Ceritah Fikmah (Fiksi Hikmah) di bawah ini, menggunakan dua bahasa dalam percakapan diantara kedua tokohnya. Yakni Basa Sunda dan Bahasa Indonesia. Hal ini sebagai wujud jawaban akan tantangan yang diberikan oleh Komunitas Blogger Bogor (BLOGOR) sebagai upaya ngamumule (memelihara) bahasa daerah asli orang Bogor. Basa Sunda pakai warna pink dan sudah langsung diterjemaahkan pada alinea berikutnya. Mangga diaos (silakan dibaca)!
=========
Idul Adha telah berlalu, daging kurban pun telah terlahap habis. Tapi, pasti masih ada yang tersisa. Tentang hikmah kurban di bening hati tercerahkan. Tentang kesedihan di hati rakyat miskin yang harus berdesakan untuk mendapat bagian. Tentang kedongkolan di hati mereka yang tidak kebagian.
Lalu anak kecil yang hendak terlelap di dalam gubuk yang sebenarnya tak layak huni bertanya pada ibunya yang meninabobokannya.
“Ma, dupi jalmi benghar anu aya di bumi mentereng agreng itu teh langkung bagja tibatan urang hirupna? Panginten daging embe sareng sapi di bumina unggal dinten aya nya? Teras naha Ibu geulis nugaduh eta bumi teh ngadumel nya waktos abdi ngalangkun di payuneun bumina bari nyandak sakantong keresek hideung anu eusina daging kurban.”
“Mak, apakah orang kaya yang berada di rumah mewah nan megah itu lebih bahagia dari kita hidupnya? Mungkin daging kambing dan sapi di rumahnya setiap hari ada ya? Terus kenapa Ibu cantik pemilik rumah itu menggerutu ya saat saya lewat depan rumahnya sembari membawa sekantung kecil plasik hitam berisikan daging kurban.”
Si Ibu berwajah cerah itu menghela nafas panjang. Lalu dia pun berkata.
“Anaking, dina waktos Idul Fitri anjeun bakal mendakan seueur jalmi anu ngabalanjakeun artosnasupados tiasa katingal wah. Tiasa seep jutaan rupiah kanggo ngajantenkeun anjeuna kasugemakeun sareng miharep sakurilingna janten kasengseum tur ngabenerkeun yen maranehna jalmi beunghar. Mung hideup tingal maranehna nalika Idul Adha, nyatana maranehna nu dina waktos Idul Fitri pamer kamewahan, gina waktos Idul Adha maranehna malah teu kawerat meser embe hiji-hiji acan kanggo dikurbankeun. Katutka maranehna oge kukulutus sareng teu narima nalika apal yen ngaran maranehna teu kaserat dina daftar jalmi anu nampi daging kurban.”
“Anakku, saat Idul Fitri kau kan temukan banyak orang membelanjakan uangnya untuk bisa tampil wah. Bisa habis jutaan rupiah untuk membuatnya terpuaskan dan berharap sekelilingnya berdecak kagum dan mengakui bahwa mereka memang orang kaya. Tapi kau lihat mereka di saat Idul Adha, ternyata mereka yang pada saat Idul Fitri itu tampil bermewah-mewahan, saat Idul Adha mereka tak mampu membeli seekor kambing pun untuk dikurbankan. Bahkan mereka menggerutu dan tidak terima saat mendapati nama mereka tidak tertera pada daftar orang penerima daging kurban.”
“Oh muhun ma, kunaon tiasa kitu?”
“Oh iya ya mak, kenapa bisa begitu?” Sang anak kembali bertanya.
“Kumargi maranehna teu leuwih beunghar tibatan urang. Eta oge hartina maranehna teu tiasa langkung bagja tibatan urang.”
“Karena mereka tidak lebih kaya dari kita. Itu juga berarti karena mereka tak bisa lebih mudah bahagia ketimbang kita.” Ibunya menjawab.
“Abdi ngartos ma, kumargi maranehna teu tiasa leuwih mampu syukuran tur saba tibatan urang.”
“Saya tahu mak, karena mereka tidak lebih mampu bersyukur dan bersabar dari kita.” Anaknya menjawab sembari memeluk Ibunya.
“Leres pisan anaking.”
“Benar sekali nak.” Ibunya pun memeluk anaknya dengan erat.
Telah lahir kembali generasi kaya di dalam gubuk yang nyaris tak layak huni itu. Ah aku bahagia. Bisik rembulan yang diam-diam mengintipnya di balik jendela.





Kisah sederhana yang mengena… Mangtabbb { sundana naon nya?}
euleuh hebat kang.. muhun tadi kantos di pungkas dina facebook ,,
namung langkung katampi nu ieu.. soalna ngangkat 2 Bahasa, katingali ragam nateh..
Artikel Bang Cucu ini sangat menyentuh sanubari saya. Saya bisa menangkap pesan lewat cerita itu bahwa kebahagiaan itu terletak pada bagaimana kita bersyukur atas apa yang telah kita terima dari Allah SWT dan bersabar dalam menjalanai hidup. Ternyata kebahagiaan yang hakiki itu adalah apabila kita merasa cukup dengan apa yang ada pada diri kita dan tidak iri melihat apa yang ada pada orang lain. Betulkan Bang Cucu?
Saya jadi teringat dengan petani-petani bersahaja di kampung saya. Pagi hari mereka berangkat ke sawah untuk berikhtiar mencari rezeki Allah, lalu sebelum zuhur mereka sudah pulang. Makan siang seadanya, menjalankan kewajiban sholat zuhur, setelah itu berkumpul dan bercengkerama dg anggota keluarga mereka. Dan setelah itu beristirahat. Alangkah bahagianya menurut pandangan saya.
Kemudian saya bandingkan dengan kehidupan di kota (saya sekarang tinggal di Malang). Pagi-pagi buta sudah berangkat bekerja. Lalu pulang setelah larut malam. Praktis waktu berkumpul dengan keluarga berkurang. Entah ibadahpun kadang tertinggal. Meski gaji besar selalu merasa kurang karena banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi dan juga mungkin terpengaruh oleh kondisi tetangga yang lebih mapan. Akhirnya bekerjanyapun “ngoyo” hingga lupa akan diri. Wallahuallam bissawab!
Mas Achoey,
renungan yang menggigit. Ternyata kita hanya kaya untuk diri sendiri, tidak kaya untuk sesama
benar-benar menusuk…
like this
“Anakku, saat Idul Fitri kau kan temukan banyak orang membelanjakan uangnya untuk bisa tampil wah. Bisa habis jutaan rupiah untuk membuatnya terpuaskan dan berharap sekelilingnya berdecak kagum dan mengakui bahwa mereka memang orang kaya. Tapi kau lihat mereka di saat Idul Adha, ternyata mereka yang pada saat Idul Fitri itu tampil bermewah-mewahan, saat Idul Adha mereka tak mampu membeli seekor kambing pun untuk dikurbankan.
Emang yah…
Saat idul fitri kita persiapkan denga segera, uang jutaan bahkan lebih disiapkan untuk baju baru, jamuan, makan dsb, tapi untuk idhul adha??….
Semoga nanti saat Adik udah sukses adiktidak seperti itu ya AA….
Renungan yang benar-benar menghantam kalbu kang,
kebahagiaan atau kekayaan memanglah bukan harta atau penampilan ukurannya, tapi kemampuan kita untuk bersabar dan bersyukur…
ah, indahnya membaca ini…
rupi DOngeng PONdok na mah sae pisan kulan, nanging eta undak-usuk bahasa sundana lir ibarat sopan-santun preman ka mitohana, acak-acakna pisan
hehehe… *piss…
nanging, mantep oge tah dongeng teh, ngabujur-beaskeun kalakuan jalma jaman kiwari anu teu uah-ieuh kanu barang penta sanajan aya kaboga
Muhun tah akang, abdi teh tara ngabiasakeun nyunda, janten bae acak kadut
saya kagak ngerti akang-akang
artine opo yo
salam sobat
memang kenyataan,artikel yg ditulis di atas,
saat Idul Fitri,pada mau belanja segala macam , saat Idul Adha ngga mau beli hewan kurban ya,
renungan agar bisa menjalankan makna perayaan hari raya dengan baik bersama-sama….
hakekat bahagia yang hakiki itu memang letaknya di hati, bukan di materi.
Ini kisah yang menggambarkan keadaan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Mungkin kita sendiri, sadar atau tidak sadar, kadang2 juga khilaf untuk
mensyukuri apa yang telah diberikan oleh Allah kepada kita.
A, ternyata aku masih miskin, dibanding anak dan ibu di gubuk tak layak huni tsb ya.:(
Semoga saja kita mampu mengambil hikmah di balik qurban ini ,amin
salam
Tulisan ini sebagai cermin untuk berkaca. Terima kasih
dalem banget kang, sangat mencerahkan. bacapostingan ini bikin tersadar langsung betapa selama ini aku sering banget alpa, lupa bersyukur.
orang yang kaya materi belum tentu kaya akan hati…
salam-
hehehe….bener juga mas….
wektu idul fitri… kita kayak berlomba belanja ini itu…dan seterusnya…. kayaknya udha kaya banget hari itu…
eh..pas idul adha… kok pada males beli kambing…apalagi sapi….. jadi pada miskin pesannya hahaaa…..
jadi nyadar diri xixiii….
super.. terimakasih atas artikel yang sangat menginspirasi inni…..
salam kenal
inilah kelebihan kang haris,,,,, nyentuh hati nurani banget
ahh, aku juga ingin menjadi “kaya”
jumpa lagi mas
hem sekarang emang banyak orang yang kaya pada saat idul fitri mas, sebagian besar memakai baju baru. Ada yang distro dkk, di situ kan bajunya mahal-mahal. Padahal pakai baju yang dimiliki masih bagus-bagus. Ehhh, pada saat kurban, malah enggak mau berkurban. Mending uang yang buat beli baju ditabung buat kurban hhe
mangtafff
lanjutkan kang
bener kang… hati yang kaya lebih terasa nikmat daripada kaya semu…:D love this story…
anyway saya kangen bogor so bad…
Saya sangat tersinggung kang
*nasib anak kostan
ikut tersentil dengan dialog diatas, mengena dengan sangat tepat,,
idul fitri dibela-belain dengan berbagai cara, idul adha?? ntar2 dulu
hikst…. terharu bener.. salut bro..
*menanti kumpulan cerpen*
hoho.. mantap, kang.. ^^ semoga bisa menjadi inspirasi bagi siapapun yang membacanya..
semoga dapat mengambil hikmah dari tuisan di atas.
kalo di tempat saya, pd saat idul adha, orang berlomba-lomba agar namanya berada dalam urutan daftar yang dibacakan seusai sholat Id, daftar siapa saja yang berkurban.
pada iduladha kita mengorbankan binatang untuk persembahan kepada Tuhan. pada zaman pagan orang-orang mengorbankan hewan untuk Dewa. penyembah setan menyembelih hewan ternak untuk setan. sama ya?
hanya saja Tuhan kita yang bener dan hakiki.
Sungguh suatu Renungan yang begitu dalam tuk kita semua bang, emoga kita semua termasuk orang2 yang mensyukuri segala Nikmat apapun yang telah diberikan kepada kita.