Waktu terus melaju, tangis mungil meminta ASI tak terdengar lagi. Ya, waktu terus melaju, celoteh lucu minta dibelikan mainan tak terdengar lagi. Kini tampak postur tubuh yang berbeda, bayi itu, anak kecil itu, berubah menjadi remaja.
Seiring pertumbuhan sang buah hati, sepasang pecinta pun bertambah usia. Namun cinta mereka tetap sama, cinta yang tulus menjadikan anak mereka menjadi pribadi-pribadi yang unggul dan soleh/ solehah. Sepasang pecinta, tak pernah menghitung berapa besar jumlah pengeluaran yang dihabiskan untuk membesarkan buah hatinya. Sepasang pecinta, tak pernah pelit tuk memberikan yang terbaik demi kebahagiaan buah hatinya.
Namun, buah hati yang beranjak remaja itu semakin menjauh. Mulai berulah yang membuat hati sepasang pecinta resah dan gelisah. Semakin ke sini, semakin tidak mampu untuk menghormati kedua orang tuanya, semakin berani menyanggah, semakin terbiasa membantah.
Di sudut-sudut mata sepasang pecinta, berderai air mata. Sedih akan tingkah laku buah hatinya. Mencoba bertanya, apa ada yang salah dengan ASI-nya, apa ada yang salah dengan makanannya, apa ada yang salah dengan minumannya, apa ada yang salah dengan kasih sayangnya. Lalu, mereka pun mengadu, mengukir sedu sedan itu.
Ah, sang buah hati tak kunjung mengerti. Yang perempuan dia pamerkan kecantikkan dan keelokan tubuhnya. Satu dua menjamah, satu dua merayu membuncah gairah. Dan ahhhhh, hilang sudah mahkotanya. Terenggut remaja lelaki bertanduk, yang atas nama cinta menodainya.
Yang lelaki, terbiasa menghisap asap. Mengeraskan hati dengan minuman keras, sembari nongkrong merangkai obrolan bohong. Menceritakan tentang pengembaraan cinta dan kesuksesannya. Lalu, sesekali mengatur strategi adu jotos masal, dengan mereka musuh bebuyutan yang berbeda seragam. Hampa terasa hidup tanpa kekerasan. Ah, babak belur sudah. Saat yang mendarat tak hanya bogem mentah.
Di sudut rumah, seorang perempuan menghamburkan tangisnya di dekapan lelaki paruh baya. Menangisi apa yang terjadi pada buah hatinya. Anak gadisnya telah dikebumikan karena mengalami pendarahan yang hebat saat mencoba menggugurkan bayi yang dikandungnya.
Di sudut rumah, seorang perempuan menghamburkan tangisnya di dekapan lelaki paruh baya. Menagisi apa yang tejadi pada buah hatinya. Anak lelakinya telah dikebumikan karena mengalami over dosis saat mengkonsumsi sesuatu yang mereka saja belum pernah menjumpainya.
Sahabat, banyak di sekitar kita para orang tua yang mengalami hal seperti ini meski tak seburuk ini. Banyak orang tua yang kaget karena mendapati sosok-sosok mungil dan lucu menjelma menjadi sosok-sosok yang keras dan pandai melawan. Menjadi sosok-sosok yang tak lagi sesuai harapan.
Ah ada yang lupa, ternyata membesarkan buah hati itu tak cukup dengan materi, tapi juga butuh cinta, butuh teladan, butuh agama.
Sahabat, jangan biarkan itu terjadi pada orang-orang terdekat kita. Karena Indonesia, butuh generasi penerus yang bisa membawa negeri subur ini menjadi makmur.
Adakah yang ingin engkau sampaikan, duhai sahabat?





semoga aja semua peristiwa diatas tidak terjadi lagi di hari hari mendatang
minimal berkurang lah
hehe
wah jadi terharu…..
Buat sang pecinta teruslah berbuat terbaik, dengan sikap teladan dan perhatian yg tulus. Semoga semua upayanya diberkati.
Akupun tak bisa berkata apa-apa *merenungkan sesuatu*
Anak adalah titipan Tuhan. Orang tua wajib menjaga dan menyayanginya sepenuh hati. Memang butuh landasan agama dan teladan yang kuat agar anak juga selalu merasa dekat dengan keluarga.
aku jadi tambah deg-deg an niii,
mudah2an kelak anakku menjadi seperti yang diharapkan.. (amin)
Hhmmm…
banyak yang menginginkan buah hati tapi tak kunjung dikasih..
jadi saLah besar jika sampai saLah mendidik anak..
semoga kita bisa menjadi orang tua yang baik bagi buah hati kita…
wah… manten baru.. baru aja online lagi niy
Bgus skali kak…
Yup, indonesia bth gnerasi pnerus yg hbt n tak hx ingn snang2
Smga qta smwa bisa mgmbil hkmahx…
.
Hehe, mf tlsnx sgkt2. Kalau pkai hp msh trbiasa menulis bgni
aku terenyuh mas membacanya,miris hati in
iya benar, mendidik anak bukanlah hal yang mudah. jika salah maka orang tua yang kan peroleh getahnya
Sebuah renungan yang sangat bermanfaat untuk para pemilik titipan amanah dari Allah. Semoga tak ada anak yang melawan pada orang tuanya.
“tak cukup dengan materi, tapi juga butuh cinta, butuh teladan, butuh agama.” ini adalh hal yg terpenting utk tdk sampai terlupakan, krn modal utama yg di gunakan sang anak bertumbuh kembang adl pendidikan di lingkup klg, smg kt bs mjd ortu yg baik, amin.
saya pernah menjadi buah hati yg mengecewakan… semoga tak terulang lagi
Selain keluarga dan sekolah . Pendidikan jalanan sangat berpengaruh. Untuk menjaga sang buah hati untuk terus terjaga kondisi keimanannya. Maka dasar agama mutlak diperlukan. Untuk itu kegiatan-kegiatan positif .Seperti minat dan bakat serta ketrampilan menumbuhkan kesadaran untuk beragama dengan benar .Insya Allah akan menjalani kehidupan yang lurus. salam sehat
thnks ilmunya sob bermanfaat bagi pembaca khususnya bagi saya sendiri..
teruslah membuat artikle yang bermanfaat semangat happy blogging..
bila berkenan kita tukeran link yahh..kalau mau comment di bloggku yah.. thnks sebelumnya
untuk para ibu dan ayah, mendidik anak itu pertama ngaji dulu…baru kalau sudah kuat aqidah-nya, silahkan sekolah…dijamin deh pasti sukses…kalau langsung sekolah…wah berabe dah…udah mah pelajaran agamanya cuma secuail…mending bentuk dulu akhlaknya aqidahnya, biar nanti disekolah bisa pinter….jangan ragu… “jebloskanlah” putra putri Anda ke pesantren….
yups betul sekali,, lagi dag dig dug melihat pertumbuhan si buah hati,, lingkungan diluar rumah sangat banyak pengaruhnya,,
betul sekali sobat makanya sekarang aanak aku saya masukkan di tk Islam
mangtaffff
lamjutkan kang
hmmm,,,,
cerita yang bagus dan menyentuh
metmalam sobat…
semoga kita semua sanggup membimbing dan mendidik si buah hati dg cinta dan kasih sayang, mas achoey.
he,eh, tak semudah mengasuh anak macan…….. jadi ngeri ini….
semoga tak terjadi lagi ya
Membesarkan Anak, memerlukan kombinasi, nurani (kasih sayang), ketegasan dan penunjang berupa materi.
Banyak orang tua hanya menghamburkan uang kepada anak, tetapi tidak pernah menghamburkan kasih sayang.
betul sekali, Bang. Yang jauh lebih penting adalah kasih sayang dan suri tauladan
semoga kita semua bisa jauh lbh baik dari cerita di atas,,dan smga bisa jdi pembelajaran
Asslm,,,,
Kunjungan Balik nih Sob,
Thanks ya udah Berkunjung ke Rumahku…hehehe
Rumahnya (Blognya…red) tambah oke aja,
Gak bosen deh saya sempatkan untuk Datang ke Sini lagi..!!
Sob saya punya Blog baru nih,
Sempatkan untuk berkunjung ya, ini Rumah Baruku…
http://obatjerawatalami.blogspot.com
http://bajumuslimmuslimah.blogspot.com
http://pakaianbajupengantin.blogspot.com
Salam Blogger, Sukses Menjalin Silaturahmi….
Wassalm,,,,
aq mngis membacanya…semoga anakku perempuan & kita semua…..dalam lindungan Allah SWT…
Nauzubillahiminzalik….. mudah2an anak manis kita tidak menjelma seperti yang anda sampaikan… Amien…..