Biar nyambung, sebelum baca cerpen ini, baca dulu cerpen sebelumnya yakni Bukan Cinta Dunia Maya dan Mantan Play Boy. Baru deh lanjut baca.
———————————————————————————————–
Ali sedang bingung, begitu pula sosok Elvina, gadis yang telah menaklukan hatinya. Kedua orang tua mereka meminta bahwa mereka harus bertemu dulu untuk bisa memastikan bahwa cinta mereka bukan cinta monyet atau cinta gorila. Ya, Ali dan Elvina harus kopi darat.
“Pertemuan ini penting dilakukan agar kalian bisa memastikan apakah kalian benar-benar yakin akan meneruskan ke jenjang pernikahan. Atau cuma cinta di fesbuk belaka.”
Begitulah apa yang disampaikan orang tua Ali juga orang tua Elvina kepada masing-masing anaknya. Padahal Ali dan Elvina sudah sepakat tak akan mempermasalahkan fisik diantara mereka, mau bentuk tubuhnya bulet, lonjong atau bahkan segi lima. Hati mereka telah cenderung dan mereka sudah meyakini bahwa mereka berdua adalah jodoh.
Esok, Ali dan Elvina sepakat bertemu di Legok Nyenang, Bandung. Supaya mempermudah, Ali meminta Elvina mengenakan pakaian dan jilbab berwarna merah menyala. Begitu pun Elvina, dia menyarankan agar Ali tak lupa pakai celana. Hehehe, maksudnya pakai celana berwarna ungu dan baju berwarna pink seperti warna kebesaran Mie Janda. Dan mereka pun sepakat.
Rencananya, dari terminal Legok Nyenang itu, Ali dan Elvina akan naik bis bareng menuju Ciamis. Wah, padahal Elvina tuh belum pernah sedekat itu dengan lelaki, harus ada orang ketiga diantara mereka, karena jika tidak, maka pasti yang ketiganya syaetan, entah bernama si ehm ehm atau si prikitieewww.
—————————————————————————————————-
Ali telah tiba di terminal Legok Nyenang. Lengkap dengan baju pink dan celana ungu sesuai permintaan Elvina. Di dadanya terpampang papan nama ukuran 25 x 60 cm yang dikalungkan ke lehernya. Tertulis di papan nama yan terbuat dari karton warna kuning itu sebua nama, “Ali Sopan Anak Kolokan”. Ali berjalan kian kemari mencari Elvina. Tapi dia lupa seperti apa wajah Elvina yang sebenarnya. Foto yang tersimpan di Fesbuk tak ada yang tampak muka, karena kalo gak terhalang tangan ya terhalang buku lah tuh wajah Elvina. Hanya ada satu cara, dia berdiri di tengah-tengah terminal, mematung tak bergerak. Pikirnya, entar Elvina kan melihat lantas memanggilnya.
Tiga puluh menit Ali mematung, sampai akhirnya seorang gadis berjilbab dan berpakaian merah memanggil namanya. Segera dia arahkan wajahnya ke sumber suara lembut tadi. Dan betapa terkejutlah Ali, tampak di dekatnya seorang gadis berjilbab dan berpakaian merah dengan gigi gondrong dan tahi lalat di ujung hidungnya. Sebenarnya Ali gak berani memastikan apakah itu benar-benar tahi lalat atau bukan, tapi yang pasti warnanya hitam dan ukurannya sebesar tomat bangkok.
Ali mengelus dadanya, lalu beristighfar. Terbayang kata-kata Arman yang seringkali mengatakan bahwa foto di fesbuk seringkali menipu, karena itu pekerjaan photoshop. Lagi-lagi Ali beristighfar, tapi kali ini dia beristighfar bukan karena ngeri melihat wajah gadis tadi, tapi dia merasa bahwa dirinya telah bersalah. Menghina ciptaan Allah. Ali teringat kembali apa yang telah dia katakan pada Elvina saat chating malam kemarin, bahwa fisik bukan lagi patokan dan tak akan mempengaruhi hingga niat menikah pun dibatalkan.
“Maafkan Vin, A tadi kaget. A seneng akhirnya kita bersua juga.” Suaranya berat, terlihat dia mengatur nafas mencoba ikhlas. Ikhlas untuk meneriman Elvina meski seperti ini keadaan wajahnya. Kebesaran jiwanya benar-benar sedang diuji, dan dia memilih untuk berserah, ikhlas pada keputusan Allah yang telah mempertemukannya dengan gadis bergigi gondrong dan tahi lalat sebesar tomat di hidungnya.
“Vin?” Gadis itu mengernyitkan dahi. “Aku bukan Vin, namaku Tuti Tatitut.
Ali kaget, lantas dia pun bertanya. “Jadi kamu bukan Elvina Faviliun?”
“Bukan, aku tadi menyebut namamu karena aku membacanya di dadamu. Kan aku sedang latihan membaca supaya lulus SD ku kali ini tak meleset lagi.” Tuti menjawab dengan nyaris tanpa beban. Padahal jika Tuti tahu, betapa kehadirannya membuat Ali sempat meratapi nasib meski toh dengan berat hati akhirnya ikhlas juga.
Kontan Ali meloncat dan berteriak, “yes, alhamdulillah”.
Lagi gebira-gembiranya Ali, terdengar suara lembut mengucap salam dan menyebut namanya. Ali mengarahkan tatapannya ke sumber suara.
“Elvina?”
“Ya, ini Vina.”
Ali tak bisa berkata-kata. Dialihkan pandangannya dari gadis cantik berkerudung dan berpakaian merah yang berdiri di hadapannya. Tak boleh terlalu lama, karena kecantikannya amat mempesona dan bisa membutakan jiwanya.
“Yuk kita pulang, bis ke Ciamis sudah hampir berangkat.” Gadis itu kembali berkata.
“Yuk.” Ali pun menjawab singkat lalu bersama Elvina menaiki bis Padiman jurusan Bandung-Ciamis. Di dalam hatinya terlantun tiada henti, “alhamdulillah yes, alhamdulillah yes, alhamdulillah yes”.
================================================
Anda penasaran dengan kisah mereka di Bis Padiman? Tunggu episode berikutnya!





Bisa jd novel ni a’.. Kutunggu novelnya terbit aja a’…
(maaf) izin mengamankan KEDUA dulu. Boleh kan?!
Wah masih bersambng terus. Bisa-bisa jadi novel online, nih
ditunggu kelanjutannya
widiw, enak kopdaran…
*dah lama gak kesini uey, salam hangat neh sobat
Kau semakin berkibar, sahabatku… Aku salut dgn semangat menulismu..
Moga sukses selalu..
salam, met weekend,
di tunggu novelnya
TERIMAKASIH ATAS INFORMASI DAN TULISANNYA, CUKUP BERMANFAAT BUAT BACAAN/REFRENSI UNTUK REGENERASI. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA DARI KABUPATEN PAKPAK BHARAT DI GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com
hihihi..baju pinks celana un9u..
**nda san99up bayan9in **
lanjut ke sambun9anya….>>>>
hmm
kopi darat mendarat bagus juga ceritanya
tapi lebih bagus kalo kopi darat melayang
heheh