SMS itu telah dibacanya. Dia tersenyum, lalu dia pun menelepon pengirim SMS tadi. Berawal dari ucapan permohonan tuk saling memaafkan hingga akhirnya terkuak sebuah kenangan.
“Dik, buat A, kakakmu itu adalah salah satu sosok terbaik dalam hidup A. Dia wanita yang sabar dan rendah hati. Kecantikannya tak lantas membuatnya melenakan diri dalam keangkuhan. Tak pernah pula kekayaan orang tua kalian menjadikannya manja, bahkan dia tumbuh menjadi sosok yang mandiri. Menjadi sosok yang bersinar terang. Dia adalah intan permata, dia istimewa.”
“A, dia bisa menjadi lebih baik dari semula juga karena A.”
“Tidak dik, A hanya menjadi bagian biasa saja dari penggalan perjalanan hidupnya. Justru A yang mendapatkan banyak pelajaran dari kakakmu itu. Pelajaran tentang kecantikan fisik dan hati adalah kombinasi yang terindah. Kombinasi istimewa, harapan dari setiap lelaki yang berharap kesempurnaan, dan ini langka. Hanya lelaki bodoh saja yang rela melepaskannya.”
“Lalu kenapa A meninggalkan dia. Padahal susah payah dia belajar menyukai karya sastra, dengan semangat dia menjalani hidup di jalan sahaja, dan yang terpenting, dia sampai berani menolak banyak lelaki demi mendapatkan cinta A.” Terungkap dari nada bicaranya bahwa Riska agak marah, kecewa.
“Dik, itu karena A memang lelaki bodoh. Lelaki yang tak puas dengan apa yang dimilikinya. Lelaki yang senang berpetualang untuk mencari sensasi yang tak bertepi.”
“Ya, A memang jahat.” Riska terisak.
“Dik sudahlah, ini semua masa lalu. Tak usah dibahas lagi, toh kakakmu telah mendapatkan yang terbaik.” Ali menarik nafas panjang.
“Tahukah A, susah payah kakakku melupakanmu. Sejak saat kau putuskan, dia selalu berharap kau kembali padanya. Hingga akhirnya dia menyerah dan menerima keputusan mama yang menjodohkannya. Dia menikah dengan lelaki yang sama sekali bukan impiannya. Dia terus dan terus belajar tuk bisa mencintai suaminya. Butuh waktu dan kesabaran untuk bisa melakukan itu.”
“Dik, A tahu, tapi ini adalah jalan hidup, takdir Tuhan.”
“Ya, A mudah mengatakan ini semua takdir. A tidak tahu betapa sakit yang kakakku rasakan dalam menjalani proses kehidupannya.” Riska kembali terisak, dia berusaha mengatur nafasnya. Suasana menjadi hening. Hingga beberapa saat kemudian Riska kembali berkata.
“A, maaf tadi Riska lepas kontrol. Maafkan Riska ya, Riska terlalu terbawa emosi.”
“Adikku, gak apa-apa. A mengerti perasaanmu. A mohon maaf karena tidak mampu menjadi kakak yang baik untukmu. Tapi A juga berharap, kau mampu mengambil hikmah dari apa yang A dan kakakmu alami. Oh ya, satu hal lagi. Jangan terlalu mencintai manusia melebihi cintamu pada Allah.”
“Ya A, kakak juga ngasih saran yang sama padaku. Makanya aku memutuskan tuk tidak pacaran saja, nanti pacarannya setelah menikah. Aku takut kalau pacaran entar dapatnya cowok seperti A.” Riska tersenyum kecil
“Tuh kan. Tahu gak, kalau A tuh sekarang dah berubah. A gini-gini dah memutuskan tuk tak pacaran lagi. A pengen nikah saja.”
“Yang bener A, ya udah nikah sama aku aja.” Riska kembali tertawa. “Oh ya A, sejak kelahiran bayinya, kakakku kini dah berubah, lebih tenang hidpunya. Dia terihat begitu dekat dengan Tuhannya, sayang sama suaminya. Orang tua kami senang melihatnya. Alhamdulillah.”
“Alhamdulillah dik, A yakin kakakmu itu memang istri yang sholehah.”
“Oh ya A, puisi yang kau kasih saat nembak kakakku, kini ada padaku lho.”
“Hahhh.”
“Maaf A, aku dipanggil mama. Assalamualaikum.”
Pembicaraan itu pun diakhiri. Ada sesuatu di sana, yang membuat Ali kembali mencoba mengingat. Ya, puisi itu. Ehm.
“Jangan-jangan, Riska kau …. Ah tidak, tidak mungkin.” Gumamnya.
—————————————————————————————–
“Riska tuh suka banget dengan yang namanya puisi, dan puisi yang dari A dulu itu, menurut dia adalah puisi terindah yang pernah dia baca. Dia memintanya untuk dijadikan koleksi.”
“Oh, syukurlah jika hanya sekedar suka puisinya aja.” Ali merasa tenang.
“Ya, dia suka akan puisi itu, dan dia sangat mengagumi penulisnya.” Rina menarik nafas panjang. “Sejak SMA dia berharap memiliki pasangan yang puitis dan romantis. Melihat aku memilikimu saat dulu, dia cemburu. Itu karena saat itu dia masih remaja. Tapi kini A, dia telah dewasa, dia telah lulus kuliah.”
“Ehmmm.”
“A, adikku yang sekarang bukanlah adikku yang kau kenal dulu. Dia telah tumbuh menjadi gadis dewasa, dia telah mandiri. Kini dia mengelola sebuah toko busana muslim dan sebuah café baca. Tahukah A, café baca itu direalisasikan dari ide Aa, masih ingat?”
“Ehm, ya A ingat. Hehe, A sendiri malah belum mampu merealisasikannya.”
“Ya, itu karena A terlalu banyak ide, jadi tidak mungkin ide itu direalisasikan berbarengan kan, yang penting ide kedai mie sudah berjalan.”
“Ah kau memang paling bisa Rin.” Ali tersenyum.
“Ya jadi gimana A?” Rina mengejutkan Ali dengan sebuah pertanyaan.
“Gimana apanya?” Perasaan Ali mulai gak enak.
“Tentang Riska.” Rina to the point.
“Riska gimana?” Ali berlaga bloon, padahal jantungnya berdegup kencang, gugup. Dalam hati dia melafalkan kata “tidak mungkin” dengan berulang.
“Riska kini jilbaber lho, ayo apalagi yang kurang? Cantik iya, cerdas iya, mandiri iya.”
“Rin, sudah jangan dilanjutkan!” Ali memotong.
“A, kau memang masih seperti dulu, sulit sekali ditaklukkan. Kau selalu membuat banyak gadis penasaran. Sulit menebak gadis seperti apa yang kau inginkan. Bahkan terkadang kau itu menjengkelkan.” Rina tertawa kecil.
Ali garuk-garuk kepala. Benar juga apa yang dikatakan Rina. Terkadang Ali sendiri tidak mengerti dengan permintaan hatinya. Sementara, tanpa hati dia lebih memilih tidak. Hati benar-benar dia hargai. Ya, untuk masalah memilih pasangan, dia menyerahkan sepenuhnya pada apa yang dia sebut dengan “kecendrungan hati”. Maka dalam doanya dia selalu memohon pada Allah untuk diberikan kecendrungan hati pada yang terbaik.
“Rin, udah dulu ya, A dah mau berangkat ke Bogor.” Ali mencoba mengakhiri pembicaraannya lewat telepon bersama Rina.
“Deuh yang dah betah di Bogor.” Rina mencoba bercanda. “Oh ya A, ada yang mau bicara nih.” Terdengar Rani membisikkan beberapa kata, lalu terdengarlah celoteh imut.
“Om, hati-hati ya di jalan!” Berhenti sejenak. “Vio sayang Om.”
“Vio, Om juga sayang Vio, makasih ya sayang. Jaga mamah ya!”
“Ya Om.” Vio menjawab dengan lantang, hehehe, padahal dia baru berusia dua tahunan.
“Alhamdulillah Rin, kau telah dikaruniai buah hati yang cerdas dan gagah. Didik agar senantiasa menjadi anak yang soleh ya! Salam buat suamimu.”
“Insyaallah A.”





(maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
Wow, mantan bisa jadi ipar, nih?!
—————————————————————————–
Hehe, memang Raja Pertamax.
Hihihi, lucu ya ceritanya
Oleh: alamendah on 4 November 2009
at 7:05 pm
aq ingin jadi yang pertamax.. tapi alamendah selalu lebih petamax..
ngalah deh sama yang muda..
Oleh: Dhia on 5 November 2009
at 8:32 am
mantaf, kang!
—————————————————–
Hatur nuhun Kang
Oleh: Farijs van Java on 4 November 2009
at 7:35 pm
[...] Puisi Cinta yang Mempesona « Sang Sederhana [...]
Oleh: Gimana Si Cara Ngunci Komputer? :: Computers and Equipment on 4 November 2009
at 7:48 pm
kayaknya nih kisahnya bang Achoey…
senangnya jadi lelaki yang diidam-idamkan wanita solehah…
———————————————————————–
Hehehe, ini fiksi bro. Ya, moga aja kita menjadi lelaki idaman
Oleh: Abdi Jaya on 4 November 2009
at 11:15 pm
kisah yang inspiratif
————————————
Makasih sobat
Oleh: sunarnosahlan on 5 November 2009
at 7:51 am
berkunjung…:-)
————————————–
Bunda, kangen
Oleh: Dhia on 5 November 2009
at 8:31 am
walaupun masa lalu kadang tdk bisa dilupakan dnegan mudah
Salam
——————————————————————-
Salam
Yup sobat, terkadang begitu
Oleh: Aribicara on 5 November 2009
at 10:16 am
Kembali ku baca cerita ini setelah ku baca sebelumnya di FB, dan membuatku semakin penasaran dengan sosok Ali (itupun kalo sosoknya memang ada, xixixixii)
Semoga Kau berlabuh pada orang yang tepat, Amin…
Chayooo A’…
———————————————————————————–
Hehe, Vie kan pembaca setia kisahnya Ali d FB. Tapi banyak teman blogger yg blm baca, jd A publish lg d blog.
Doamu indah, Amin!
Oleh: Vie on 5 November 2009
at 10:37 am
Jatuh cinta lagi ya kang … berdoa yok !!
————————————————-
Yuk berdoa dengan khusyu
Oleh: Rindu on 5 November 2009
at 10:47 am
mantaps kang…..
lanjutkan….
————————————
makasih sobat
Oleh: tuyi on 5 November 2009
at 3:27 pm
selalu dan selalu
postingan AA bikin hati ini gemana getooo….
maaf aa baru mampir lagi…
kapan aa balik posting lagi..??? kok aku gk tau yaaa??
——————————————————————–
Ah putri, bisa aja
A posting lg sejak 1 Nov 09. Tp jalan2nya ya baru2 ini
Oleh: yangputri on 5 November 2009
at 3:30 pm
ceritanya mantab kang
———————————————
makasih Angel
Oleh: an9el on 5 November 2009
at 3:40 pm
Riska,Rani then ..
awalan “R” neh sekaran9,nun9uin awalan yan9 laen
the real story yah A …
———————————————————–
Eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee
Oleh: wi3nd on 7 November 2009
at 4:20 pm