kerja, suatu saat Allah akan membalasnya dengan bentuk yang dirasa baik menurutNya, dan musibah yang terjadi adalah suatu kehendakNya yang mungkin saja ada hikmah dibaliknya, jangan berkecil hati masih banyak kesempatan, saya turut berduka atas musibah tsb.
Salam sama adiknya dan semangat untuk jalani hari kedepannya
semoga Allah cepat memberikan gantinya
selalu ada hikmah di setiap peristiwa yang terjadi
Sungguh suatu pekerjaan yang sangat mulai, Semoga sang pencipta kelak memberikan pengganti yang terbaik untuknya.
wah kagum banget kang cuman itu yang bisa aku ucapkan
moga tetep tabah dan diberikan karuania pengganti dariNYa
Semoga Tuhan membalas semua Perbuatannya dan juga kesabarannya dengan kemuliaan
pengalaman yang menadjikan dia kan tetap tegar, semoga diberikan kesabaran san ketegaran buat adiknya mas…
semoga aja adiknya diberikan kekuatan dan kesabaran dalam menghadapai cobaannya pak………
Saya turut mendo’akan kebaikan untuk adik sampeyan Mas…
Semoga mendapat balasan yang lebih baik ya a’ atas semua jerih payah, dan pengorbanan beliau….
ikut bersimpati pd adikmu A,
semoga kesedihannya gak berlarut2 dan kembali menatap hari dgn ceria ,amin
dan, Allah swt tau yg terbaik bagi hambaNYA.
Dia takkan memberikan cobaan, bila kita tak mampu menanggungnya .
Salam
Assalamu’alaikum Kang..
Th eneng keguguran Astaghfirullah.
Sungguh mulia tugas menjadi bidan desa, sudah menjadi kehendak Tuhan kematian dan kelahiran seseorang. Semoga adik Anda bisa kuat dan tabah menghadapi cobaan ini. dan semoga tetap menjadi bidan yang tangguh.
semua sudah menjadi skenario-NYA. kita hanya menjalaninya. semoga dapat meraih ridho-NYA. amin.
wah mantbs nih artikel boleh tuh share ke tmpat ane ya dan salm silaturahim bang atau bu n kunjungi blik blog saya klu perlu koment yah